Saturday, January 2, 2016

Selamat Tahun (dan Resolusi) Baru

Selamat tahun baru. Kalian menghabiskan malam tahun baru dimana? Saya menghabiskan waktu di sebuah tempat biasa, tak istimewa, tapi dengan orang-orang yang istimewa.

Tapi dalam perjalanan ke tempat itu, saya melewati jalanan yang padat. Cukup waktu untuk saya bisa menyisir pemandangan di sekitar saya. Perkotaan padat dengan pusat perbelanjaan yang menjulang dimana-mana. Di depan pagarnya lewat seorang ibu berbaju lusuh menarik gerobaknya dengan lemah. Bocah kecil berdiri di dalam gerobak. Wajahnya bahagia melihat banyaknya lampu dan kembang api di sekitarnya. Tapi apa ibunya tahu bahwa ini adalah malam tahun baru? Kenapa dia tidak sebahagia anaknya?

Beberapa meter setelah mereka, ada seorang lelaki paruh baya berjalan dengan langkah ringan, membawa beberapa kantong belanja dari merk-merk baju ternama. Wajahnya bahagia. Tapi dia sendirian. Saya bertanya-tanya. Oh mungkin dia terpisah dari keluarganya, mungkin sedang tugas di Jakarta, dan memanfaatkan pesta diskon malam tahun baru untuk belanja, sebagai hadiah atau oleh-oleh ke anak-istrinya. Dia bahagia walaupun sendirian. Iya, kan?

Sebegitu beragamnya orang-orang melewatkan malam tahun barunya. Tapi saya sendiri juga bertanya, mengapa tahun baru harus dirayakan? Apa bedanya dengan ganti bulan? Atau ganti hari? Mengapa bumi yang kembali ke titik orbit yang sama harus dirayakan? Yang lebih lucu lagi, mengapa resolusi harus dibuat menjelang tahun yang baru?

Ah sudahlah, toh saya pun membuat resolusi untuk 2016. Tapi saat menulis ini, saya bukan memikirkan strategi untuk mencapai resolusi 2016 saya. Saya justru menyesalinya. Mengapa saya harus membuat resolusi itu? Mengapa menggapai sesuatu harus menunggu tahun yang baru? Dan mengapa menjadi orang yang lebih baik harus di tahun ini? Mengapa tidak di hari yang kemarin-kemarin?

Biarlah pertanyaan-pertanyaan ini tidak terjawab. Sama seperti pertanyaan saya tentang ibu-ibu tadi. Kan mungkin saja ibu tadi tidak bahagia karena resolusi 2015-nya belum tercapai. Atau mungkin karena dia sedih tidak bisa menghabiskan malam tahun barunya dengan cara seperti kita-kita ini. Siapa yang tahu? Bapak-bapak yang sendiri itu juga belum tentu belanja untuk keluarganya. Bisa saja untuk selingkuhannya mumpung dia sedang berada jauh dari keluarganya. Atau mungkin juga dia belanja untuk dirinya sendiri, menyenangkan dirinya sendiri di malam tahun baru karena dia belum berkeluarga.

Semuanya masih kemungkinan. Maka sekarang tugas kita hanya menjawab pertanyaan, mungkinkah resolusi 2016 kita tercapai? Kapan? Kita sendiri yang menentukan. Rasa penyesalan saya tadi cukup menyemangati untuk membuat strategi. Selamat menjawab!

