LINKS OF ME

Wednesday, December 11, 2013

Bahasa untuk Menjemput Mereka yang Tertinggal

Saya jatuh cinta dengan bahasa daerah, dari sekian banyak hal kedaerahan lainnya. Dibesarkan dengan empat bahasa karena harus pindah dari satu kota ke kota lainnya sejak kecil membuat saya sadar betapa besarnya Indonesia. Dengan kemampuan adaptasi saya yang sangat kuat, rata-rata saya bisa menguasai bahasa daerah tempat saya tinggali sekitar satu bulan (ketika bersekolah). Tapi untuk logat (aksen), bicaralah dengan saya selama 15 menit, maka saya akan dengan mahir meniru logat lawan bicara saya seumur hidup.
Bahasa yang paling ingin saya kuasai adalah Jawa Kromo Inggil, karena setiap kata yang ada di bahasa tersebut benar-benar menarik. Sayangnya, memang terlalu susah. Kadang, arti yang sama memiliki kata yang berbeda ketika itu ditujukan untuk diri sendiri atau orang lain. Dan salah tingkatan sedikit saja, maka itu akan dianggap kasar. Sebenarnya saya ingin menguasai bahasa ini juga agar saya mampu berkomunikasi dengan sopan pada orang-orang yang usianya jauh lebih tua dari saya di daerah Jawa Tengah-Timur.
Logat yang paling sering saya gunakan (saat ini) adalah Bali. Setahun yang lalu, saya ke Bali dan menikmati Bali seperti penduduk sekitar, bukan seperti turis yang memanfaatkan waktu se-efisien mungkin untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Saya mengenal begitu banyak orang Bali, memahami cara mereka berbicara satu sama lain. Dan aksen mereka terlalu kuat untuk dilupakan begitu saja.
Di luar sana, ada banyak orang yang sedang belajar bahasa asing untuk memudahkan mereka ketika mengunjungi negara lain. Inggris, Perancis, Spanyol, Korea, dan masih banyak lagi. Tapi seandainya saya diberi tawaran untuk mengunjungi Paris atau Miangas, saya jelas lebih memilih Miangas. Seandainya saya diberi pilihan untuk belajar Bahasa Spanyol atau Bahasa Dani, saya akan memilih Bahasa Dani.
Setiap orang memiliki passion-nya masing-masing, bakatnya masing-masing. Betapa mulianya mereka yang mampu memperkenalkan Indonesia pada dunia menggunakan bahasa-bahasa asing yang sangat sulit itu. Saya pun ingin semulia mereka, tapi di sisi lain.
Sejak dulu saya bercita-cita untuk mengunjungi daerah-daerah terpencil, berbaur dengan warga disana, mempelajari bahasa mereka, kemudian mengingatkan mereka bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia.
Kalian tahu betapa sulitnya anak-anak di daerah terpencil memahami kurikulum yang menggunakan Bahasa Indonesia sementara beberapa sekolah di perkotaan sudah menggunakan Bahasa Inggris? Kalian tahu betapa sulitnya menanamkan bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia dan kelak akan tumbuh dewasa untuk membangun daerah mereka, membangun Indonesia, dimana mereka bahkan harus menempuh perjalanan menggunakan kapal yang terjadwal sebulan sekali, menempuh perjalanan selama berhari-hari menuju ibukota provinsi mereka sendiri?

Kelak saya (atau salah satu dari kalian) akan menjadi teman mereka yang akan memperkenalkan Indonesia pada mereka, anak-anak Indonesia yang berada jauh dari Pulau Jawa. Saya akan menjunjung langit dimana saya berpijak. Sama seperti orang-orang yang akan memperkenalkan Indonesia pada negara lain menggunakan bahasa asing.


Sunday, December 1, 2013

Happy Birthday Cak Lombeng!

Namanya Dio Safrial Truna. Biasa dipanggil torkop, juragan soto, dan seminggu ini kami panggil dia Cak Lombeng, karena dia berhasil jadi tour guide kami ke Pantai Lombang (dalam bahasa Madura dibaca Longmbeng). DAN HARI INI DIA ULANG TAHUN KE 23!!!


Wish you a very happy birthday, Cak Mbeng! Semoga lancar jodoh, rejeki, usaha, dan segala-galanya dimudahkan. Terima kasih sudah pernah menjadi segalanya di hidupku. Mulai dari mak comblang, tour guide, teman nongkrong yang bisa dipanggil setiap saat, samsak tinju, ustadz, dan semuamuamuanya. Semoga Tuhan memberimu kebaikan lebih dari kebaikan yang selalu kamu beri ke aku!


Tuesday, November 12, 2013

Why don't you read this?

Why don't we break for lunch?
Why don't we go on vacation?
Why don't we watch the latest movie?
Why don't we read some book?
Why don't we sing together?
Why don't we talk about future?
Why don't we go for a date?
Why don't you love me?
Why do I keep asking?


Friday, November 8, 2013

Macet

Jika kalian adalah seseorang yang berangkat kerja melewati jalanan macet, beruntunglah. Ada banyak hal yang dapat kalian syukuri.
Hari-hari biasanya, saya hanya menghabiskan waktu sekitar 5 menit ke kantor dengan menggunakan sepeda motor, sekitar 15 menit menggunakan mobil. Tapi pagi ini, saya berangkat dari rumah keluarga saya yang berjarak sekitar 15 km dari kantor dan memakan waktu 50 menit jika menggunakan sepeda motor, dan sekitar 1,5 jam menggunakan mobil, jika berangkat di jam yang sama.
Macet, itu alasannya. Jalur yang saya lewati pagi ini adalah jalur orang berangkat kerja pada umumnya. Tapi sebenarnya ada banyak hal menyenangkan dari macet (kecuali atasan kita yang sudah lebih dulu tiba di kantor). Kita bisa mendengarkan musik lebih lama di jalan. Kita bisa menerka-nerka darimana orang-orang yang tak tahu aturan lalu lintas itu berasal, tiba-tiba saja mereka lewat di depan kita memotong jalan seperti iklan saat siaran langsung pertandingan sepakbola. Menyebalkan, tapi kita masih bisa sabar. Kita bisa melihat preman-preman yang masih muka bantal dan pandangan mereka masih kosong. Mungkin mereka sedang berpikir bagaimana caranya mendapatkan rokok pertama hari ini. Kita bisa melihat polisi-polisi yang sibuk mengatur lalu lintas. Jika beruntung, kita juga bisa bertemu dengan polwan yang masih muda dan cantik. Jika sial, mungkin kita akan bertemu bapak-bapak polisi dengan perut besarnya. Menyenangkan.
Entah kalian pernah membandingkan atau tidak, wajah-wajah korban kemacetan di pagi hari sangat berbeda dengan saat sore jam pulang kantor. Semua ingin buru-buru tiba di rumah dengan wajah penuh debu dan keringat, otak penuh beban kantor yang memaksa untuk dibawa pulang, dan bau badan semerbak dimana-mana. Yang di dalam mobil pun tak kalah menyedihkan. Lagu apapun yang mereka dengarkan kadang tak cukup menghibur dan justru merusak konsentrasi mereka dalam menginjak kopling. Alhasil, update status 'macet' pun berhamburan di media sosial. Menyedihkan? Tidak. Orang-orang yang kita lihat di sore hari, orang-orang yang penuh emosi dan terburu-buru itu membawa cerita yang lebih panjang dari tadi pagi. Walaupun mereka juga hanya memiliki sedikit sisa kesabaran. Mereka berhasil bertahan hidup selama sekian jam hari ini. Perjalanan pulang penuh kemacetan adalah saat yang paling tepat untuk introspeksi diri.
Bagaimanapun, kita harus menjalani keduanya kan?
Paling tidak, kita dapat mensyukuri keduanya. Dengan lamanya perjalanan pulang saya dan kemacetan yang saya alami, saya belajar satu hal. Saya bukan satu-satunya orang yang membawa beban ini pulang.


Thursday, October 31, 2013

Not Just #30DaysSaveEarth

Seorang anak lelaki berusia 22 tahun duduk di hadapanku, sibuk dengan laptopnya, mencari tiket untuk penerbangan ke Kalimantan untuk akhir pekan ini. Dengan rokok di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, dan tatapan tajamnya, dia terlihat lebih dewasa dari laki-laki seumurannya. Dia memang lebih dewasa. Dia salah satu donatur dan penggiat sebuah organisasi besar yang peduli lingkungan hidup, terutama penanaman sejuta pohon. Tidak hanya uang yang diberikan, tapi juga waktu dan tenaga. Minggu depan, dia turun langsung ke Kalimantan untuk memperbaiki daerah bekas pertambangan yang ditinggalkan oleh penambang-penambang liar. Membuatnya kembali menjadi hutan, seperti seharusnya.
Aku salut. Tapi cukup aneh melihat dia menghabiskan penghasilannya dan pemberian orang tuanya untuk hal-hal yang tidak menguntungkan secara materi baginya. Sementara anak-anak seumurannya masih sibuk menikmati penghasilan dari pekerjaan baru mereka dengan berbagai cara yang jauh lebih sederhana.
Aku bertanya, "Kenapa menurutmu penanaman pohon itu penting?"
Dia meneguk kopinya, tersenyum kecil, kemudian menjawab dengan singkat, "Karena aku perokok."
Dia tahu aku tidak puas dengan jawabannya, kemudian dia melanjutkan, "Aku perokok. Aku menggunakan kendaraan bermotor. Aku merusak bumi. Aku menanam begitu banyak pohon untuk menebus rasa bersalahku.."
Aku paham. Hanya saja.. Ironisnya, dia memperbaiki paru-paru dunia di saat yang bersamaan dengan dia merusak paru-parunya sendiri.
Aku tersenyum. Dan dia mengakhiri percakapan sore itu dengan kalimat,
"Jika kamu tidak bisa memperbaiki kondisi lingkungan, paling tidak, jangan pernah sesekali membuatnya jadi lebih buruk."

