LINKS OF ME

Saturday, October 29, 2011

KALIAN?

Blog ini jadi saksi bagaimana saya menyayangi kalian lebih dari diri saya sendiri, bagaimana saya menghargai kalian di tengah kepulan asap lebih dari mereka yang memberi saya tempat tidur, bagaimana saya memberi kalian waktu lebih dari kamar saya sendiri. Dulu.
Apa jadinya jika saya kehilangan kepercayaan kalian tanpa penghianatan dari saya? Apa yang harus saya lakukan untuk mengembalikan kepercayaan kalian dan meminta maaf atas hal yang tidak pernah saya perbuat, atau bahkan pikirkan?
Dua musim panas yang telah kita lewati bersama, kalian menyimpan pisau di punggung kalian. Tapi kita telah dibunuh waktu terlebih dahulu. Dan pisau di punggung kalian mulai berkarat dan tumpul, terlambat untuk ditusukkan.
Dua tahun terakhir nanti, semua akan berubah. Ada independensi yang tak pernah kita pikirkan dan segera saya mulai. Terima kasih atas dua tahun kemarin yang telah menjadi periode terbaik seumur hidup saya.


Saturday, October 15, 2011

#quote

"Judge me only by my cover, because I don't want you to know who the real I am."
- Meyrza Ashrie Tristyana


Setiap orang punya cara sendiri untuk mempresentasikan siapa mereka. Mereka tidak akan pernah menjadi diri mereka sendiri selain di hadapan Tuhannya. Setiap orang punya rahasia.
Aku, iya. Bukan bermuka dua, hanya berusaha agar mereka lebih menilai kelebihanku daripada kelemahanku.
Aku menginjak langit dan menelan samudera, tanpa mereka tahu bahwa ada perih di punggungku yang merengek setiap saat dan masa lalu yang mengekor.


Thursday, October 13, 2011

#pernikahan

........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Titik-titik diatas adalah deskripsi pernikahan aku dan dia.
Entah bagaimana caranya menggabungkan dua orang yang berbeda suku, keyakinan, latar belakang, selera, pemikiran, dan kehidupan.
Entah bagaimana negara ini akan menggabungkan dua orang yang saling jatuh cinta dengan gereja dan mesjid sebagai rumah ibadah kami.
Hanya Tuhan, waktu, aku, dan dia yang tahu jawabnya.


Wednesday, October 12, 2011

#rumah

"Aku pulang.."
Katanya. Oktober tahun lalu.
Dia kembali ke rumahnya, kemudian menutup pintu.
Aku mengunci pintu itu dan menelan kuncinya.
Dia harus membunuhku dulu untuk bisa pergi lagi.

Selamat datang lagi di rumahmu, sayang.
Aku tahu kamu pasti pulang.
Ke hatiku.

ps. ini adalah lanjutan dari #mantan kemarin.


Tuesday, October 11, 2011

#mantan

"Move on, Sa. Move on."
Kata mereka di akhir Agustus tahun lalu. 

Aku butuh orang lain setelah dia untuk sadar bahwa ternyata dia adalah mantan terbaik.
Aku butuh banyak waktu menyendiri untuk dapat menghitung singkatnya waktu yang kuhabiskan dengannya.
Aku butuh puluhan lagu patah hati untuk mengerti bahwa cinta itu tak selalu manis.

Sehari sebelum ulang tahunku di Mei tahun lalu, relationship request di Facebook berhasil membuatku lepas dari pertanyaan, "udah punya pacar?"

Status palsu. Dan kami baik-baik saja menjalaninya. Sampai akhirnya aku memang merasa ada yang salah.

Aku melepaskan dia pertengahan Juni hanya untuk lelaki yang tidak lebih baik darinya. Beratnya menjalani kehidupan dengan lelaki baru ini menyebabkan semuanya berakhir di akhir Agustus.

Ternyata aku sadar, aku bukan harus move on dari lelaki pertengahan Juni itu. Tapi aku harus move on dari dia, lelaki awal Mei.