Wednesday, December 2, 2015

Menimba untuk Menyiram


Kemarin, seorang teman ingin berkuliah di luar negeri. Oh, kemarinnya lagi juga. Minggu lalu, sebulan yang lalu, juga ada teman yang ingin berkuliah di luar negeri. Sementara hari ini saya duduk di atas pipa merah, di area terbuka kantor saya, membuang waktu untuk menulis ini. Dan saya belum ingin bersekolah di luar negeri. Mungkin saya malas mendaftar beasiswa, mungkin saya tidak ingin menunda pernikahan, mungkin saya tidak ingin terlalu jauh dari Ibu saya, atau mungkin hanya karena saya terlalu pesimis untuk bisa.
Tapi alasan yang sebenarnya, saya belum tahu harus berbuat apa untuk negeri ini sepulang saya dari luar negeri. Di otak saya, menyandang gelar magister lulusan luar negeri adalah beban untuk berbuat lebih pada negeri ini, lebih dari mereka yang belum berkesempatan menikmati tingkatan ilmu itu.
Dian Sastro pernah bilang, seorang Ibu Rumah Tangga tetap harus berpendidikan tinggi untuk mendidik anak-anaknya. Sementara Ibu saya pernah bilang, "Kalau kamu masih belum bisa pisahin sampah organik dan anorganik, ga usah sekolah tinggi-tinggi. Ga ada gunanya."
Saya menangkapnya, untuk berbuat lebih, tidak perlu sekolah terlalu tinggi. Untuk peduli pada lingkungan, tidak perlu menjadi sarjana. Salah? Iya. Tapi juga ada benarnya. Kita tidak perlu gelar di nama kita untuk mulai berbuat baik dan benar.
Beberapa teman saya yang berkesempatan (atau berencana) kuliah di luar negeri pernah saya tanyai, apa yang akan mereka lakukan sepulang dari sana? Apa tujuan utama mereka? Kebanyakan menjawab, menjadi dosen. Ada juga yang menjawab, agar mendapat pekerjaan dan gaji yang lebih baik dari mereka yang hanya bergelar sarjana. Jawaban mereka menambah pertanyaan yang ada di otak saya, tapi tak akan saya ucapkan di mulut saya ke mereka. Saya menghargai pilihan mereka. Mengapa mendidik orang lain butuh kalimat 'nanti setelah lulus kuliah magister dari luar negeri' segala? Mengapa harus meninggalkan negeri ini bertahun-tahun untuk membuat perubahan pada negeri ini? Apakah perubahan yang mereka lalukan nantinya lebih besar dari yang berpendidikan lebih rendah? Mengapa mereka tidak memulainya lebih awal? Mungkin jawabannya adalah, lulus program magister adalah syarat menjadi dosen. Baiklah. Lalu apakah ilmu yang akan mereka transfer hanya ditujukan pada mahasiswa? Bagaimana remaja-remaja yang seumur mahasiswa tapi tidak mampu untuk membayar perkuliahan bisa mendapat ilmu juga? Apa mereka tidak berhak karena tidak punya uang?
Terlalu banyak anak pertanyaan saya, bukan hanya tentang kuliah di luar negeri, tapi tentang pendidikan yang lebih tinggi, secara umum. Apalagi untuk Dian Sastro, apakah seseorang berpendidikan tinggi hanya berkewajiban untuk mendidik anak kandungnya dan anak-anak yang membayar uang sekolah? Bukankah kata Anies Baswedan, pendidikan adalah gerakan? Jadi kita semua harus bergerak, kan? Bukan hanya yang sarjana atau profesor?
Itu tadi hanya pertanyaan-pertanyaan bodoh saya yang sok peduli ini. Tulisan ini hanyalah tameng atas ketidakmampuan (atau ke-belum-siap-an) saya menimba ilmu lebih jauh dan lebih tinggi. Saya tahu mereka hebat, saya salut pada mereka. Saya tahu tidak gampang meraih beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Saya hanya berharap mereka akan membuat negeri ini lebih baik ketika mereka pulang nanti. Saya tahu mereka mampu. Dan memang harus. Jangan sampai mereka menjadi saya yang hanya duduk di atas pipa merah, menulis ini, dan sebentar lagi akan kembali ke ruangan, bekerja demi menerima upah bulanan yang tak begitu berarti untuk dibagi ke yang membutuhkan. Kemudian beralasan terlalu sibuk untuk menjadi relawan pendidik anak-anak tidak mampu. Semoga saya tidak betah dengan keadaan ini dan segera berbuat sesuatu. Setidaknya, punya rencana matang.