Kita tidak perlu menjadi hebat untuk bisa menyelamatkan bumi. Justru kita akan menjadi hebat jika kita mampu menyelamatkan bumi. Terlalu mudah bagi kalian untuk menjadi pahlawan lingkungan. Buang sampah pada tempatnya, pisahkan sampah organik dan non-organik, gunakan produk ramah lingkungan, kurangi pemakaian plastik, kertas, aluminium, dan lain sebagainya, hemat pemakaian air, jangan biarkan alat elektronik menyala dalam kondisi standby untuk waktu yang lama, pikirkan untuk mendaur ulang atau memberikannya pada orang lain sebelum kalian membuang sebuah barang masih bisa dipakai, dan masih banyak cara lainnya. Hari ini mungkin hanya saya yang memulai. Besok, saya dan salah satu dari kalian yang melakukan hal-hal tersebut. Mungkin besok ada tiga orang. Minggu depan? Bulan depan? Tahun depan?

Perlu kalian ketahui, bumi ini akan memiliki umur yang jauh lebih panjang jika kita tidak berada disini. Jadi sebagai makhluk yang berakal dan merasa lebih baik dari binatang, jangan sampai kita melakukan hal yang justru merusak tempat tinggal kita sendiri.

Terima kasih kepada @unidzalika dan @jungjawa yang telah mengadakan #30DaysSaveEarth selama Oktober kemarin. Sebuah event menulis tentang cara nyata untuk menyelamatkan bumi selama bulan Oktober. Bahwa sesungguhnya menyebarkan hal baik yang kita lakukan memang akan membuatnya jadi lebih baik.

Saya percaya, di antara kalian yang membaca tulisan ini, walaupun melewatkan #30DaysSaveEarth kemarin, akan berjanji di dalam hati untuk lebih peduli dengan lingkungan. Selama kalian menginjak bumi ini.


Thursday, October 24, 2013

Hasil Tes Kepribadian

Ini adalah hasil tes kepribadian saya:
The Visionary
ENTP sering digambarkan sebagai orang yang pintar, komunikatif, antusias, ramah, inovatif, fleksibel, dan setia. ENTP termotivasi oleh keinginan untuk memahami dan memperbaiki dunia mereka. Mereka mungkin memiliki rasa humor yang buruk dan kadang-kadang membuat kesalahpahaman dengan teman, rekan kerja, dan keluarga. ENTP cerdas dan mahir dalam mengarahkan hubungan antara sarana dan tujuan. Dalam lingkungan tim, ENTP yang paling efektif dalam perannya untuk menunjukkan kemampuan mereka, punya tingkat fleksibilitas yang tinggi, dan solusi inovatif untuk masalah. ENTP ini menganggap kalimat “itu tidak dapat dilakukan!” sebagai sebuah tantangan bagi dirinya.
ENTP adalah penemu yang introspektif, pragmatis, informatif, dan ekspresif. Mereka bisa menjadi sangat terampil di bidang teknik fungsional dan penemuan. Meski sangat ingin tahu. Mereka selalu mencari proyek baru, dan mereka memiliki karakter kewirausahaan. Merancang dan meningkatkan mekanisme dan produk adalah tujuan konstan Penemu.
Meskipun penuh dengan ide, ENTP tertarik pada pembuatan produk. Misalnya, mereka melihat desain produk sebagai sarana untuk mencapai tujuan, tujuan menjadi prototipe berharga. Ketika mulai sebuah proyek, mereka jarang mulai dengan blue print. Sebaliknya mereka dengan percaya diri dengan kemampuan mereka untuk langsung menemukan solusi yang efektif dan pragmatis selama proses desain.
ENTP cenderung santai, tidak menghakimi, dan pembicara yang baik. Mereka sangat siap menjelaskan ide mereka sendiri, dan selalu ingin memahami ide-ide kompleks orang lain. Dalam perdebatan dengan argumen mereka, sering lawan mereka kalah. Strategi ini dapat menjadi bumerang, bagaimanapun, mereka dapat menjadi agresif.
ENTP biasanya orang cerdik yang mampu memenuhi tuntutan dari situasi yang menantang. Dalam pekerjaan, mereka cenderung menjadi pemimpin yang baik. Terus mencari cara baru untuk melakukan sesuatu, ENTP biasanya memiliki dorongan dan keterampilan sosial untuk melaksanakan ide-ide mereka.
Ringkasan: Gesit, inovatif, merangsang, waspada dan banyak bicara. Banyak akal dalam memecahkan masalah baru dan menantang. Mahir menghasilkan kemungkinan-kemungkinan konseptual dan kemudian menganalisa mereka secara strategis. Pandai membaca orang lain. Bosan dengan rutinitas, jarang akan melakukan hal yang sama dengan cara yang sama, cenderung beralih ke hal baru yang menarik.
Kata kunci: Kreatif, pemecahan masalah di tingkat sistem, analisis, teknis, kewirausahaan.
Karir pekerjaan: Ilmu, manajemen, teknologi, seni, pemasaran, komputer profesional, psikiater.
Jadi untuk teman-teman atau siapapun yang pernah salah paham dengan selera humor saya, saya minta maaf.. Saya baru sadar sekarang hehehehe..


Wednesday, October 23, 2013

Pantai Papuma

"Jangan kesiangan berangkatnya.."
"Jangan kemaleman berangkatnya.."
Yang satu cuma bisa nyetir pas siang, karena kalo malem matanya ga beres. Yang satu lagi cuma bisa nyetir malem karena kalo siang dia ngantuk dan ga suka banyak warga sekitar seliweran. Ya gini jadinya. Tapi akhirnya kami berangkat jam 3 sore ke Jember, setelah direncanakan... dua jam sebelumnya.
Dio, Rio, dan Ula. Mereka partner saya November lalu untuk ke Tanjung Papuma, Selatan Jember. Kami berangkat tanpa tahu dimana letaknya, hanya mengandalkan 'ijo-ijo' (papan penunjuk jalan) dan itupun sering kelewatan, akhirnya ya mengandalkan mulut untuk bertanya.
Perjalanan ga begitu mulus, berangkat jam 3, jam 8 malam kami masih makan malam di daerah antah berantah. Ternyata Probolinggo itu luas banget, belum lagi sempet kejebak macet di perbatasan. Mana hujan pula, dan lampu mobil Ula agak bermasalah. Hujan reda begitu kami masuk ke Jember. Otak mereka bertiga agak seger setelah jam 10 malem masuk ke Indomaret yang sedingin kulkas dan ketemu mbak-mbak kasir yang cantik banget. Kayaknya mereka lupa kalo mereka pergi sama perempuan yang ga kalah cantik.
Kelar belanja, nyasar-nyasar di jalanan Jember, akhirnya kami sampai di salah satu pintu masuk Pantai Papuma, jam 11 malam. Tapi pintunya ditutup, hanya ada gapura dan jalan tanpa ujung menuju ke hutan. Ga lama kami berhenti, ada bapak-bapak tua yang menunggu untuk didatangi. Turunlah Dio, Rio, dan Ula untuk tanya dimana jalan masuk ke Papuma. Bapaknya itu bilang ya lewat jalan itu, dan dia punya kuncinya. Pas bapaknya ambil kunci di rumahnya, anak tiga itu diskusi di mobil dan ngerasa ada yang aneh. Mereka yakin bukan cuma ini jalan masuknya. Akhirnya, kami minta maaf ke bapak itu untuk batal lewat jalan yang ke arah hutan itu. Kami jalan terus.
Ga lama, ada belokan ke kanan dan tulisan "Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma". Tanpa ragu kami belok dan sepanjang jalan itu ternyata semacam gurun pasir gersang dengan sedikit semak, bunyi debur ombak mulai kedengeran. Ga lama, ada pos penjagaan yang asal jadi, kami ditanya kemana, lalu diminta retribusi untuk masuk. Hanya 20.000 rupiah untuk satu mobil waktu itu. Kemudian orang itu menunjukkan jalan.
Kami masuk ke jalanan yang ga lebih rata dari dinamika kehidupan kami. Maaf, curcol. Jalannya memang naik-turun dan dikelilingi hutan. Akhirnya, kami sampai di Pantai Papuma. Ada portal yang terbuka dan jalan ke arah lobby hotel yang mirip tempat pertemuan terbuka. Cuma ada satu orang penjaga disitu. Kami pesan kamar yang paling murah dan yang ready saat itu juga. Believe it or not, cuma 80.000 rupiah udah bisa dapet kamar dengan bed gede, kamar mandi shower, AC, dinding kayu, dan mobil bisa parkir di depannya persis. Tapi berhadapan langsung sama hutan, dan kata penjaga, di dalam hutan ada biawak dan monyet. Beberapa dari kami takut sama biawak, beberapa lagi takut sama bayangan putih-putih yang makin lama makin deket ke kamar. Dan tidur adalah cara melarikan diri yang terbaik.
Paginya, saya yang terakhir bangun. Dio sudah keliling pantai sejak subuh, menikmati matahari terbit. Sedangkan Rio dan Ula masih menatap nanar monyet-monyet di depan kamar.

Monyet-monyet depan kamar. Keliatan?

Dengan memberanikan diri, kami semua jalan ke pantai menghindari monyet-monyet. Ternyata pantainya baguuuuus banget! Ga rugi nyasar berjam-jam demi pemandangan yang tenang dan cerah kayak gini!


 
Ada karang yang menjulang tinggi di satu sisi Pantai Papuma. Karang ini kadang bisa didatangi, tapi tergantung tinggi air dan ombak. Ternyata Papuma juga punya sisi lain. Karena bentuknya tanjung, sisi lain Pantai Papuma butuh didaki. Setelah mendaki ada pantai yang cukup berbeda dengan sisi sebelumnya. Di balik tebing, pantainya lebih berbatu dan ombaknya jauh lebih tinggi karena letaknya yang memang tidak terlindungi oleh karang-karang tinggi. Di sisi lain ini tidak ada satupun perahu nelayan yang disandarkan.

Ini tebing yang harus didaki untuk ke sisi lain Pantai Papuma.

Ini pemandangan dari atas tebing. Di seberang ada pulau karang yang cukup besar.

Ini karang lain yang juga jadi identitas Pantai Papuma.

Tekstur pantai di sisi lain Pantai Papuma.