Bodohnya aku yang pergi meninggalkannya dan tak mengakui bahwa aku benar-benar sayang.
Bodohnya dia yang membiarkanku pergi dan tak mengakui bahwa dia benar-benar sayang.
Bodohnya kami yang menjalani semuanya dengan kepalsuan, dan menutupi keberanian untuk saling mengakui.

Akhirnya dia datang lagi dengan senyum yang sama seperti sebelumnya. Dan aku menyambutnya dengan penyesalan. Aku kembali tanpa kepalsuan dan menghindari kesalahan yang sama. Menelan senyumnya.

Aku tak akan pernah move on.
Karena sampai detik ini, aku dengannya, setahun kemarin, semuanya sempurna.


Sunday, October 9, 2011

#hadiah

"Semoga isinya adalah dia beserta cintanya."
Kataku dalam hati seraya membuka kotak kado warna merah yang bertuliskan:
Kepada: Meyrza Ashrie Tristyana
Dari: Tuhan


Saturday, October 8, 2011

#jendela

Jendela ini dilapisi dengan teralis baja berwarna hitam dan sangat rapat. Terkesan jahat.
Dibuat hanya untuk mempersilahkan udara dan cahaya masuk ke dalam ruangan ini.
Aku duduk tenang dibalik jendela, menikmati secangkir kopi.
Sesekali memandang keluar namun tak ingin keluar.
Tak ada yang menarik di luar sana, aku sudah merasa nyaman dan aman di dalam sini.
Sayang, terima kasih.
Hanya ada jendela berteralis dalam ruang hatimu.
Bukan pintu yang cukup untukku keluar dari sini.



Friday, October 7, 2011

#pesan

Sayang, aku ga kuat pacaran jarak jauh.
Sayang, aku ga kuat pacaran jarak jau
Sayang, aku ga kuat pacaran jarak ja
Sayang, aku ga kuat pacaran jarak j
Sayang, aku ga kuat pacaran jarak
Sayang, aku ga kuat pacaran jara
Sayang, aku ga kuat pacaran jar
Sayang, aku ga kuat pacaran ja
Sayang, aku ga kuat pacaran j
Sayang, aku ga kuat pacaran 
Sayang, aku ga kuat pacara
Sayang, aku ga kuat pacar
Sayang, aku ga kuat paca
Sayang, aku ga kuat pac
Sayang, aku ga kuat pa
Sayang, aku ga kuat p
Sayang, aku ga kuat 
Sayang, aku ga kua
Sayang, aku ga ku
Sayang, aku ga k
Sayang, aku ga
Sayang, aku g
Sayang, aku
Sayang, ak
Sayang, a
Sayang, aku kangen. Kapan kita ketemu lagi?



Thursday, October 6, 2011

#telurdadar

Resep telur dadar untuk dia.
Aku hanya akan menumis sedikit irisan bawang merah di wajan anti lengket itu, kemudian aku tuang campuran dua butir telur, potongan smoked beef, irisan daun bawang, dan sedikit garam. Sengaja aku matangkan dulu bawang merah itu agar wanginya lebih menggoda. Disajikan dengan saus sambal dan sedikit parutan keju.
Biasa. Aku sadar, rasanya akan sangat biasa saja. Yang membuatnya spesial hanya cinta tahun pertama.
Setahun kemudian aku akan tambahkan merica di dalamnya, dan dia akan sadar, ada yang berbeda.
Dua tahun kemudian aku mengganti smoked beef dengan potongan udang. Dia merasakan ada yang berbeda, lagi.
Tiga tahun kemudian akan aku tambahkan sedikit irisan kecil lombok, tanpa merica. Dia akan mendapat sensasi pedas di potongan-potongan tertentu telur dadarnya, yang akan memaksanya untuk melahap potongan berikutnya.
Empat tahun kemudian aku akan menambahkan keju mozarella yang akan meleleh ditengah telur dadar itu, melapisi setiap irisan kecil lombok, mengurangi sensasi pedasnya dan membuatnya semakin asin sehingga aku tidak akan menambahkan garam.
Dan seterusnya. Akan selalu berganti setiap tahun, setiap pagi.. Yang selalu sama hanyalah dua butir telur dan kecupan cintaku untuknya.
Aku punya banyak cara untuk mempertahankan dia agar tetap berada disini setiap pagi untuk menunggu telur dadar buatanku.