Thursday, August 14, 2014

Zalora Review

Beberapa hari yang lalu, saya sedang butuh-butuhnya dompet karena dompet yang dipakai sejak awal masa kuliah sudah mulai rusak dan berakhir di tempat sampah kantor. Agak susah mencari dompet sejenis dengan harga terjangkau dan asli di mall daerah Jakarta maupun Surabaya, apalagi terkendala waktu yang sangat terbatas. Pulang kantor paling cepat jam 11 malam, weekend penuh dengan tugas sebagai (calon) ibu rumah tangga sekaligus anak muda yang (dituntut) gaul di coffee shop bersama teman-teman. Akhirnya, satu-satunya cara untuk membeli dompet ya online shop. Sempat membuka Lazada, saya tidak yakin dengan berbagai review dan track record-nya, apalagi beberapa barang disediakan oleh pihak di luar Lazada. Takut kecewa ketika barang diterima, takut terlalu lama pengirimannya, atau ternyata stock habis dan uang kembali. Masalahnya dompet adalah hal penting dan saya butuh dalam waktu cepat.
Akhirnya saya coba buka Zalora. Satu inkubator dengan Lazada, hanya saja yang dijual disana adalah barang premium dan stock-nya lebih pasti, langsung dari Zalora sendiri, kecuali untuk barang-barang sangat berkelas yang harus pre-order. Tidak lama mencari, saya memilih dompet hitam dari Huer dan kemeja denim dari Inner/Circle ukuran S. Foto yang ditampilkan sangat detail hingga bagian dalamnya. Hanya saja, ada beberapa produk yang tidak dijelaskan ukuran detailnya. Pendaftarannya cukup mudah, dan saya memasukkan alamat kantor untuk penagihan sekaligus pengiriman. Saya memilih untuk Cash On Delivery (COD) agar saya merasa lebih tenang tanpa membayar lebih dulu. Jadi kalau ternyata datangnya lama pun, uang masih ada di tangan saya.
Ternyata, prosesnya sangat cepat. Esoknya di jam kerja, kurir Zalora datang ke lobby dan menelpon saya. Sebelumnya juga kita mendapat pemberitahuan bahwa barang kita sudah masuk proses pengiriman, jadi kita bisa menunggu di kantor dan mempersiapkan uangnya terlebih dulu. Setelah datang, barang bisa dicek di tempat, di hadapan kurirnya. Jika kita tidak suka dengan barangnya, ada form untuk mengembalikan barang. Ditambah lagi, ada kupon diskon yang diselipkan di dalamnya. Padahal saat saya membeli dompet itu pun, saya menggunakan kupon diskon yang masuk ke e-mail saya untuk member baru senilai Rp 75.000,- berlaku untuk barang diskon pula. Jelas, ini jauh lebih menyenangkan daripada saya harus berkeliling mall, mencari barang yang termurah, dan asli. Karena semua yang dijual di Zalora adalah barang original, beberapa ada yang didiskon, gratis ongkos kirim pula. Jadi kalau boleh saya review secara pribadi, ada beberapa keuntungan untuk belanja di Zalora. COD (kaluapun dikirim, bebas ongkos kirim untuk nominal tertentu, cek disini), cepat sampai, bisa live chat dengan costumer service-nya, ukuran dan foto jelas, dan jika (hanya karena) kita tidak suka dengan barangnya, bisa dikembalikan. Sangat memuaskan untuk pengalaman pertama belanja di online shop.
Saran untuk kalian yang mau belanja di online shop semacam Zalora, jangan lupa cari kode diskon di internet dan selalu baca terms of use-nya! ;)