Puas duduk diam, mengobrol, dan menikmati pemandangan yang ga ada di Surabaya, kami balik ke pantai yang sebelumnya untuk mencari sarapan. Di pinggir pantai, banyak warung yang menjual masakan olahan hasil laut dan masakan khas Jawa Timur yang harganya sangat terjangkau. Lelah dan kenyang, berjalan menuju kamar hotel, gantian mandi, lalu pulang dengan membawa cerita dan tape singkong. Buat yang mau tau kenapa kami pulang bawa tape? Boleh dibaca disini yang mana cerita itu juga pernah diposting dalam event ini.
Oh iya, satu hal yang kami ulangi di perjalanan pulang adalah mengandalkan 'ijo-ijo' sebagai penunjuk jalan (kali ini lebih gampang karena di setiap papan ada tujuan Surabaya) dan mampir ke Indomaret sedingin kulkas yang mbak kasirnya cantik. Dan beruntungnya ketiga teman saya, karena (entah kenapa) mbaknya belum ganti shift.

Catatan untuk kalian yang mau ke Papuma:
- Usahakan sampai disana siang hari, karena jalanan ke Jember agak kurang bersahabat dengan pencahayaan. Selain itu juga supaya bisa menikmati matahari terbenam. Karena bentuk Papuma yang tanjung, kalian bisa menikmati matahari tenggelam maupun terbit.
- Sempatkan mampir ke Pantai Watu Ulo, pantai yang ada sebelum masuk ke Pantai Papuma. Legenda disana, ada bebatuan yang terbentuk dari seorang pangeran yang melawan ular raksasa.
- Jelajahi hutan di Pantai Papuma. Ada banyak yang bisa dikunjungi disana, meskipun sepi. Termasuk Gua Lawa dan beberapa tempat lain. Peta lokasi menarik dalam kawasan Tanjung Papuma tersedia di dinding lobby (yang juga bisa disebut ruang pertemuan) hotel.
- Ada berbagai macam kamar di hotel. Mulai dari yang berkonsep seperti kamar hotel pada umumnya, juga seperti cottage. Harganya (saat itu) mulai dari 80.000 rupiah sampai sekitar 400.000 rupiah.
- Hati-hati dengan pihak yang menagih pungutan liar (jika ada), karena jalan untuk masuk ke Pantai Papuma memang ada beberapa. Tanyakan dengan baik pada petugas yang meminta pungutan jika memang kalian curiga. Dan setelah membayar, pasti diberi karcis. Bahkan kami waktu itu, tengah malam, tetap diberi karcis resmi.
- Pelajari sisi lain Papuma. Terlalu menarik bagi saya untuk memahami ada masalah apa di balik dua jalan masuk ke Pantai Papuma yang katanya juga ada perselisihan antar pemerintah daerah setempat dalam pengelolaan lokasinya. Mungkin ini bisa jadi judul penelitian sosial politik yang bagus untuk bidang terkait.
- Jaga barang bawaan kalian. Ya bukan hanya di Papuma, di setiap tempat harus menjaga barang bawaan sih.. Tapi kadang jika kita pergi ke tempat yang sangat menarik, kita lupa dengan barang bawaan kita.
- Jangan sesekali berenang di pantainya. Kecuali ada pemandu setempat yang memberikan titik penyelaman. Sudah ada peringatan di pinggir pantai untuk tidak menceburkan diri. Ya kecuali kalau memang berniat bunuh diri. Tekstur dasar pantai atau laut pesisir Papuma (dan kebanyakan pantai selatan Jawa) memang curam, bahkan di beberapa titik malah seperti jurang dasar laut. Didukung dengan ombaknya yang tinggi, pantai selatan selalu bisa menjadi tempat bunuh diri yang bagus, kemudian masyarakat akan menyalahkan Ratu Pantai Selatan. Kasihan Sang Ratu, hidup tenang di alam-Nya, masih saja sering dipersalahkan atas kebodohan manusia..
- Selebihnya, bisa dicek di website resmi Papuma walaupun sepertinya kurang update dan beberapa tidak sesuai dengan kenyataannya. 

Monday, October 21, 2013

Jangan Pernah Update Status 'I Hate Monday'

Sampai detik ini saya masih cukup heran dengan kalimat-kalimat keluhan tentang hari Senin di media sosial. Apa susahnya hari Senin? Apa bedanya Senin dengan hari yang lain?
Sejak sekolah, saya menganggap Senin biasa saja, kadang justru terasa spesial. Mungkin kali ini saya bisa membagi tips agar Senin kalian sama seperti Senin saya.


1. Siapkan hari Senin kalian di Jumat sore. Misalnya untuk yang masih kuliah, siapkan buku, tugas, dan baju kalian di Jumat sore, supaya tidak ada beban di akhir pekan. Sedangkan untuk yang bekerja, jangan lupa bersihkan meja kerja sebersih dan serapi mungkin sebelum meninggalkannya di akhir pekan. Sesampai di rumah, siapkan baju dan barang-barang yang harus dibawa ke kantor. Kebiasaan kecil seperti itu mampu membuat perubahan besar untuk lebih menikmati akhir pekan dan lebih siap menghadapi Senin.
2. Habiskan Minggu malam dengan hal yang menyenangkan. Ini selalu saya lakukan sejak entah kapan sampai detik ini. Saat kuliah, saya selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan teman-teman di Minggu malam untuk mengerjakan tugas. Walaupun sebenarnya tugas itu tidak dikumpulkan di hari Senin. Carilah tempat yang sederhana, yang penting bersama teman-teman. Dulu, saya selalu berkumpul bersama teman di teras kampus. Sebagian mengerjakan tugas, sebagian menonton sepakbola, sebagian lagi sebagai penggembira membawa gorengan dan es teh. Tapi ingat satu hal, jangan pulang larut malam. Hitung jam tidurmu, jadi pulanglah sebelum jam itu.
3. Jangan terlalu banyak tidur di akhir pekan. Secara medis, tidur 'pembalasan' di akhir pekan tidak akan menyehatkan tubuh. Justru itu akan merusak metabolisme tubuh yang sudah terbiasa dengan jam tidur sehari-hari. Saya pernah menghabiskan setiap malam dengan tidur hanya 4 jam, kemudian berniat tidur selama 10 jam di akhir pekan. Tidak berhasil. Saya bangun setelah tidur 8 jam dengan kepala berat dan hal itu justru mengharuskan saya meminum obat sakit kepala dan tetap berada di atas tempat tidur. Tidak percaya? Coba saja habiskan Minggu kalian dengan tidur sepanjang hari, bangun hanya untuk makan dan ke toilet. Di Senin pagi, kalian pasti akan lebih tidak bertenaga untuk bangun. Lagipula, apa untungnya menghabiskan waktu hanya untuk tidur?
4. Buatlah motivasi. Tunda sesuatu yang menyenangkan untuk diwujudkan di hari Senin. Entah itu mengakses situs-situs yang sudah direncanakan dengan memanfaatkan jaringan internet kampus/kantor (tapi ada beberapa kantor melarang hal ini), makan siang dengan menu spesial, sekedar mendengarkan lagu-lagu yang baru masuk ke playlist saat perjalanan ke kampus/kantor, atau makan malam bersama pacar. Bagi saya, makan malam atau menonton film dengan pacar di Senin malam itu harus diusahakan. Yaaa.. mungkin juga karena harga tiketnya lebih murah, jadi sekaligus membantu menghemat pengeluaran pacar. Lumayan buat tabungan nikah. Bukan sebuah keharusan untuk bertemu dengan orang pacar di hari Sabtu karena Sabtu biasanya semua restoran fully booked, bioskop penuh, dan jalanan macet. Sementara saya duduk manis di depan televisi menonton sepakbola, walaupun kadang juga bersama teman atau pacar. Tidak punya pacar untuk mengakhiri Senin malam kalian? Masih ada teman. Tidak ada teman? Masih ada keluarga. Tidak punya siapa-siapa? Masih ada salon. Atau toko buku. Atau butik-butik lokal. Ah, terlalu banyak hal yang menyenangkan di dunia ini..
5. Be a morning person. Lebih baik jika melakukan ini setiap hari. Tapi jika tidak memungkinkan karena hari-hari lainnya kamu pulang terlalu larut, usahakan bangun lebih pagi di hari Senin. Lakukan hal-hal menyenangkan seperti memasak untuk sarapan, menonton berita sambil minum kopi, apapunlah, yang penting menikmati pagi seperti orang-orang yang tidak dikejar waktu.
6. Terlanjur mendapatkan Senin yang menyebalkan walaupun sudah melakukan semua yang disarankan? Ceritakan. Bukan mengeluh, tapi ceritakan secara detail apa yang terjadi hari ini pada orang terdekat kalian. Atau bisa juga menuliskan semuanya. Kemudian baca lagi. Pahami apa atau siapa yang salah, sikapi dengan bijak, bukan dengan emosi. Buatlah agar hal-hal menyebalkan itu tidak terulang di hari-hari selanjutnya. Akhirnya pasti Senin kalian berakhir menyenangkan dengan mandi air hangat kemudian beranjak tidur tanpa beban di kepala.

Tapi ada sebagian orang yang tidak perlu melakukan saran-saran di atas untuk menjadikan hari Senin sebagai hari yang biasa saja. Mungkin karena mereka mampu mensyukuri apa yang mereka miliki di hari Senin. Menjadi orang yang terlalu sibuk dengan pekerjaan ataupun pendidikan, jauh lebih beruntung daripada mereka yang sampai detik ini masih menghabiskan Senin-nya dengan mencari lowongan pekerjaan, atau bahkan tidak mampu menikmati pendidikan di perguruan tinggi. Syukuri kesibukan kalian.

*Photo by @humanesketch


Saturday, October 12, 2013

"Should I tell you that I love you?"
"No, tell them that we are in love."