Jangan bosan. Jangan selingkuh. Jika suatu saat kamu selingkuh, tidak akan ada garam, merica, lelehan keju, smoked beef, udang, atau bahan lain di dalam telur dadarmu. Yang ada hanya telur, dan ratusan irisan lombok. Supaya kamu tahu betapa pedasnya hatiku yang dikhianati.



Wednesday, October 5, 2011

#tamankanakkanak

Beberapa tahun setelah hari ini..

Bocah kecil bernama Ganendra duduk di sebelah adik perempuannya, Gabriella. Mereka ceria dan terlihat sangat manis di halaman depan taman kanak-kanak itu. Mereka sangat ekspresif. Entah apa yang mereka bicarakan sambil menunggu jemputan. Sesekali mereka tertawa. Beberapa menit kemudian mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius. Mereka mulai terlihat sedih bercampur marah. Kemudian mereka terlibat adu mulut, mempertahankan argumen masing-masing dengan gaya anak kecil yang khas. Si adik, Gabriella, memukul pelan punggung kakaknya karena merasa kalah, dan kakaknya mencubit lengan adiknya. Tangis mereka pun pecah.
Ayah mereka hanya tertawa dari dalam mobil kami yang diparkir tidak jauh dari mereka, kemudian aku turun menjemput mereka. Menenangkan keduanya dan menggandeng mereka masuk ke dalam mobil. Mereka tetap ribut sambil menangis, saling mengadu ke ayah mereka. Setelah mereka mulai tenang, aku tanya mengapa mereka bertengkar dan menangis, si kakak menjawab dengan suara paraunya, "Aku mau punya adik perempuan lagi, tapi Gabriella maunya adik laki-laki, Bu.."

Amin.


Tuesday, October 4, 2011

#hilang

Aku rela kehilangan kopi di pagi hari asal tak kehilangan bibir lembutmu.
Aku rela kehilangan kunci di siang hari asal tak kehilangan tanganmu.
Aku rela kehilangan novel di sore hari asal tak kehilangan mata coklatmu.
Aku rela kehilangan bantal di malam hari asal tak kehilangan bahumu.
Namun aku rela kehilangan hari esok jika nanti aku kehilangan sentuhan bibir lembutmu di keningku, gandengan tanganmu, tatapan mata coklatmu, dan bahumu yang selalu menjadi tempatku bersandar.
Jangan pergi.
Jangan hilang.


Saturday, October 1, 2011

#malamminggu

Sabtu, 1 Januari 2011.
Tahun baru dengan Liverpool vs Bolton Wanderers, dan 2-1 untuk Liverpool.
Belum pernah ada senyum yang lebih indah darinya karena kemenangan Liverpool.
Belum pernah ada wangi nafas yang lebih menggoda dari wangi bir yang diminumnya.
Dan belum pernah ada malam minggu yang sesempurna itu sebelumnya.


Friday, September 30, 2011

#ciumanpertama

Ciuman. Kata benda. Sama halnya seperti mainan.
Ciuman pertamaku mungkin milik orang tuaku ketika aku masih bayi. Sedangkan ciuman selanjutnya, aku tak peduli. Ciuman pertamaku dengan dia pun aku tak peduli.
Aku hanya peduli dengan perasaan dibalik setiap ciuman yang aku dapat darinya, kapanpun. Ciuman. Dua arah. Bibir dengan bibir. Bukan hanya cium.
Aku tahu jarak sekian kilometer ini sangat membatasi jumlah ciuman. Tapi sejauh itu, dan selama ini, rindu kami tak pernah berhenti berciuman.


Tuesday, August 23, 2011

♥ | ♥

Di depan saya sekarang ada suami-istri yang sepertinya mau cerai, ditemani pengacara mereka. Istrinya menangis sambil menggenggam tangan suaminya. Memohon.

