LINKS OF ME

Saturday, April 30, 2011

2 tahun..

30 April 2009, sekitar pukul 1 pagi. Itu waktu perkiraan Mas Ican, kakakku yang kedua meregang nyawa. Hari itu hari terakhir Danastri UAS SMP. Hari itu belum genap 2 minggu Mas Ican kerja di PT. Pos Indonesia, Surabaya. Dan malam sebelumnya, sekitar pukul 8, adalah pertama dan terakhir kalinya aku, Mas Ican, dan Mas Johan duduk satu meja, makan malam bersama dengan satu menu masakan yang sama, buatan Ibu.
Siapa yang menyangka dia lupa minum obat setelah makan? Kita semua tidur terlalu cepat dan lelap. Bahkan Mas Johan yang biasanya jam 1 baru pulang, malam itu jam 10 sudah masuk kamar.
Paginya semua berubah ketika kami tahu itu pukul 7 dan Mas Ican belum bangun dari kamarnya di lantai 2. Ibu naik, meninggalkan aku dan dapur. Dan..
Susah payah membuat Mas Johan percaya dalam keadaan setengah sadar karena dia baru bangun. Susah payah menenangkan semua orang yang panik dengan apa yang harus dilakukan. Telpon dokter, ambulance, atau apa?
Tante Enny turun dari pesawat tanpa membawa tasnya, semua keluarga mencari jalan tercepat untuk kembali ke rumah ini, Ibu hanya bisa menangis di pojok lantai dua dengan lutut yang lemas, Ayahku datang terlambat dari Jogjakarta..
Semua keluarga ada dalam satu ruangan, tapi itu bukan Idul Fitri ataupun Natal.
Dan aku hanya mampu menatap Mas Ican yang terbungkus kain kafan di ruang tamu, tanpa meneteskan air mata dan berkata dalam hati, "Mas Ican, ayo bangun.. Bercandamu ga lucu."
Sampai dia dimakamkan pun aku belum percaya. Dia pasti bangun, dan bilang, "Apasih?"

Dua tahun sudah, dan dia tetap ada di dalam tanah yang ditumbuhi rumput jepang dengan rapi. Dia tidak bangun dan menertawakan semua orang yang mengira dia sakit. Dia tidak bangun, dan tidak akan pernah bangun. Tapi dia masih menari dalam hati setiap orang. Dia masih tergambar di mata anaknya yang masih belajar menyanyikan lagu.....
Matahari terbenam, hari mulai malam.. Terdengar burung hantu, suaranya merdu.. Kukuk kukuk kukukukukukuk..


Sampaikan salamku untuk Dia ya, Mas Ican..

Friday, April 22, 2011

Good Friday

Cukup miris membaca salah satu tweet di home timeline saya yang berisi: 'Puji Tuhan, keluar rumah ibadah dengan selamat walaupun sempat merasa terancam.'

Saya muslim, tinggal di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam. Tapi negara ini mengakui beberapa agama lainnya, dan mengaku sebagai bangsa yang 'berbeda-beda tapi tetap satu jua'.
Tapi apa kalian lihat berita di televisi setiap mendekati hari besar bagi umat kristiani? Tragis.
Saya yang membanggakan negara ini dengan keberagamannya, justru harus mengakui adanya teror bom di beberapa tempat ibadah. Saya dibesarkan di banyak kota yang jauh berbeda satu sama lain, dan semuanya tahu bahwa Burung Garuda kita membawa pita bertuliskan 'Bhinneka Tunggal Ika', mereka semua tahu apa artinya, tapi saya tidak bisa menjamin mereka semua mengerti apa maksudnya. Hanya sekedar tahu.
Ini INDONESIA. Dengan keberagamannya, dengan keramah-tamahannya, dengan keindahan di setiap sudutnya. Dan saya sebagai seorang muslim, tidak ingin memperburuk nama agama saya di mata agama lain. Bisakah kita memberi kenyamanan pada umat beragama lain untuk merasa nyaman tinggal di negara ini?

Adam dan hawa pun diciptakan berbeda sejak awal, dan mereka dipersatukan. Pantaskah kita menginginkan sebuah negara yang hanya diisi dengan persamaan?

Saya melihat perbedaan ini sebagai kebesaran-Nya. Bagaimana Dia tetap berkuasa di tengah perbedaan. Dia tidak mungkin mempersatukan sesuatu untuk dipisahkan oleh umatnya sendiri.
Dia tidak butuh pembelaan untuk menunjukkan kekuasan-Nya. Lalu apa alasan kalian?

Dengan segala keberagaman di Indonesia,
Dengan ketulusan seorang muslim yang berusaha menghargai umat beragama lain,
Selamat merayakan Jumat Agung.
Maaf jika merasa terancam.


Thursday, April 21, 2011

Selamat hari kartini, Ibu Erna!
do . re mi fa sol . mi do .
la . do si la sol . . . fa . la sol fa mi . do . re . fa mi re do . .



"Kesalahan para blogger adalah terlalu mengekspos kehidupan pribadinya."
- Mario, mahasiswa


I do! So what?

Monday, April 18, 2011

Konser Musik Sebagai Analogi Sistem Pemerintahan

Demokrasi itu ibarat menonton langsung sebuah konser, dengan posisi festival. Berdiri, bergerak sepuas hati, dan teriak sekuat mungkin. Kalian bebas. Tapi berhimpitan. Sedikit saja kalian menyenggol teman di sebelah, mereka akan membalas dengan senggolan pula. Masih untung jika temen di sebelah itu tidak terpancing amarah.
Tergantung bagaimana kalian bisa mengatur diri untuk bisa menikmati musik dan pertunjukkan yang ada di hadapan kalian. Semakin kalian berdiri di depan, semakin musisi yang kalian tonton itu ingat siapa kalian dan semangat kalian semakin berpengaruh pada musisi itu dan orang-orang yang ada di belakang kalian.
Posisi belakang? Tetap bebas bergerak namun tidak begitu terlihat. Namun secara keseluruhan, gerakan seluruh penonton yang ada di dalamnya, mempengaruhi tingkat meriah atau tidaknya konser itu.
Menarik?
Menarik mana jika dibandingkan dengan sebuah konser yang semua penontonnya diharuskan duduk dengan nomor seat yang telah ditentukan? Jika tidak ditentukan, jelas akan ada perebutan kursi di bagian depan untuk kalian yang ingin mendapatkan porsi lebih dari konser yang kalian tonton. Atau perebutan kursi di bagian belakang bagi mereka yang menganggap konser itu tidak begitu menarik sehingga mereka bisa tidur dan tidak mau tahu meskipun diharuskan hadir di dalam venue.
Tapi jangan harap bisa menonton pertunjukkan yang menyenangkan, enerjik, dan penuh semangat di dalam sebuah konser yang setiap penontonnya diharuskan duduk. Dan jelas ini bukan demokrasi. Tapi aman.
Sekarang, pilih mana? Ingin menikmati pertunjukkan menarik dan bebas tapi dibatasi oleh kebebasan orang lain, atau perunjukkan yang membosankan (hanya dinikmati oleh sebagian kecil orang) tapi teratur dan berkelas?
Kita yang akan membawa negara ini nantinya. Demokrasi bukan suatu sistem yang sempurna, hanya saja, saat ini, dianggap yang terbaik.
Kita tidak akan tahu ke depannya apakah ada cara lain untuk menikmati sebuah konser. Atau selera musik kita yang akan berubah.

Ini pemikiran saya yang saya tulis ketika negara ini sedang menganut demokrasi. Jangan protes. Apa saya mengurangi kebebasan kalian? ;)