Tuesday, October 8, 2013

Bukan Lemah, Hanya Merasa Lemah

You said I'm weak, but I can do what you can't. Kicked enough?
Jahat sih, tapi saya memang selalu merasa bangga jika mampu melakukan hal yang orang lain tidak bisa. Tapi saya sadar, di atas langit memang masih ada langit, maka dari itu saya juga tidak akan pernah berhenti berusaha untuk membuktikan bahwa saya bisa melakukan apapun yang mereka bisa, maupun tidak bisa.
Arogan, angkuh, sombong, atau entah apa kata mereka. Tapi saya menyimpan kebanggaan ini dalam-dalam. Karena latar belakang setiap orang beda-beda, penilaian setiap orang beda-beda. Buktinya saja, kebanggaan terbesar saya sampai saat ini belum bisa dimengerti orang lain. Ketika orang membanggakan prestasi akademis mereka, penampilan fisik, harta, dan segala hal yang kasat mata, saya malah membanggakan perasaan saya.
If you feel you are weak, there you'll be.
Saya percaya penuh kalimat itu, karena saya pernah mengalaminya. Dihadapkan dengan persaingan bersama orang-orang yang menurut saya lebih hebat, akan membuat saya minder. Mungkin beda dengan yang lain, yang justru menjadi itu motivasi. Saya tipe orang yang jauh lebih sombong. Saya bisa lebih hebat, untuk apa harus takut gagal? Seandainya pun saya gagal, saya selalu percaya di luar sana ada keberhasilan yang lebih baik menunggu saya. Entahlah, saya hanya selalu merasa Tuhan sayang pada saya. Sangat sayang.
Sifat optimisme saya yang agak kurang sadar diri ini membuat saya bangga ketika fisik saya hancur, dalam keadaan yang sangat terpuruk, dan di bawah pengaruh obat yang efeknya sangat kuat, saya masih mampu mempertahankan apa yang dinamakan profesionalisme dengan mewawancara narasumber ketika saya melakukan penelitian sosial. Dan saya bangga, karena mungkin orang lain yang dihadapkan dalam keadaan seperti saya saat itu akan jatuh pingsan. Secara medis, memang itu yang seharusnya terjadi. Entah otak yang melawan hati, atau sebaliknya. Saya hanya merasa, jika semua sisi kehidupan saya hancur, paling tidak saya harus membuat satu sisi menjadi sangat baik untuk 'membayar' kehancuran sisi lain.
Bukan karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda, melainkan karena setiap orang memiliki semangat yang berbeda. Itulah kenapa ada orang-orang yang bisa, dan tidak bisa. Selama kita memiliki semangat yang tinggi, kita pasti bisa. Selama kita percaya bahwa kita bisa, kita akan menjadi seorang yang kuat.
Sekedar mengingatkan, Ludwig Van Beethoven adalah seorang tuna rungu. Sedangkan Hellen Keller adalah tuna netra sekaligus tuna rungu. Dan mereka bisa melakukan apa yang kamu BELUM bisa.


Friday, October 4, 2013

Takdir

Ada hal-hal yang tetap harus pergi meskipun susah payah kita pertahankan.
Ada juga hal-hal tak akan pernah bisa menjauh meskipun kita selalu berusaha melepaskannya.
Sia-sia menentang takdir.


Thursday, October 3, 2013

Pantai Ngobaran

Oktober 2011 yang lalu saya sama Eta, Sidik, Ridho, dan Dio ke Pantai Ngobaran jam 12 malam setelah makan tengah malam di soto sampah, soto paling enak di Yogyakarta. Di perjalanan, saya akui skill Sidik di dunia persetirmobilan memang sangat tinggi, tapi Ridho malah jackpot di tengah jalan. Ew.
Sampai di Pantai Ngobaran kepagian, sekitar jam setengah 4 pagi. Saya tidur di saung yang ada di dekat parkiran mobil, dan diiringi deburan ombak yang menghantam tebing, sementara Eta dan Dio sibuk mengobrol urusan lelaki. Sidik dan Ridho lenyap di alam mimpi lebih dulu di dalam mobil. Matahari hampir terbit, saya bangun.
Saya cinta pantai. Masa kecil saya dihabiskan di pesisir Tahuna, wilayah paling utara Indonesia. Tapi saya belum pernah sekalipun ke pantai selatan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Dan ternyata saya lebih suka pantai selatan DIY dibandingkan semua pantai yang pernah saya datangi, ombaknya bagus seperti tangan yang melambai, debur ombaknya pun beda, jauh lebih keras namun juga menenangkan di telinga. Saya betah jika harus duduk berjam-jam tanpa melakukan apapun di pinggir pantai selatan.
Keunggulan Pantai Ngobaran adalah sepi, karena letaknya yang cukup jauh, atau mungkin karena memang sedang sepi. Selain itu juga disana ada semacam pura lengkap dengan patung atau arca di atas tebing. Jadi, jika kita duduk di tepian tebing tempat pura itu berdiri, DIY bisa terasa seperti Bali.
Menurut cerita yang berkembang, pantai ini berhubungan erat dengan Prabu Brawijaya V. Prabu Brawijaya V adalah keturunan terakhir kerajaan Majapahit yang kabur dari istana bersama dua istrinya, Bondang Surati dan Dewi Lowati, karena menolak diislamkan oleh anaknya sendiri, Raden Patah, Raja I Demak. Mereka melakukan perjalanan sampai ke pedalaman lalu akhirnya menemui jalan buntu di pantai ini. Kemudian Prabu Brawijaya V memutuskan untuk membakar diri. Namun sebelum masuk ke dalam api, Prabu Brawijaya V bertanya ke kedua istrinya, "Wahai para istriku, siapa di antara kalian yang paling besar cintanya padaku?"
Dewi Lowati sebagai istri kedua, menjawab, "Cinta saya kepada Tuan sebesar gunung."
Sedangkan Bondang Surati sebagai istri pertama menjawab, "Cinta saya kepada Tuan seperti kuku hitam, setiap selesai dipotong pasti akan tumbuh lagi."
Jawaban itu menunjukkan bahwa cinta Bondang Surati tak akan pernah habis untuk suaminya dan akan selalu tumbuh. Setelah mengetahui jawaban kedua istrinya, Prabu Brawijaya V menarik Dewi Lowati untuk ikut membakar diri ke dalam api yang membara. Kemudian keduanya tewas hangus terbakar. Prabu Brawijaya V memilih Dewi Lowati karena menurutnya, cinta istri keduanya itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan istri pertamanya. Akhirnya pantai itu disebut Pantai Ngobaran yang berasal dari kata kobaran.
Konon tempat ini menjadi tempat peribadatan penganut kepercayaan Kejawan (bukan Kejawen) yang merupakan nama salah satu putra Prabu Brawijaya V, Bondhan Kejawan. Selain itu juga ada joglo yang digunakan sebagai peribadatan para pengikut kepercayaan Kejawen. Entah apa bedanya, belum ada yang dapat menjelaskan.
Di balik budaya yang berkembang itu, kebenaran tentang cerita asal-usul Pantai Ngobaran masih diragukan oleh banyak sejarahwan. Karena sangat diragukan Raden Patah memaksa ayahnya untuk memeluk Islam. Dalam cerita ini, seolah-olah Islam adalah agama yang disebarkan dengan cara kekerasan. Sangat berlawanan dengan penyebaran Islam di daerah dan tokoh lain. Banyak cerita juga menyebar bahwa yang terbakar bukanlah Prabu Brawijaya V, melainkan seekor anjing peliharaannya karena tulang-tulang yang ditemukan adalah belang yoyang (tulang belulang anjing). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Prabu Brawijaya V hanya berpura-pura membakar diri agar Raden Patah berhenti mencarinya.
Bagaimanapun, pantai ini tetap mempesona dengan pemandangan matahari terbitnya.




Foto-foto di atas adalah beberapa hasil foto Eta dengan EOS 500D birunya, editing cuma di resize karena saya tidak mau menghabiskan waktu lama hanya untuk menunggu uploading.

Ini satu-satunya foto Sidik yang ada di Pantai Ngobaran. Dari kualitas fotonya, sudah bisa ditebak ini garapannya Dio.

Ini Ridho dan Dio dengan pose terbaik mereka.

Sebenarnya di tepi pantai ada rumah makan yang menyediakan masakan hasil laut, tapi mungkin karena waktu itu bukan musim liburan dan akhir pekan, jadi tutup. Disana juga disediakan kamar mandi dan toilet yang cukup pantas, bukan toilet asal jadi. Di pinggir pantai ada beberapa saung yang cukup pantas untuk menjadi tempat tidur dan duduk-duduk santai. 
Menjelang siang, kami bersiap untuk pulang. Kami menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk minum kopi di warung kopi milik penduduk sekitar.
Akhirnya kami pulang dengan wajah berlapis embun Pantai Ngobaran, tertidur pulas di dalam mobil sampai akhirnya tiba di rumah Kotabaru dan melanjutkan tidur sampai sore.


Wednesday, October 2, 2013

Batik!

Selamat Hari Batik, Indonesia!
Batik adalah kebudayaan Indonesia sekaligus warisan dunia. Batik berasal dari bahasa Jawa yang berarti amba (menulis) dan titik (titik) karena proses pembuatannya memang seperti menulis menggunakan canting yang berisi cairan lilin, lalu kain tersebut dicelupkan ke dalam cairan warna. Proses pewarnaan cukup rumit dan panjang, sampai akhirnya kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.
Batik sendiri terdaftar dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh UNESCO (United Nations Scientific and Organization) pada tanggal 2 Oktober 2009 dalam acara Fourth Session of the Intergovernmental Committee (4.COM) di Abu Dhabi, United Arab Emirates. Tepat saat kita masih bersitegang dengan negeri seberang karena mereka mengakui batik adalah budaya mereka.
Pengakuan itu bisa terjadi mungkin karena kita lengah dalam mempertahankan budaya kita sendiri. Tidak sepenuhnya salah, karena dulu, makna batik yang berkembang dalam masyarakat adalah pakaian yang sangat formal dan hanya digunakan dalam acara-acara penting atau bangsawan-bangsawan Jawa. Indonesia pun tak hanya Jawa, jadi cukup berat untuk bisa bersama-sama mempertahankan batik.
Setelah adanya kasus dengan negeri seberang itu, batik mengalami pergeseran makna. Mulai banyak yang menggunakan batik sehari-hari. Model-model pakaian batik yang disesuaikan dengan jaman pun mulai dijual bebas dimana-mana. Tidak hanya pakaian, batik juga mulai digunakan sebagai kain tas, sandal, dan bermacam-macam aksesoris lainnya. Indonesia mulai melakukan segala cara untuk menunjukkan, "Ini batik, dan ini milik kami!"
Pelajaran besar untuk Indonesia agar lebih menghargai budaya sendiri, agar lebih bangga dengan apa yang kita miliki sendiri sebelum menerima kebudayaan bangsa lain. Kita yang terlalu sibuk dihujam brand-brand fashion luar negeri, pernah hampir meninggalkan batik.
Tapi ini belum selesai. Indonesia masih punya banyak budaya yang menuntut untuk dipertahankan, sebelum hilang tergerus jaman, atau dicuri dalam pengakuan bangsa lain. Kain khas daerah lainnya, pakaian adat, bahasa daerah, tarian daerah, dan masih banyak lagi hal-hal yang mulai terlupakan karena kita terlalu sibuk mempelajari budaya luar. Jadi, jangan berhenti di batik, Indonesia!