Salah satu teman saya pernah bilang, "Kalo mau cari yang lebih baik sih ga akan pernah berhenti. Apa susahnya sih mempertahankan pilihan?"
Di dunia ini, kita diciptakan berbeda untuk saling melengkapi, bukan saling membatasi. Kalo kita menjalani hidup dengan orang yang sama kepribadiannya dengan kita, apa gunanya? Kita ga akan bisa merasa disayangi karena sama-sama sibuk untuk menyayangi. Kita ga akan mendapatkan hal yang berbeda dari diri kita. Kita ga akan pernah bisa merasakan rasanya jadi orang lain.
Pacaran itu pilihan. Menikah itu keputusan. Menggabungkan dua keluarga, dua kehidupan, dua kepribadian. Untuk apa menikah kalo kita ga mengenal calon pasangan kita sendiri? Untuk apa kita memilih dia kalo kita masih punya hal yang kita keluhkan tentang dia? Untuk apa memilih kalo kita merasa dia bukan orang yang tepat dan masih percaya ada orang yang lebih tepat dari dia?

Bodohnya mereka yang sudah ditakdirkan untuk bersama malah berpisah.
Bodohnya orang tua saya.

 

Wednesday, August 17, 2011

66 Tahun

Hari ini home timeline twitter gue dipenuhin sama hashtag #merdeka #DirgahayuIndonesia #Indonesia66 #17an dan sejenisnya. Happy Birthday Indonesia pun betah nangkring di trending topic worldwide. Bangga? Lumayan.
Gue kuliah di Universitas Airlangga, Departemen Politik. Dari setiap kelas yang gue ambil dan setiap dosen yang gue hadepin, gue terdidik untuk ngeliat keadaan ga cuma dari satu atau dua sisi. Teori Perbandingan Politik, Ekonomi Politik, dan beberapa mata kuliah yang ngajarin tentang keadaan politik luar negeri bikin penilaian gue tentang Indonesia mulai kebuka. Di twitter, following list gue maki-maki presiden, protes sama aparat, ngebenci pemerintah habis-habisan. Gue heran, yang duduk di kursi pemerintahan itu pilihan mereka, yang mereka bilang Bapak Prihatin itu dapet contrengan lebih dari 50% peserta pemilu dengan satu kali putaran. Berarti hanya segelintir orang yang emang ga setuju beliau jadi presiden.
Intinya, sebagian besar followers gue ga puas tinggal di Indonesia, karena pemerintahnya yang blablabla.. Tapi mereka cuma bisa protes lewat social network. Cuma sedikit yang berani ngirim protes kritis mereka ke koran, mentok-mentok partisipasi yang lain juga sebatas ngisi polling tentang kepuasan mereka terhadap pemerintah.
Tapi kenapa sih kita ga bersyukur bisa tinggal di Indonesia yang udah jauh lebih baik dari beberapa tahun yang lalu? Mereka bilang, "Apaan, gini nih enak pas jaman Pak Harto, semua aman, terkendali."
Padahal mereka ga tau berapa orang yang hilang cuma karena ngajuin pendapat di koran, atau bikin perkumpulan yang ngebahas tentang pemerintahan. Udah untung kita sekarang bisa bebas update status dengan kalimat yang ga pantes buat ngomentarin pemerintahan, dan pemerintah juga masih bisa sadar kalo mereka emang belum bisa bikin rakyat Indonesia ngerasa puas.
LSI bilang, banyak yang memilih pemerintahan Soeharto sebagai pemerintahan yang paling memuaskan. Tanya, siapa yang mereka survey? Umur berapa? Berapa orang? Serandom apa? Gue tanya sama kakek gue aja jawabnya, "Sekarang Indonesia udah enak, ga kayak dulu.."