Friday, June 27, 2014

Oleh-Oleh dari Dolly

Genap seminggu saya pulang dari Dolly, lokalisasi terbesar di Asia Tenggara yang 18 Juni 2014 kemarin dideklarasikan penutupannya oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini di Islamic Center Surabaya.
Jumat siang minggu lalu, saya masuk ke Dolly dengan tim Sudut Pandang, MetroTV, industri media yang membayar saya untuk mengerjakan hobby saya. Produser, presenter, tiga kameramen, dan dua driver dengan dua mobil. Dari ujung jalan, Dolly memang ditutup. Ada portal yang dijaga oleh dua pria berseragam polisi dan belasan anak muda yang tergabung dalam FPL (Front Pekerja Lokalisasi). Setelah menjelaskan bahwa kami awak media dan sudah ada janji dengan Pokemon (Saputra), Ketua FPL, kami pun dipersilahkan masuk.
Sebelum mencapai posko FPL, kami melewati tiga portal dengan penjagaan yang sama ketatnya, padahal jarak posko dan ujung jalan tak sampai satu kilometer. Jalanan itu sudah seperti kota mati di siang hari. Salah satu kameramen saya berkata, "Suasananya panas. Siap-siap aja kalau nanti di sini tiba-tiba aparat bentrok sama FPL, kita bukan syuting Sudut Pandang, tapi Breaking News."
Setibanya kami di posko yang sederhana, kami dipersilahkan menunggu Pokemon. Tak lama, datang beberapa wartawan lain dari beberapa media yang berbeda. Ya, warga Dolly mempersilahkan media meliput Dolly dengan bebas selama 19-20 Juni 2014 untuk membuktikan bahwa Dolly belum tutup dan mereka siap melakukan perlawanan. Setibanya Pokemon, Ia bercerita bahwa kemarin ada puluhan wartawan yang meliput Dolly, baik dalam maupun luar negeri. Namun ada beberapa wartawan yang membayar PSK agar PSK tersebut mengaku bahwa Ia setuju dengan penutupan Dolly. Alhasil, PSK tersebut diusir dari Dolly dan warga mengecam aksi wartawan tersebut.
Tujuan tim kami memang untuk melakukan syuting dengan warga Dolly tentang sikap mereka pasca penutupan. Tayangan ini pun tayang besok, Sabtu, 28 Juni 2014, pukul 20.05 WIB di MetroTV. Tapi sebenarnya saya melakukan riset pribadi di daerah ini.
Hampir sore, saya, produser, dan presenter berkeliling Dolly, masuk ke salah satu wisma, atas seizin Pokemon dan pemiliknya. Ada geliat kehidupan normal di dalamnya. Ada juru masak yang sedang bekerja di dapur, memasak makanan porsi besar untuk mengisi perut para pejuang penolak penutupan lokalisasi Dolly garis depan. Beberapa PSK (termasuk narasumber kami) pun masih tertidur pulas setelah semalaman menerima tamu. Jam tidur mereka pasti sudah terbalik, seperti kelelawar. Di luar wisma, ada beberapa PSK sedang berlatih upacara bendera. FPL merencanakan upacara pengibaran bendera untuk menunjukkan pada masyarakat di luar sana bahwa Dolly merdeka. Cukup lama saya duduk mengamati mereka. Tak sedikit yang tak hafal lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta sehingga dibantu teks sambil menghafal pelan-pelan. Salah satu dari yang melatih mereka mendekati saya, dan berkata, "Ya maklum lah Mbak, ga sedikit dari mereka yang lulus SD aja enggak.."
Seolah-olah Ia mengerti apa yang saya pikirkan. Saya pun hanya tersenyum dan terus memperhatikan. Ada semangat yang terlihat dari mereka untuk melakukan hal-hal kecil demi penolakan penutupan lapangan pekerjaan mereka. Tidak ada perasaan terpaksa yang terlihat. Mereka tertawa terbahak-bahak ketika salah aba-aba. Khidmat ketika menyanyikan lagu wajib. Terakhir, saya baru tahu kalau mereka tidak hanya menghafalkan dua lagu wajib itu. Di lembaran lirik lagu, saya melihat ada beberapa lagu perjuangan yang biasa dinyanyikan saat demonstrasi, termasuk Darah Juang.