Saturday, September 28, 2013

Something I can't repeat; moment.
Something I can't buy; feeling.
Something I can't get; you.


Friday, September 6, 2013

Yang terlalu sibuk menghitung bintang, pasti lupa ada satu bulan yang menerangi.


Wednesday, June 26, 2013

Catatan Kecil tentang Kenaikan Harga BBM

Harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi naik menjadi Rp6.500,- per liter untuk Premium dan Solar menjadi Rp5.500,- per liter. Sebelumnya, kedua jenis BBM tersebut berada di angka Rp4.500,- per liter. Kenaikan harga ini berlaku mulai tanggal 22 Juni 2013 pukul 00.00 di seluruh Indonesia setelah hasil voting terbuka pada rapat paripurna DPR RI yang dilaksanakan pada 17 Juni 2013. Dalam rapat tersebut, 65% anggota DPR yang hadir menyetujui RAPBN-P 2013 yang berisi dana kompensasi kenaikan harga BBM bersubsidi.

Di luar gedung, opini masyarakat terus mengalir baik di media sosial maupun melalui unjuk rasa yang terjadi di beberapa kota. Tidak seperti tahun-tahun saat isu kenaikan harga BBM digulirkan sebelumnya, kali ini opini masyarakat cukup beragam. Jika dulu kita melihat seluruh masyarakat menolak kebijakan untuk menaikkan harga BBM, kali ini tidak sedikit yang mendukung kebijakan ini. Hal ini terlihat dari tulisan-tulisan yang muncul di media sosial baik Twitter maupun Facebook, seperti:

"Beli rokok Rp12.000,- per hari bisa, bensin cuma naik Rp2.000 seliter aja protesnya gila-gilaan."
"Mobil mewah tapi BBM maunya pakai yang murah. Rakyat Indonesia ga bisa dimanja terus."

Kalimat-kalimat ini menujukkan bahwa rakyat Indonesia mulai terbuka dalam menerima perubahan. Atau mungkin mereka memang sudah berubah, sehingga sudah cukup siap pula untuk menerima perubahan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Setelah harga BBM bersubsidi naik, harga barang kebutuhan sehari-hari dan tarif transportasi umum pun naik. Sebagian besar naik secara perlahan, sebagian lagi langsung melonjak ke angka yang tinggi. Ditambah lagi kondisi yang mendekati bulan puasa ataupun lebaran, tentu tidak akan mudah bagi rakyat kecil untuk membeli kebutuhan sehari-hari mereka. BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) senilai Rp150.000,- pun diturunkan untuk menepati janji pemerintah pada rakyat kurang mampu yang terdaftar. Bantuan ini justru menjadi kontroversi di tengah masyarakat karena banyak anggapan bahwa kriteria penerima BLSM tidak sesuai dengan kenyataannya. Cukup banyak ibu-ibu dengan kalung emas atau bapak-bapak dengan sepeda motor keluaran terbaru yang mengantri di Kantor Pos setempat untuk mengambil BLSM mereka. Belum lagi mereka yang terlihat sangat tidak mampu malah tidak terdaftar sebagai penerima BLSM. Selain itu, ada banyak nama warga yang telah lama meninggal dunia terdaftar menjadi penerima BLSM. Itu hanya sebagian kecil masalah pendistribusian BLSM di tengah masyarakat.

Pemerintah harus memperbaiki permasalahan ini sampai ke akarnya. Tidak hanya dalam hal pendataan penerima BLSM, tetap mungkin juga harus mengkaji ulang kebijakan ini. Menurut saya, pemberian BLSM ini tidak mendidik masyarakat. Kemiskinan yang ada di tengah rakyat Indonesia saat ini tidak hanya mengenai tingkat kesejahteraan hidup mereka, melainkan juga mental mereka. Orang-orang yang bermental miskin, akan terus merasa dirinya miskin, selalu ingin dimanja dengan bantuan-bantuan yang diberikan pemerintah, meskipun sebenarnya mereka sudah cukup mampu dan tidak berhak menerima bantuan itu. Dalam hal ini, yang harus diperbaiki adalah mental mereka, bukan kondisi keuangan mereka. Maka dari itu, ada baiknya jika saya boleh memberi saran pada pemerintah, kaji ulang kebijakan ini. Alangkah lebih baik jika yang diberikan adalah pendidikan untuk berwirausaha dan bunga kredit yang murah bagi pelaku usaha kecil agar mereka dapat menjadi masyarakat yang mandiri, yang membantu Indonesia menjadi lebih kuat dan kaya.

Sementara BLSM tetap terdistribusi dengan berbagai permasalahan di dalamnya, tarif angkutan umum sudah naik terlebih dahulu sebelum dikeluarkannya keputusan dari pemerintah. Umumnya, media memberitakan kenaikan tarif angkutan umum ekonomi di Jakarta berkisar antara 30-50%, padahal pemerintah belum menetapkan kenaikan tarif angkutan umum. Tanggapan pengguna angkutan tentang kenaikan tarif ini pun beragam saat diwawancarai oleh media. Ada yang mengatakan keberatan dan mempertanyakan hal itu pada supir angkutan, ada pula yang mengatakan wajar sehingga menerima harga yang ditetapkan supir sendiri. Tapi ada satu tanggapan yang cukup menarik untuk saya. Beberapa pengguna angkutan tersebut mengatakan, "Ya mau bagaimana lagi, ikut aja lah."

Kalimat itu menunjukkan betapa lemahnya mereka sebagai rakyat di bawah bendera Indonesia yang memegang asas-asas demokrasi. Mereka butuh dorongan untuk sadar bahwa kedaulatan negara ini, ada di tangan mereka. Hal kecil seperti ini sangat berbahaya ketika menjadi besar. Kelak setiap warga negara akan tunduk kepada apapun keputusan pemerintah dan tidak memiliki daya untuk melawan, atau menunjukkan apa mau mereka. Demokrasi akhirnya hanya akan menjadi sejarah bagi bangsa yang besar ini.

Jika dihubungkan kembali ke awal, ke opini masyarakat dalam menanggapi isu kenaikan harga BBM, pemikiran ini menjadi fatal. Dampaknya, bukan cuma tidak akan ada lagi unjuk rasa yang menentang kenaikan harga BBM, namun juga tidak ada yang akan bersuara lantang mendukung isu ini. Ketakutan terbesar saya bukanlah seluruh rakyat memberontak pemerintahan yang sedang berlangsung, melainkan sikap apatis masyarakat yang akan terus berkembang. Perlu adanya pendidikan tentang politik untuk seluruh lapisan masyarakat, terutama rakyat yang sangat jauh dari hingar-bingar politik. Jangan hanya sosialisasi saat mendekati pemilihan umum, tapi juga penjelasan tentang hak dan kewajiban mereka sebagai Warga Negara Indonesia. Kekuatan bangsa ini ada di tangan mereka.

Ketika masyarakat mulai sadar bahwa mereka bukanlah sekedar rakyat di bawah pemerintah, mereka akan tumbuh menjadi masyarakat yang mandiri. Seperti yang terjadi di daerah Pacitan. Diberitakan di media bahwa tingginya harga distribusi bahan pangan untuk masuk ke Pacitan karena kenaikan harga BBM membuat masyarakat setempat memaksimalkan potensi daerah mereka. Cabe, misalnya. Produksi cabe di Pacitan mulai merangkak naik karena tingginya permintaan dan harga yang menyesuaikan. Para petani cabe juga merasa jerih payah mereka lebih dihargai. Dampak-dampak positif seperti ini perlu disebarkan agar masyarakat di daerah lain juga memiliki usaha untuk mengatasi naiknya harga-harga kebutuhan. Kelak Indonesia akan menjadi bangsa yang mandiri, yang kuat, dan tidak takut akan perubahan ekonomi dunia.

Jangan terlalu pesimis menilai bangsa ini, kita harus optimis dalam menghadapi segala perubahan. Jadikan perubahan ini untuk mengembangkan diri kita menjadi warga negara yang lebih baik dan menghargai apa yang telah pemerintah upayakan untuk kita. Tolak dengan tegas apa yang buruk bagi kita, upayakan apa yang memang seharusnya menjadi hak kita. Kurangi sikap-sikap anarkis yang merusak bangsa kita sendiri dalam proses penyampaian penolakan atau dukungan atas hal tersebut. Pertimbangkan berbagai perbedaan dalam bangsa ini, dan cari titik tengahnya secara bijaksana. Kita memang berbeda, terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dan kondisi daerah yang berbeda-beda pula. Tapi jika kita memiliki satu tekad yang sama untuk memperbaiki bangsa ini, kita akan menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera, dimanapun kita berada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semoga tidak ada lagi orang-orang apatis di dalam negara ini, semoga setiap warga negara mulai sadar bahwa ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki perekonomian mereka secara mandiri. Karena masa depan Indonesia, kita yang menentukan. Apa yang sudah Anda lakukan untuk menentukan masa depan bangsa ini?


Ada orang-orang yang hidupnya terlalu sibuk memberikan reaksi sehingga lupa melakukan aksi.


Monday, June 24, 2013

Ketika Hape Menjadi Tape di Pantai Papuma

November pagi itu kami berempat lelah dengan perkuliahan. Keluar kelas dengan langkah lunglai menuju ke kantin. Kebiasaan yang sama setiap hari selama lebih dari tiga tahun. Sampai akhirnya salah satu teman saya bertanya, “Pernah ke Papuma?”
Kami menggeleng, dan perlahan mulai tersenyum, saling mengerti.
“Kita berangkat jam 3 sore ini ya!”