Indonesia sekarang udah mulai dikenal. Ga kayak dulu, dapet pengakuan dari negara lain pun susah banget.
Namanya manusia emang ga pernah puas, dan itu juga bisa jadi bahan renungan pemerintah kita sih. Tapi mana bukti nyata mereka? Mereka justru pengen ninggalin Indonesia, ngerasa terdampar di negara yang mereka bilang bobrok di hampir semua bidang. Semua negara itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, mereka ga berusaha mencintai negara mereka sendiri dan ngasih bentuk real buat ngebangun negara ini?
Korupsi, iya, setiap orang pasti pernah korupsi dari hal sekecil apapun. Dan kita bisa mulai ngebangun negara ini dengan ngajarin ke adek lo buat ngomong jujur tentang berapa harga jajanan yang mereka beli di warung sebelah, dan ngebalikin kembaliannya ke nyokap.
Bangsa ini udah ngelewatin perjalanan yang berat buat merdeka dan ngelangkah jadi bangsa yang lebih baik, kenapa ga kita terusin, berhenti mengeluh, dan kasih bentuk nyata. Bangun negara ini dengan hal yang positif, jadi pribadi yang bersih. Ga usah pikirin apa yang negara ini kasih buat kita, kita yang harus ngasih banyak hal buat negara ini. Bukan dengan protes ga mutu, pindah kewarganegaraan, atau mengutuk pemerintah.
Kalo kita bukan pemerintah, tapi bisa kan jadi orang yang maju di bidangnya masing-masing? Protes karena pemerintah ngehambat kemajuan mereka? Ajukan pedapat kritis dengan solusi yang bisa diwakili oleh orang banyak. Ini Indonesia, negara yang udah masang label demokrasi di jidatnya.
Mereka cuma ngeliat berapa koruptor yang belum ketangkep, ga ngeliat berapa yang udah di bui, berapa pejabat yang mentalnya tertekan karena takut korupsi. Mereka cuma ngeliat polisi yang narik duit tilang di pinggir jalan, ga ngeliat berapa situasi yang udah diamankan waktu ada bentrok. Mereka cuma ngeliat jalanan rusak, tanpa ngeliat berapa pajak yang mereka manipulasi buat disetor ke negara. Mereka cuma ngeliat berapa duit yang dikorupsi, ga ngeliat berapa yang udah dipake buat ngebangun bangsa ini.
Gue kuliah disini dengan tujuan baik, dan semoga emang bakal baik ke depannya. Jangan pesimis sama bangsa ini. Jangan pesimis sama pemerintah. Jangan pesimis sama temen-temen gue yang beberapa tahun lagi duduk di tempat yang penuh protes. Periode pemerintahan yang keganti 4 tahun sekali bikin kita punya waktu buat mengenal calon pemerintah kita ntar, bisa buat ngebuka mata kita, mau dibawa sama orang kayak gimana sih bangsa ini ntar, bukan cuma pemerintahnya, tapi kita juga, sebagai rakyat Indonesia.
Udah saatnya kita bangun dan nunjukkin kalo kita punya hal yang bisa dikasih buat negara ini, ga cuma duduk di depan komputer dan berusaha masukin segala tentang Indonesia jadi trending topic worlwide di twitter.
Kita butuh negarawan. Bukan politikus. Itu kata senior gue di twitter dan gue setuju. Semoga ntar pemerintah kita punya nasionalisme yang kuat dan taat sama agamanya. Amin.

Sunday, July 31, 2011

Well.. Bye July!