Proses syuting dengan PSK, mucikari, dan pedagang kaki lima di Dolly pun dimulai. Rasanya tak perlu saya ceritakan tentang ini karena kalian bisa menontonnya besok malam.
Malamnya, saya berkumpul dengan puluhan awak media lainnya berkeliling Dolly (yang buka seperti biasa), dipandu oleh Pokemon. Ada teriakan-teriakan dari warga yang terdengar sayup-sayup di tengah dentuman musik dangdut remix.
"Ngomongin moral makanya mau nutup Dolly? Lha wong Menteri Agama kita aja ga bermoral!"
"Deklarasinya di Islamic Center, jadi yang tutup Islamic Center, Dolly tetep buka."
"Dolly tetep buka, Mbak!"
Semacam itulah.
Saya masuk gang-gang kecil yang dipenuhi dengan perempuan-perempuan yang rata-rata berusia 25 tahun duduk manis di sofa, menutupi wajahnya dengan koran atau masker, membiarkan para kuli tinta mengambil gambar mereka dari sisi luar 'akuarium'. Ya, beberapa wisma di Dolly memang sudah seperti akuarium, jendela depannya memiliki kaca yang lebar untuk memudahkan para tamu menikmati kemolekan tubuh para PSK yang duduk di sofa panjang di dalamnya. Di sepanjang gang, berjajar wisma yang jadi satu dengan rumah warga, pedagang kaki lima yang menjual rokok, kondom, dan antibiotik, serta rumah-rumah yang lantai bawahnya sudah dimodifikasi khusus untuk tempat parkir sepeda motor. Masuk ke gang yang lain, ada wisma yang jadi satu dengan tempat karaoke, kafe-kafe dengan musik nyaring yang menyediakan bir, juga tempat-tempat pijat. Tak heran jika banyak media cetak menuliskan bahwa perputaran uang di Dolly mencapai satu milyar rupiah dalam semalam. Lokalisasi bukan hanya tentang prostitusi, tapi di Dolly, ada ribuan orang menggantungkan hidupnya dari perbuatan yang dianggap amoral ini.
Setelah semua pandangan mata, pendengaran saya yang merangkum potongan cerita warga sekitar, saya tetap setuju lokalisasi ini ada. Bukan tentang sisi humanis yang tersentuh membayangkan ribuan orang kehilangan pekerjaan, bukan juga tentang anggapan bahwa PSK justru lebih baik dikumpulkan dalam satu lokalisasi daripada harus tersebar di penjuru kota, melainkan tentang moral. Bukan moral para PSK atau mucikari, tapi moral para penggunanya. Menurut saya, yang juga diiyakan oleh Zoya Amirin, psikolog seksual yang saya kenal kemarin, yang harus diatur adalah tamu yang datang. Biarlah PSK tetap ada, tapi harus ada efek bagi para tamunya. Pemasangan CCTV di Dolly sudah benar. Jika perlu, dibuatlah sebuah lokalisasi yang untuk masuk kesana harus mendaftar dulu, meninggalkan KTP, dan hanya satu pintu. Secara tidak langsung, moralitas seseorang dapat diukur dari sini. Untuk menghindari penyebaran HIV, harus ada pemeriksaan kesehatan rutin dan mengeliminasi mereka yang terjangkit HIV dengan cara memberi mereka pelatihan pekerjaan yang lain secara intensif agar tidak dapat menyebarkan HIV-nya. Isu human trafficking? Kawal mucikarinya, harus ada organisasi yang mampu mengatur dan mengawasi 'kesehatan' kehidupan lokalisasi. Jangan sampai ada anak di bawah umur yang terjual di dalam lokalisasi.
Saya hanya mampu berdoa, calon suami saya punya moral yang baik, selalu ingat Tuhannya, dan sadar bahwa lokalisasi bukan tempat 'jajan' yang sederhana seperti di permukaannya. Dan membiarkan para PSK, yang manusia biasa, sama seperti kita ini, mencari jalan untuk tetap hidup dan urusan moral, serahkan pada Ia dan Tuhannya saja. Seperti mereka yang menyerahkan moral kita pada kita dan Tuhan kita sendiri. Mereka tak pernah memaksa orang untuk datang ke lokalisasi dan menjadi tamu mereka.