Perjalanan ke Pantai Papuma Jember dari Surabaya mungkin seharusnya hanya menempuh waktu 4 jam, tapi kami menghabiskan waktu hampir 8 jam perjalanan karena selalu salah jalan. Akhirnya kami mendengar suara debur ombak setelah tengah malam, dan memutuskan untuk bermalam ini penginapan yang berada di dalam obyek wisata Tanjung Papuma (Pasir Putih Malika) Jember.
Kami berempat memarkir mobil tepat di depan pintu kamar yang langsung berbatasan dengan hutan. Sebelum meninggalkan kami, petugas penginapan berpesan, “Di dalam hutan ada banyak biawak.. Tapi mereka jarang kesini kok, yang sering cuma monyet..”
Tanpa berpikir dua kali, tidak ada satupun dari kami yang berani keluar kamar atau membiarkan pintu kamar terbuka, meskipun kamar harus penuh dengan asap rokok kami sendiri.
Benar, paginya ada belasan monyet di depan kamar hotel. Di pohon-pohon, di atas mobil, bahkan lama-kelamaan mereka semakin mendekat.
Menjelang siang, mereka kembali ke hutan. Kami pun berjalan ke arah pantai. Pantainya bersih dan penuh jejak kaki nelayan yang baru saja naik ke daratan. Ketika kami berjalan menyusuri pantai, salah satu dari kami menginjak sebuah benda yang tidak asing. Ponsel keluaran terbaru.
“Kita menemukan, bukan mencuri.”, kata setan dalam otak kami.
“Kembalikan, hubungi pemiliknya. Bayangkan rasanya jika ponselmu yang sedang di tangan orang.”, kata malaikat dalam hati kami.
Akhirnya kami berniat mengembalikannya. Kami menghubungi suami dari pemilik ponsel itu dan beberapa jam kemudian beliau datang ke pantai, berterima kasih melalui setumpuk tape singkong khas Jember dan beberapa bungkus kacang kedelai.
Kami pulang ke Surabaya dengan perasaan lega.. dan bau tape dari bagasi.

Kami memang selalu melakukan perjalanan dadakan di tengah penatnya perkuliahan. Tidak peduli sejauh apapun, karena yang terpenting dari perjalanan adalah sebanyak apa yang dapat kita pelajari. Saat itu, kami tahu bahwa ketenangan tidak didapatkan dari materi, dan.. Jember itu lumayan jauh.
*also posted on GreensandsEscape

Monday, May 13, 2013

Obat Asam Lambung yang Bukan Obat

"Coba kalo blogging tuh pengalaman yang berguna buat orang lain, sekarang kan udah 22 tahun.. Jangan egois!"
"Baiklah."

Diantara kalian ada yang sakit maag?
Saya iya, sejak awal masuk kuliah dan proses ke tahap akutnya super cepat.

Maag, atau kata dokter, Gastritis, adalah penyakit yang menyerang lambung karena asam lambung berlebih dan menyebabkan luka atau peradangan pada lambung. Biasanya ditandai dengan rasa sakit, mual, perih pada perut, atau bahkan sampai sesak nafas.
Penyebab asam lambung berlebih ini bisa karena masakan pedas atau asam, efek samping obat, dan bisa juga karena stress. Tiga-tiganya termasuk ke penyebab sakit maag saya.
Saya punya kebiasaan minum kopi 3-4 gelas sehari, meminum obat penghilang rasa sakit (yang kemudian diketahui memang meningkatkan asam lambung), dan akhirnya ditutup dengan stress. Untuk masalah makanan pedas, itu gara-gara seumur hidup, tadinya, saya ga pernah suka makanan pedas, jadi lambung ga pernah terima makanan pedas. Begitu punya pacar yang suka pedas, saya hajar semua makanan pedas yang dia suka. Alhasil, asam lambung banjir.
Kata dua dokter saya, dokter Rahmat Juwono dari Siloam dan dokter Heru dari Husada Utama, maag saya sudah sangat kronis. Asam lambung di perut saya sudah menghasilkan gelembung-gelembung yang membuat perut saya selalu berbunyi, bahkan pada saat tidur. Saya pun tidak bisa makan terlalu banyak, dan setiap selesai makan, pasti batuk. Batuk ini bukan karena paru-paru, tapi dari perut. Cuma Ibu yang selalu bisa membedakan bunyi, tempo, dan nada batuk saya yang disebabkan asam lambung atau memang sakit batuk, entah bagaimana. Selain itu, saya mengalami susah tidur. Selalu di atas jam 1, dan bangun sebelum jam 5. Jadi jam tidur normal saya hanya 4-5 jam sehari. Kata dokter, itu karena di atas jam 10, asam lambung naik drastis, jadi menyebabkan susah tidur. Asam lambung yang naik ini kadang membuat saya sesak nafas. Terutama saat stress.
Saya berhenti minum kopi, meskipun awalnya sangat menyiksa. Saya juga memperbaiki pola makan menjadi 4-5 kali per hari dengan porsi sedikit. Saya menghabiskan berbotol-botol obat maag cair, sampai pacar saya sendiri sudah hapal merk apa yang saya gunakan untuk bepergian. Obat maag itu pun hanya dijual di apotek. Obat maag yang dijual bebas di toko-toko atau warung-warung tidak pernah berpengaruh pada rasa sakit saya, sebanyak apapun saya meminumnya.
Pernah dalam perjalanan ke Bali lewat darat, saya menghabiskan sebotol kecil obat maag berinisial M sekaligus yang saya beli di convenience store pinggir jalan, dan perut saya masih perih sampai akhirnya saya menemukan apotek di Bali.
Menyerah dengan obat maag yang hanya bisa 'menunda' rasa sakit, bukan menyembuhkan, ada saran dari beberapa orang untuk minum susu segar setiap hari. Mendapatkan susu segar setiap pagi di tengah kota Surabaya adalah hal yang hampir tidak mungkin. Alternatifnya ya susu kemasan. Saya menghabiskan susu cair kemasan satu liter per hari selama beberapa minggu. Tidak ada perubahan yang berarti.
Akhirnya Ibu saya membeli susu sapi cair kemasan kaleng yang bergambar beruang di kalengnya namun menggunakan naga di iklannya. Berpuluh-puluh kaleng, bahkan ratusan sampai hari ini. Berhasil.
Baru dua minggu minum susu itu tiga kali sehari, saya lupa rasanya batuk-batuk setelah makan. Yang paling menyenangkan, saya bisa meminum obat penghilang rasa sakit saya tanpa rasa mual lagi. Porsi makan juga sudah bisa lebih banyak.
Ini bukan iklan sih, tapi saran untuk kalian yang bosan minum obat maag, cobalah meminum susu kaleng itu secara rutin, dan perbaiki pola makan. Dan yang paling penting, kurangi stress.
Orang-orang bahagia karena mereka selalu mencari alasan untuk bahagia dan orang-orang tertekan karena mereka selalu mencari alasan mengapa mereka tidak bahagia.


Saturday, April 20, 2013

Don't judge the book by its cover? Oh not again. I'm sick with that quote. Don't you know that we have no second chance for the first impression? And don't you remember that every new book is always sealed, right?
We judge the book by its cover, because when we bought that sealed book, no matter what its real story, we'll still keep the. Maturity.
If we don't judge the book by its cover, we need to open its seal, read it, and leave it unsealed at bookstore. Illegal immaturity.
So, judge me by my cover. If you don't like me, just go. Don't you even think to open my seal, read me, then leave me.


"Indeks Prestasi yang tinggi hanya mengantarkan Anda sampai ke meja wawancara. Selanjutnya, dan selamanya seumur hidup adalah kemampuan Anda bersosialisasi, leadership, komunikasi, problem solving, dan lain sebagainya."
- Anies Baswedan