Ga terasa, udah 2 tahun kuliah di Universitas Airlangga. Umur udah kepala 2. Orang-orang datang dan pergi meninggalkan memori yang kadang cuma muncul waktu ada hal yang memaksa untuk mengingat, merusak otak.
Dua tahun yang lalu, meninggalkan Universitas Lambung Mangkurat jurusan Pendidikan Biologi dan lolos masuk ke Departemen Politik Universitas Airlangga dengan jalur SNMPTN yang penuh resiko dan mencadangkan Universitas Katolik Widya Mandala jurusan Sekretaris. Dua tahun lalu, masih punya pacar yang dikenal waktu SMA. Dua tahun lalu, masih belum punya banyak kenalan di kota ini, selain teman SD. Dua tahun yang lalu, akhirnya mengenal yang namanya mahasiswa dan kedewasaan. Hidup di tengah hingar-bingar kota besar yang diisi mahasiswa dari berbagai daerah.
Kenapa politik? Karena ini Indonesia, diatur dengan politik, di tingkat apapun itu. Mempolitik perpolitikan. Kenapa Unair? Karena ini universitas terbaik di Surabaya dan salah satu lima besar universitas terbaik di Indonesia. Yah sebelumnya sih udah disuruh pilih bermaca-macam universitas. Mulai dari Mercubuana di Jogja, Surabaya Hotel School, dan UKWM. Tapi yang negeri, tetap yang terbaik, dan termurah tapi ga murahan.
Akhirnya, dari 90 mahasiswa yang seangkatan dan sejurusan, sekarang yang survive cuma sekitar 50. Dengan mereka, aku belajar menjadi orang yang menerima apa adanya dan menghargai perbedaan. Dari berbagai agama, ras, sifat, kelemahan, dan kelebihan masing-masing.
Waktu terus berjalan, berganti pacar, berganti tempat nongkrong, tapi ga berganti teman. Dan akhirnya sekarang malah pacaran sama anak Jogja yang aku kenal dua tahun yang lalu. Dunia itu sempit. Waktu itu berjalan cepat. Takdir ga ada yang tau. Tapi sekarang, aku berhenti mencari. Aku cuma memilih dan mempertahankan. Nasib, jati diri, dunia.
Belajar memahami, bukan hanya mendengarkan. Belajar menulis, bukan hanya membaca. Belajar mempertahankan, bukan hanya mendapatkan. Belajar menghadapi, bukan hanya menghindari. Belajar merelakan, bukan hanya melepaskan. Belajar mempercayai, bukan hanya mengetahui. Belajar melupakan, bukan hanya mengingat. Belajar bahagia, bukan hanya tertawa.
Di depan, ada bulan Ramadhan yang semoga lebih baik dari Ramadhan tahun kemarin. Ramadhan tahun kemarin itu yang terburuk. Jatuh sakit dan harus bangun untuk melakukan pembuktian. IP hancur dan akhirnya berhasil naik drastis di semester selanjutnya. Hidup tanpa pacar, hampir mendapatkan apa yang dikejar selama setahun, tapi akhirnya malah belok karena sadar, apa yang aku kejar, bukanlah yang aku butuhkan. Meninggalkan dia dengan dunianya dan justru masuk ke dunia yang baru, bukan dunia yang pernah aku pelajari sebelumnya.
Semoga cukup kurang dari dua tahun lagi aku kuliah disini. Semoga bisa nikah muda dengan orang yang baik, ga cuma tepat. Semoga sukses di usia muda supaya bisa beranjak tua dengan tenang. Semoga semua orang yang sayang sama aku, dapat takdir yang baik dari-Nya. Dan semoga aku masih bisa terus belajar walaupun ga ada yang mengajari.
Halo, semester 5!



Thursday, June 30, 2011

Bye, June!

Belum sempat menyesali Mei dan Juni hampir berakhir.
Begitulah seharusnya hidup.
Matilah kalian yang dibayangi masa lalu.
Berjalan mundur ke masa depan dan akan segera tertabrak.
Dan berhenti ditinggalkan waktu.




Saturday, April 30, 2011

2 tahun..