Sejarah Dolly

Gang Dolly, Dolly, Siapa Dia?

Sesungguhnya protes pertama terhadap Gang Dolly sudah terjadi puluhan tahun sebelumnya. Ini menyangkut penggunaan nama "Dolly".

 
Advenso Dollyres Chavit (dok. Majalah Jakarta-Jakarta)
Gang Dolly, Surabaya, tetap ditutup 19 Juni 2014 lalu. Tetapi, begitulah. Tidak mudah. Penutupan Gang Dolly di kawasan Kampung Kupang menuai kontroversi. Ada pro, ada kontra. Tetapi sesungguhnya protes pertama sudah terjadi puluhan tahun sebelumnya. Ini menyangkut penggunaan nama "Dolly".
Siapa yang pertama melayangkan protes? Ya, Dolly sendiri. "Kenapa kok (pakai) namaku? Padahal germo di sana kan banyak?" tanyanya pada tahun 1990-an.
Sosok Dolly memang seperti legenda. Legenda dalam dunia persyahwatan di Surabaya. Sohor, tetapi jarang sekali bisa dijumpai.
Orang kerap berasumsi ia adalah seorang germo, perempuan, keturunan Belanda. Ada yang bilang namanya Dolly van der Mart. Desas-desus lain menyebutkan dia sebenarnya seorang lelaki. Sebab sebagai germo panggilannya bukan "Mami" tetapi "Papi Dolly". Benarkah? Tidak. Lalu?
Jadi, siapa sebetulnya Dolly?
Dolly adalah nama panggilan. Nama lengkapnya Advenso Dollyres Chavit. Chavit adalah nama ayahnya, seorang Filipina. Ibunya bernama Herliah, orang Jawa. Dolly lahir sekitar tahun 1929.
"Aku ini hanya sekolah mindho (level SMP). Itu pun tidak tamat karena ada perang. Ibuku pun bukan orang yang mampu. Maka hidupku biasa-biasa saja, tidak ada peningkatan," tutur Dolly kepada Bambang Andrias, kontributor Majalah Berita Bergambar Jakarta-Jakarta, 23 tahun silam.
Dolly mengenang kehidupan keluarganya yang cukup relejius. "Orangtua mendidikku untuk sering ke geraja. Pokoknya harus selalu ingat Tuhan," tambahnya.
Namun entah kenapa perangai Dolly di luaran menjadi sungguh berbeda. Dolly yang tomboi cenderung memberontak. "Umur 16 tahun aku mulai merokok. Waktu itu (rokok) yang terkenal Escort, Commodore atau Kansas," kenangnya. Perempuan merokok bukanlah hal umum pada masa itu.
Dolly boleh tomboi. Tetapi itu tak menutupi kecantikannya. Sambil menunjuk foto masa muda, Dolly berkisah betapa seksi dia, diiringi tawa terkekeh-kekeh.
Menjelang umur 20 Dolly menikah dengan Soukup alias Yakup, seorang kelasi Belanda. Dari pernikahan itu lahirlah anak lelaki. Tetapi belum lagi sang anak masuk ke umur lima tahun, Yakup sang suami meninggal dunia.
Dolly yang cantik pun mulai menghadapi krisis keuangan. Mana sang anak kerap merengek meminta ini-itu. Semisal es krim, yang pada masa itu termasuk jajanan mahal. Untuk membesarkan sang anak serta mencukupi kebutuhan sehari-hari Dolly butuh biaya.
Maka babak baru dalam kehidupannya pun bergulir. Mungkin terdengar klise. Tetapi ia mengaku terpaksa saat memutuskan untuk melangkah ke dunia prostitusi pada awal tahun 1950-an.
Kecantikan Dolly dan kefasihannya berbahasa Belanda membuat banyak laki-laki mencarinya. Dolly dengan mudah menjadi idola. Khususnya bagi para eksptariat yang baru turun dari kapal. "Aku ini cantik. Tubuhku tinggi-ramping. Banyak lelaki tergila-gila," jelas Dolly.
Dolly biasa meladeni lelaki di Hotel Simpang atau LMS. Dolly mengaku tidak pernah meminta bayaran uang kepada lelaki yang mengencaninya. "Aku ini pelacur kelas atas. Aku enggak pernah mau dibayar," jelasnya. Kompensasinya adalah: ia hanya mau menerima berbagai barang mahal. Dalam istilah Dolly, "Aku cuma menerima 'kado'."
Banyak lelaki ingin menikahi Dolly. Tetapi permintaan itu ditampiknya. Dolly memilih menjadi single parent. Alasannya simpel. Ia tak ingin satu-satunya anak lelaki yang ia miliki menerima perlakukan kasar dari ayah tiri.