Monday, April 1, 2013

Cerita Pendek dengan Akhir yang Mereka Inginkan

Sekian tahun yang lalu ada perempuan bernama Lyla yang jatuh cinta dengan teman sekelasnya di kampus sejak awal perkuliahannya. Lelaki itu bernama Ditya. Lyla menikmati hari-harinya dengan jatuh cinta diam-diam. Selalu berusaha duduk di belakang Ditya ketika di kelas hanya agar dapat melihat punggung Ditya yang tegap. Selalu parkir di dekat mobil Ditya. Mencari tahu keberadaan Ditya agar akhirnya mereka bisa bertemu secara tidak sengaja, menurut Ditya. Melewati rumah Ditya dan membayangkan apa yang sedang dilakukan Ditya di dalamnya. Lyla mencari tahu dan menghapal semuanya, nomor plat mobil, warna kesukaan, mantan-mantan pacar Ditya, semuanya. Bahkan Lyla diam-diam menyimpan setiap detail tentang Ditya, seperti uang kembalian dari kantin yang sebelumnya adalah uang Ditya, puntung rokok pertama Ditya saat pertama kalinya mereka makan di meja yang sama, meskipun saat itu mereka hanya saling senyum, atau kertas berisi coretan-coretan yang dibuang Ditya ke lantai saat kuliah. Perihnya, Ditya tidak begitu mengingat nama Lyla. Ditya hanya mengenal Lyla sebagai teman sekelasnya. Hanya itu. Tapi Lyla tidak peduli, dia jatuh cinta dengan caranya sendiri, dan dia bahagia setiap ada perasaan seperti kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.
Lyla menceritakan semua tentang Ditya pada sahabatnya yang sudah dia kenal sejak sebelum masuk kuliah, Yudha, setiap malam. Lyla selalu bercerita apa saja yang sudah dia lakukan untuk Ditya hari itu. Yudha pendengar yang baik.
Lyla mundur perlahan ketika mengetahui Ditya baru menjalin hubungan dengan mahasiswi kampus sebelah yang sangat jauh lebih cantik darinya. Selain karena dia pesimis, dia juga menghargai perasaan perempuan itu. Lyla juga perempuan.
Waktu berjalan. Cinta datang karena terbiasa. Yudha menaruh hati pada Lyla karena mereka telah terbiasa bercerita tentang kehidupan masing-masing. Lyla sudah terlanjur terbiasa memahami kehidupan sehari-hari Ditya, memahami apa yang disukai dan tidak disukai oleh Ditya, dan itu memudahkannya untuk masuk ke kehidupan Ditya setelah Ditya ditinggalkan kekasihnya, meskipun Lyla sudah tidak berusaha untuk itu. Ditya menjadikan Lyla sebagai perempuan terdekatnya disaat Lyla sudah merasa nyaman dengan Yudha. Lyla menyingkirkan kotak berisi uang kembalian, puntung rokok, kertas coretan, dan semua barang-barang tentang Ditya ke gudang.
Malam itu, Ditya mengajak Lyla makan malam di tempat yang sangat romantis. Di benak Lyla, tidak ada hal yang spesial, mereka hanya akan makan, bicara tentang kehidupan sehari-hari sambil menikmati kopi, kemudian pulang, seperti malam-malam yang biasa mereka habiskan sebagai sahabat. Tapi tidak malam itu. Lyla sibuk dengan ponselnya, berkirim pesan dengan Yudha, sedangkan Ditya mempersiapkan beberapa kalimat manis di otaknya.
Pembicaraan berjalan, Lyla yang dulunya menceritakan tentang Ditya pada Yudha, menjadi kebalikannya. Lyla bercerita Yudha malam itu pada Ditya, dan itu menghapus kalimat-kalimat manis di otak Ditya, dan malah meninggalkan getir di hati.
"Mungkin memang sebaiknya dia menjadi sahabatku saja, dan biarlah dia bahagia dengan Yudha.", kata Ditya dalam hati, dengan senyum pura-pura bahagia mendengar cerita Lyla tentang Yudha.
Lyla tidak pernah tahu bahwa malam itu seharusnya menjadi malam yang spesial. Ditya tidak pernah tahu Lyla pernah memimpikan untuk bisa duduk satu meja berdua dengannya saat makan malam. Mereka berdua tidak pernah tahu, mereka pernah jatuh cinta satu sama lain, di waktu yang berbeda.
Lyla akhirnya berpacaran dengan Yudha. Mereka pikir, ini adalah akhir dari pencarian. Mereka berencana untuk hidup bersama, mengatur rencana mereka untuk kehidupan mereka 40 tahun ke depan, mulai dari tanggal mereka menikah, tempat tinggal, pekerjaan, dan setiap hal kecil seperti hewan apa yang akan mereka pelihara di rumah mereka nantinya. Bulan demi bulan, tahun demi tahun mereka mewujudkan impian mereka perlahan. Seperti tidak pernah ada Ditya. Lyla lupa apa yang pernah menjadi alasannya untuk jatuh cinta pada Ditya. Ditya pun berusaha menjadi sahabat yang baik untuk Lyla, meskipun getir di hatinya tak juga pergi sejak malam itu. Ditya gagal jatuh cinta dengan perempuan-perempuan selain Lyla saat Lyla jatuh cinta semakin dalam dengan Yudha.
Dua tahun berjalan dalam perjalanan mewujudkan impian mereka, Lyla sakit, dan Yudha ingkar. Yudha meninggalkan perempuan yang sudah mencintainya sepenuh hati hanya untuk perempuan lain. Ternyata Yudha masih terus mencari disaat Lyla sudah berhenti mencari. Lyla hilang arah, hancur, dan semakin terpuruk. Cintanya yang dalam pada Yudha membuat Ditya tidak menemukan celah untuk masuk ke hati Lyla.
Di hari kelulusan Lyla, Ditya berkata, "Aku tahu kamu hidup untuk dia. Semua orang tahu. Dan ketika kamu kehilangan dia, bukan berarti kehidupanmu harus berhenti. Sama sepertimu, ada orang lain yang hidup untukmu. Jadi tetaplah hidup demi orang lain. Demi aku."
Lyla berusaha untuk sembuh dari penyakitnya. Sedangkan Yudha menikmati hidupnya yang baru. Dengan hati yang tertutup rapat, Lyla membiarkan Ditya menemani hari-harinya sebagai satu-satunya lelaki yang rela mengorbankan segalanya demi Lyla. Tenaga, waktu, dan perasaan. Berbulan-bulan mereka membuat banyak kenangan yang tidak mampu dibeli dengan uang sebanyak apapun. Sampai akhirnya suatu saat Ditya mengajak Lyla makan malam di tempat yang sama seperti hampir 4 tahun sebelumnya.
Ditya berkata, "Yudha tidak akan pernah kembali, Lyla. Aku berjanji akan menemanimu seumur hidupku, menemanimu sembuh, menemanimu melupakan Ditya. Aku akan terus berusaha membuatmu jatuh cinta seperti yang pernah Yudha lakukan. Tapi sekarang, maukah kamu menjadi istriku satu-satunya yang akan selalu menjadi alasanku untuk tetap hidup dan berusaha menjadi suami yang baik?"
Lyla menjawab, "Kenapa kita harus menikah?"
Ditya tersenyum, menggenggam tangan kanan Lyla untuk menyingkirkan ragu, "Karena kamu punya impian yang belum tercapai. Kita akan wujudkan impian itu, meskipun aku bukan Yudha, tapi aku akan mencintaimu lebih baik dari Yudha."
Lyla akhirnya tersenyum, kemudian menjawab, "Aku mungkin akan sulit untuk menjadi istri yang baik, dan kamu bukan Yudha. Dan tolong berhenti menjadi seperti Yudha. Aku tidak ingin suatu saat kamu ingkar seperti dia. Aku akan terus belajar untuk mencintai kamu seperti aku mencintai Yudha."
Mereka menikah, mewujudkan impian yang pernah dibuat Lyla. Mereka mendirikan rumah sederhana di pinggiran kota sebagai hasil kerja keras Ditya menjadi reporter surat kabar ternama, Lyla menjadi penulis buku-buku best seller. Mereka terus fokus dengan pekerjaan mereka sampai akhirnya Lyla benar-benar jatuh cinta pada Ditya karena terbiasa, seperti Lyla jatuh cinta dengan Yudha. Mereka menjalani hari-hari seperti apa yang pernah diimpikan Lyla. Membuatkan Ditya sarapan di pagi hari dan menyiapkan segala keperluan Ditya sebelum berangkat kerja, menyambut Ditya di sore hari, menghabiskan malam dengan menonton sepakbola ditemani makanan ringan dan teh hijau buatan Lyla. Ditya adalah seorang penggemar teh, bukan kopi seperti Yudha. Menemani Ditya liputan ke berbagai tempat menarik di luar kota yang juga menjadi inspirasi untuk tulisan-tulisan baru Lyla. Berlibur bersama ke pantai, karena mereka berdua tidak suka keramaian dan tidak suka gunung. Mengunjungi rumah orang tua mereka bersama, makan malam bersama dan membicarakan kapan mereka akan memiliki bayi. Karir mereka terus menanjak. Begitu seterusnya. Seperti kehidupan pasangan muda yang sukses dan bahagia.
Kemudian mereka pindah ke rumah yang lebih besar karena mereka siap untuk memiliki anak. Lyla menjadi istri dan ibu yang baik, Ditya menjadi suami yang setia dan ayah yang menyenangkan bagi ketiga anak mereka. Dua laki-laki dan satu perempuan dengan jarak masing-masing sekitar dua tahun.
Hasil penjualan buku-buku Lyla digunakan untuk mendirikan sekolah bakat untuk anak jalanan, sesuai dengan cita-cita Lyla. Mereka mewujudkan impian banyak orang. Impian orang tua mereka, anak-anak jalanan, teman-teman mereka, dan juga impian Lyla dengan Yudha yang digantikan oleh Ditya.
Ditya membuka usaha restoran masakan Indonesia yang berkembang sangat pesat, mulai dari rumah makan kecil yang menyajikan hasil masakan Lyla hingga menjadi restoran mewah di tengah kota dengan belasan koki dan segera membuka cabang di negara tetangga.
Mereka bahagia. Lyla sudah benar-benar lupa bahwa tadinya hatinya pernah terkunci rapat karena Yudha. Anak-anak mereka pun tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berbakat, seperti kedua orang tuanya yang penuh bakat.
Mereka menua. Hidup di rumah yang lebih besar dari rumah sebelumnya di pinggiran kota yang tenang, menghabiskan masa tua dengan mengenang masa muda mereka, melihat anak-anak mereka yang sedang dalam perjalanan mengikuti kesuksesan orang tuanya.
Akhirnya Lyla mulai sakit-sakitan. Dia memang tak sekuat perempuan lain karena sisa penyakitnya di waktu muda. Namun Ditya tidak pernah menganggap Lyla sakit. Ditya membahagiakan Lyla seperti perempuan tanpa cela dan kekurangan.
Pagi itu, Lyla tidak membuatkan Ditya teh dan sarapan seperti biasa. Lyla terbaring lemah di rumah sakit dengan selang infus di tangan kirinya dan selang oksigen di hidungnya. Tangan kanannya tak pernah lepas dari tangan Ditya yang mulai keriput di usia 61 tahun. Lyla masih terlalu muda untuk pergi.
"Sayang.."
Tak pernah terbayangkan Lyla akan memanggil orang selain Yudha dengan sebutan itu.
"Terima kasih telah menjadi lelaki terbaik untuk aku dan anak-anak kita. Terima kasih untuk 40 tahun yang sangat berharga. Terima kasih juga untuk semua impian yang berhasil kita wujudkan.", kata Lyla dengan suaranya yang parau.
Ditya berusaha menahan tangis, dan dia menatap Lyla dengan tatapan yang sama seperti 40 tahun yang lalu. Tatapan dengan keyakinan.
"Semuanya akan baik-baik saja. Kamu tahu aku tak pernah bohong. Aku selalu berusaha untuk membuat semuanya baik-baik saja."
"Iya, aku percaya. Aku hanya ingin memberitahumu tentang sebuah rahasia besar."
Ditya memperhatikan.
"Sepulang dari sini, pergilah ke gudang, carilah kotak kayu seukuran kotak sepatu, di dalamnya ada beberapa barang yang tidak begitu penting bagimu dan sebuah surat. Bacalah."
Ditya tersenyum, mengelus lembut rambut perempuan renta yang sudah siap masuk ke ruang operasi itu.
"Kita akan membuka kotak itu bersama nantinya.", jawab Ditya, disusul dengan kecupan manis di kening Lyla.
Ditya beserta ketiga anaknya mengantarkan Lyla ke ruang operasi. Mereka menitipkan doa dan keyakinan mereka bersama Lyla.
Namun setelah tiga jam, dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah yang mereka takutkan.
"Kami sudah berusaha semampu kita, tapi Tuhan berkehendak lain."
Ditya berlutut, melepaskan tangis yang berusaha ditahannya. Untuk pertama kalinya, dia gagal membuat segalanya menjadi baik-baik saja. Ketiga anaknya berusaha menguatkan ayahnya, mengatakan kalimat yang biasa Ditya katakan untuk Lyla.
"Semua akan baik-baik saja, Ayah. Jangan buat Ibu sedih dengan keterpurukan Ayah. Ayah harus sekuat Ibu seperti dulu."
Mereka berpelukan. Pecah dalam tangis.
Tiga hari kemudian, Ditya pergi ke gudang, mencari kotak kayu yang dipesankan Lyla. Setelah menemukannya, dia membawa kotak itu ke teras rumah. Dia duduk di kursi yang biasa dia tempati di sore hari bersama Lyla. Namun kali itu tanpa Lyla, tanpa teh hijau buatan Lyla.
Dia membuka perlahan kotak itu, dikeluarkannya satu persatu barang-barang di dalamnya. Beberapa lembar uang lama yang lusuh, sepuntung rokok, kertas-kertas coretannya semasa kuliah, dan beberapa hal kecil yang terlihat tidak berharga. Ditya bingung. Akhirnya dia menemukan selembar surat dengan tulisan tangan Lyla.
"Ditya.. Mungkin kamu membaca surat ini setelah kamu sudah tak punya kesempatan untuk membalasnya padaku. Tapi terima kasih telah membalas cintaku walaupun terlambat. Iya, aku mencintaimu lebih dulu. Awal kuliah, aku melakukan banyak hal untuk bisa mengenalmu. Awal kuliah, aku mencintaimu bukan agar kamu mencintaiku. Aku lebih dulu menghapal plat nomor mobilmu saat kuliah dulu, aku menyimpan uang yang kamu bayarkan ke kantin, aku menyimpan puntung rokok pertama kali kita duduk di meja yang sama karena meja lain sudah penuh, walaupun kamu hanya tersenyum satu kali waktu itu, seperti mahasiswa baru yang lupa nama teman barunya. Aku juga menyimpan kertas coretan yang kamu buang ke lantai saat kamu bosan di kelas, aku melewati depan rumahmu hampir setiap malam, aku mencari tahu semua tentangmu. Dan aku berhasil untuk pura-pura tidak tahu apapun tentangmu saat kita bersama, kan? Aku bukan penipu. Aku hanya menikmati rasanya dicintai sepenuh hati, yang pernah aku lakukan untuk orang lain yang ternyata tidak mampu mencintaiku seperti itu. Rasanya menyenangkan. Terlalu menyenangkan sehingga aku lupa bahwa aku pernah membiarkan hatiku memilih Yudha waktu itu. Tapi seandainya tidak seperti itu, semuanya mungkin tidak akan baik-baik saja seperti sekarang. Kamu mampu memperbaiki hati yang patah dan menjaganya dengan baik. Aku sayang kamu. Aku bahagia memiliki seorang suami yang setia dan selalu berusaha memberi yang terbaik, aku bahagia memiliki tiga orang anak yang kita besarkan bersama hingga menjadi seperti sekarang ini, aku bahagia memiliki kenangan-kenangan yang kita buat bersama, yang tidak mampu dibeli oleh apapun. Aku bahagia karena aku bisa membahagiakan banyak orang. Kamu, orang tua kita, anak-anak kita, teman-teman kita, anak-anak asuh kita, dan mungkin Yudha, yang akhirnya bisa aku lepaskan dari hatiku. Aku minta maaf jika aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi. Tapi impianku sudah terwujud semuanya, jadi mungkin memang ini saatnya hidupku disini selesai. Sekarang, hiduplah kamu dengan impianku, dengan apa yang sudah kita bangun. Sebenarnya ada satu hal yang belum aku ketahui tentangmu, satu hal inilah yang ingin aku tanyakan padamu, namun aku selalu takut aku tidak mampu mewujudkannya seperti kamu mewujudkan semua impianku. Sebenarnya.. Apa impianmu?"
Air mata Ditya jatuh perlahan, namun Ditya segera menghapusnya. Dia tak ingin Lyla melihat air mata itu. Dia pun tersenyum, dan menjawab dalam hati, "Impianku adalah hidup bersamamu. Hanya itu. Terima kasih telah mewujudkan satu-satunya impianku, Lyla. Tenanglah disana."