30 April 2009, sekitar pukul 1 pagi. Itu waktu perkiraan Mas Ican, kakakku yang kedua meregang nyawa. Hari itu hari terakhir Danastri UAS SMP. Hari itu belum genap 2 minggu Mas Ican kerja di PT. Pos Indonesia, Surabaya. Dan malam sebelumnya, sekitar pukul 8, adalah pertama dan terakhir kalinya aku, Mas Ican, dan Mas Johan duduk satu meja, makan malam bersama dengan satu menu masakan yang sama, buatan Ibu.
Siapa yang menyangka dia lupa minum obat setelah makan? Kita semua tidur terlalu cepat dan lelap. Bahkan Mas Johan yang biasanya jam 1 baru pulang, malam itu jam 10 sudah masuk kamar.
Paginya semua berubah ketika kami tahu itu pukul 7 dan Mas Ican belum bangun dari kamarnya di lantai 2. Ibu naik, meninggalkan aku dan dapur. Dan..
Susah payah membuat Mas Johan percaya dalam keadaan setengah sadar karena dia baru bangun. Susah payah menenangkan semua orang yang panik dengan apa yang harus dilakukan. Telpon dokter, ambulance, atau apa?
Tante Enny turun dari pesawat tanpa membawa tasnya, semua keluarga mencari jalan tercepat untuk kembali ke rumah ini, Ibu hanya bisa menangis di pojok lantai dua dengan lutut yang lemas, Ayahku datang terlambat dari Jogjakarta..
Semua keluarga ada dalam satu ruangan, tapi itu bukan Idul Fitri ataupun Natal.
Dan aku hanya mampu menatap Mas Ican yang terbungkus kain kafan di ruang tamu, tanpa meneteskan air mata dan berkata dalam hati, "Mas Ican, ayo bangun.. Bercandamu ga lucu."
Sampai dia dimakamkan pun aku belum percaya. Dia pasti bangun, dan bilang, "Apasih?"

Dua tahun sudah, dan dia tetap ada di dalam tanah yang ditumbuhi rumput jepang dengan rapi. Dia tidak bangun dan menertawakan semua orang yang mengira dia sakit. Dia tidak bangun, dan tidak akan pernah bangun. Tapi dia masih menari dalam hati setiap orang. Dia masih tergambar di mata anaknya yang masih belajar menyanyikan lagu.....
Matahari terbenam, hari mulai malam.. Terdengar burung hantu, suaranya merdu.. Kukuk kukuk kukukukukukuk..


Sampaikan salamku untuk Dia ya, Mas Ican..

Friday, April 22, 2011

Good Friday

Cukup miris membaca salah satu tweet di home timeline saya yang berisi: 'Puji Tuhan, keluar rumah ibadah dengan selamat walaupun sempat merasa terancam.'

Saya muslim, tinggal di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam. Tapi negara ini mengakui beberapa agama lainnya, dan mengaku sebagai bangsa yang 'berbeda-beda tapi tetap satu jua'.
Tapi apa kalian lihat berita di televisi setiap mendekati hari besar bagi umat kristiani? Tragis.
Saya yang membanggakan negara ini dengan keberagamannya, justru harus mengakui adanya teror bom di beberapa tempat ibadah. Saya dibesarkan di banyak kota yang jauh berbeda satu sama lain, dan semuanya tahu bahwa Burung Garuda kita membawa pita bertuliskan 'Bhinneka Tunggal Ika', mereka semua tahu apa artinya, tapi saya tidak bisa menjamin mereka semua mengerti apa maksudnya. Hanya sekedar tahu.
Ini INDONESIA. Dengan keberagamannya, dengan keramah-tamahannya, dengan keindahan di setiap sudutnya. Dan saya sebagai seorang muslim, tidak ingin memperburuk nama agama saya di mata agama lain. Bisakah kita memberi kenyamanan pada umat beragama lain untuk merasa nyaman tinggal di negara ini?

Adam dan hawa pun diciptakan berbeda sejak awal, dan mereka dipersatukan. Pantaskah kita menginginkan sebuah negara yang hanya diisi dengan persamaan?

Saya melihat perbedaan ini sebagai kebesaran-Nya. Bagaimana Dia tetap berkuasa di tengah perbedaan. Dia tidak mungkin mempersatukan sesuatu untuk dipisahkan oleh umatnya sendiri.
Dia tidak butuh pembelaan untuk menunjukkan kekuasan-Nya. Lalu apa alasan kalian?

Dengan segala keberagaman di Indonesia,
Dengan ketulusan seorang muslim yang berusaha menghargai umat beragama lain,
Selamat merayakan Jumat Agung.
Maaf jika merasa terancam.


Thursday, April 21, 2011

Selamat hari kartini, Ibu Erna!
do . re mi fa sol . mi do .
la . do si la sol . . . fa . la sol fa mi . do . re . fa mi re do . .