(Eddy Suhardy, Sumber: Majalah Jakarta Jakarta No 270, 31 Agustus 1991)

===

Gang Dolly, Dolly, Siapa Dia? (II)

Pada tahun 1990-an Dolly memang lebih banyak bermukim di Malang. Setidaknya ia menanggung kehidupan 10 orang.

 
Advenso Dollyres Chavit (dok. Majalah Jakarta-Jakarta)
Awal 1960-an Dolly hijrah ke Kembang Kuning. Inilah komplek pelacuran di Surabaya. Ia kemudian diasuh oleh Tante Beng. Nama terakhir adalah nama mucikari sohor pada masa itu.
Sekitar delapan tahun ia menjadi anak kesayangan Tante Beng. Pada masa-masa itu ia mulai mengumpulkan aset. Pelajaran ngegermo, menurut Dolly juga ia dapatkan dari sang mucikari.
Sekitar tahun 1969 Dolly memutuskan pindah ke kawasan Kupang Gunung. Di sanalah ia membangun rumah, di bekas lahan kuburan cina. Dolly mulai mengusahakan "wisma" – istilah lain untuk rumah bordil. Dari satu wisma, berkembang hingga empat. Ada Istana Remaja, Mamamia, Nirmala, lalu Wisma Tentrem. Setiap wisma menampung sekitar 28 pekerja seks komersial (PSK).
Rumah bordil miliknya, menurut Dolly dibangun tanpa bantuan arsitek atau pemborong. Dolly mengaku memandori sendiri. Sebuah kemampuan yang dipelajari dari orangtuanya.
Jadi, mulai alihprofesi, dari seorang pramusyahwat , eh, PSK, menjadi germo? Dolly menyatakan tidak sepenuhnya benar.
Dolly bilang ia memang sempat menjadi germo, tetapi hanya sebentar saja. Ia lebih memilih untuk menyewakan wisma miliknya ke orang lain. "Aku memang mbangun bordil. Tetapi aku tidak mengelola sendiri. Habis mbangun tak sewakan," kisahnya. "Aku tinggal mengambil uang sewa, wis, enak," tutur Dolly dalam percakapan yang hampir seluruhnya berlangsung dalam dialek Jawa Timuran.
Nah, kok? Kenapa Dolly kurang senang menjadi germo?
"Aku iki nggak mentholo jadi germo. Keluargaku tidak ada yang turunan germo. Anake wong. Kasihan. Kalau jual 'daging' aku pengalaman. Tapi kalau disuruh jadi germo, aku tidak bisa," ujarnya.
Sepanjang tuturannya Dolly bilang ia tidak ingin jadi germo karena tahu bahwa menjadi pelacur itu sungguh tidak enak. "Pelacur itu sakaken. Jadi pelacur itu kasihan. Pelacur itu sengsara di dunia. Aku nggak bisa cerita panjang tentang pelacur."
Di mata Dolly, profesi PSK bukanlah dosa. "Aku melihat pelacur itu macam-macam. Ada yang putus cinta, ada yang karena kesulitan ekonomi. Tetapi semua itu tidak dosa. Dia cari makan. Orang lakinya yang datang sendiri."
Lalu seberapa kayakah Dolly dari usaha seperti itu? Ia hanya merinci: setiap 10 hari ia menerima uang Rp 2,1 juta dari satu wisma. Itu terjadi pada tahun 1991. Kurs dollar terhadap rupiah sekitar dua ribu perak.
Uang sewa wisma menurut Dolly tidak besar. "Dan uang itu habis aku bagi-bagikan ke anak-cucuku," jelasnya. "Aku tidak kaya yang miliaran. Tapi aku sugih iman. Sugih kepribadian. Jadi aku tidak kaya, tapi cukup untuk dimakan orang banyak," tegasnya.
"Aku ingin tahu rasanya mengurus orang banyak. Aku pernah diangkat sebagai anak oleh orang, jadi ingin tahu rasanya momong orang banyak. Aku seneng. Aku tidak kaya, tapi cukup untuk makan. Aku bahagia."
Pada tahun 1990-an Dolly memang lebih banyak bermukim di Malang. Setidaknya ia menanggung kehidupan 10 orang. Semuanya sudah diangap anak dan cucu sendiri, termasuk seorang perempuan penderita kanker. Saat itu sudah 10 tahun Dolly merawatnya.
Mungkin karena kedekatannya, banyak orang menduga Dolly adalah lesbian. Dugaan lesbian itu bisa jadi terbentuk karena gaya Dolly yang cenderung tomboi. Apalagi sebagai germo, predikat yang dipakai adalah "papi" bukan "mami". Ya, orang memanggilnya "Papi Dolly".
"Aku tidak lesbian. Aku tidur juga sendiri-sendiri. Aku nolong orang kok dikatakan lesbian," nada suaranya agak gusar.
Anak Dolly ada lima. Di antaranya ada satu anak kandung. Salah satu anak angkatnya adalah anak angkat mantan "mami"-nya, Tante Beng. "Tante Beng itu nggak pernah melahirkan, tetapi ingin punya anak. Begitu mengambil anak kecil. Aku yang ngopeni. Anak itu baik. Mengerti sama orangtua," tuturnya.
Bersama anak dan cucu Dolly merasa bahagia. Ia bahkan menganggap tidak perlu menikah lagi. Sebuah keputusan yang sudah ia niatkan sejak sang suami meninggal.
Dolly hanya ingin merawat—terutama—anak kandungnya. Anak satu-satunya yang ia katakan sebagai tempat curahan kasih sayang.
"Menurut pengalamanku aku tahu banyak lelaki yang kurang ajar. Mungkin karena mereka enggak pernah melahirkan. Dan aku pernah melahirkan. Melahirkan itu susah. Anakku lahir dengan tohpati, ditarik dengan tang."
Ironisnya, pada tahun Dolly diwawancara, ia tengah bersitegang dengan sang anak kandung. Urusannya bahkan menggelinding hingga ke jalur hukum.
Usianya sudah lewat 62 tahun saat itu. Mulai sepuh dan sering batuk. Cuma, dalam kondisi seperti itu, ia masih merokok. Sehari lima bungkus. Bahkan lebih.
Perempuan yang sehari-hari gemar mengenakan kemeja dan kain sarung itu bilang ia akan menjual semua wismanya di Gang Dolly. Uang yang terkumpul akan dijadikan modal usaha di Malang. Usaha apa?
Dolly sendiri agak bingung. Pada tahun 90-an ia sempat berjualan batik, sarung dan seprei yang didatangkan dari Yogya atau Solo. Tetapi nampaknya usaha itu tidak berjalan lancar.
Lebih dari 20 tahun sejak wawancara, kabar dari "Legenda Surabaya" itu nyaris tak terdengar. Kita kembali teringat ketika ribut-ribut penutupan Gang Dolly.
"Ya memang aku yang pertama kali membuka di sana. Tapi waktu mbangun aku bukan germo. Tak bangun lalu tak sewakan. Jadi aku bukan germo. Dan aku heran di Gang Dolly itu yang kaya malah jadi kaya dan enak-enak. Tapi yang jadi sasaran kok aku? Kok namanya jadi Gang Dolly?"
Keinginannya untuk menghapus nama Dolly dari kawasan itu, barangkali sudah didengar. Kini setelah hampir setengah abad berkembang Gang Dolly ditutup.
Ah, Dolly, Advenso Dollyres Chavit. Ia mungkin tak menyangka. Bahwa kisah hidupnya bakal tersangkut kepada nama kawasan prostitusi yang pernah menyandang predikat terbesar di Asia Tenggara.

(Eddy Suhardy, Sumber: Majalah Jakarta Jakarta No 270, 31 Agustus 1991)