Sunday, March 31, 2013

Minggu Malam

Ini Minggu malam pertamaku dengan status yang bukan lagi mahasiswa. Tapi aku tidak di rumah. Sama seperti semua Minggu malam sebelumnya, selama 3,5 tahun. Disengaja atau tidak, selama 3,5 tahun aku tidak pernah menghabiskan Minggu malamku di rumah. Aku pernah menghabiskan Minggu malamku di kamar temanku dengan dvd yang sudah ditonton belasan kali sebelumnya. Aku pernah menghabiskan Minggu malamku terjebak macet di perjalanan menuju Surabaya entah dari Malang ataupun Yogyakarta. Aku pernah menghabiskan Minggu malamku di coffee shop bersama sahabat dengan gosip-gosip tentang mantan pacar. Aku pernah menghabiskan Minggu malamku di kampus bersama belasan orang lainnya untuk mengerjakan tugas yang dikumpulkan esok harinya. Aku pernah menghabiskan Minggu malamku di pinggir jalan depan kampus dengan teman-teman yang menyisakan bau rokok menyengat di rambutku. Aku pernah menghabiskan Minggu malamku di rumah kontrakan pacarku, mendengarkan teman-temannya mengobrol sampai aku tertidur. Aku pernah menghabiskan Minggu malamku untuk menonton sepakbola di markas tim sepakbola kesukaanku, atau bahkan rivalnya. Aku pernah menghabiskan Minggu malamku di rumah sakit, terbaring merasakan sakitnya obat yang disuntikkan ke selang infusku. Aku pernah menghabiskan Minggu malamku di pinggir pantai ataupun dataran tinggi ratusan kilometer dari Surabaya padahal esoknya aku harus menghabiskan waktuku sebanyak 12 SKS di kampus. Aku pernah menghabiskan Minggu malamku di pusat-pusat perbelanjaan menemani keluargaku yang tidak pernah lelah menyisir toko demi toko. Aku pernah menghabiskan Minggu malamku di tempat hiburan malam dan mempertanyakan apa yang menyenangkan dari tempat itu. Aku pernah menghabiskan Minggu malamku entah dimana, mensyukuri semua yang Tuhan berikan padaku hingga malam itu. Dan masih banyak lagi. Tapi aku tidak pernah di rumah. Sekalipun.
Minggu depan, aku berencana menghabiskan Minggu malamku di rumah. Tidak seperti malam ini. Mungkin Minggu depan aku bisa menghabiskan Minggu malamku dengan menonton televisi di rumah bersama keluarga. Ada acara televisi apa di Minggu malam? Kalaupun itu sepakbola, aku akan berusaha membuat ibuku tetap di depan televisi untuk menemaniku menonton sepakbola dan menyembunyikan remote-nya.
Karena sebenarnya ini bukan tentang dimana kita menghabiskan Minggu malam kita. Melainkan tentang dengan siapa kita menghabiskan Minggu malam kita. Selama 3,5 tahun, aku tidak pernah menghabiskan Minggu malamku sendirian. Aku selalu menghabiskan Minggu malamku dengan orang-orang yang sangat berharga, yang membuat waktuku di setiap Minggu malam menjadi berharga. Seperti malam ini.


Wednesday, March 27, 2013

Lulus?

Sejak kapan akhir dari liburan selama 3,5 tahun dinamakan wisuda? Aneh.


Saturday, March 23, 2013

Ada yang pernah tahu rasanya dikelilingi oleh orang-orang yang materialistis, yang tidak pernah menganggap pengorbanan lain selain materi, sedangkan kamu tidak memiliki apapun saat itu, kemudian datang seseorang yang justru tidak membutuhkan materi dari kamu, menyayangi kamu sepenuh hati, apa adanya, memberikan hal-hal yang lebih berharga dari sekedar uang, yang tidak mampu dibeli dengan uang seperti perhatian, cinta, dan kasih sayang? Aku tahu rasanya.


Tuesday, March 19, 2013

Ada yang Jatuh Cinta

Ada yang pernah jatuh cinta.
Ada yang pernah mendengar keseharian kekasihnya hingga tertidur.
Ada yang pernah belajar memahami semua bidang yang ditekuni kekasihnya.
Ada yang pernah dikecup keningnya setiap sebelum berpisah untuk bertemu lagi.
Ada yang pernah membisikkan lagu cinta hingga kekasihnya tertidur di sebelahnya.
Ada yang pernah sengaja tidur membelakangi kekasihnya hanya agar dipeluk dari belakang.
Ada yang pernah menempuh perjalanan jauh hanya untuk memastikan kekasihnya baik-baik saja.
Ada yang pernah mengucapkan selamat pagi setiap membuka mata di pagi hari untuk kekasihnya.
Ada yang pernah pura-pura mengerti tentang apapun yang dibicarakan kekasihnya, kemudian bingung, dan hanya mampu tersenyum.

Ada yang sedang jatuh cinta.
Ada yang sedang membukakan pintu untuk perempuan yang dicintainya.
Ada yang sedang rela terjaga hanya untuk memastikan perempuan itu baik-baik saja selama tidur.
Ada yang sedang menahan sakit dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja demi perempuan itu.
Ada yang sedang mencari perhatian agar perempuan itu selalu mengganggunya.
Ada yag sedang mengajak perempuan itu pergi entah kemana disaat mendung hanya karena perempuan itu suka melihat hujan dan petir dari dalam mobil.
Ada yang sedang memesan menu makanan kesukaan perempuan itu walaupun dia tidak menyukainya hanya agar perempuan itu tersenyum dan merasa mereka memiliki kesamaan.
Ada yang sedang pura-pura lupa jalan hanya untuk memperpanjang perjalanan.
Ada yang sedang mengelus rambut perempuan itu dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan dia sendiri berjanji di dalam hatinya untuk melakukan segala cara agar semuanya baik-baik saja, demi perempuan itu.

Ada yang pernah bertahan mencintai kekasihnya ketika kekasihnya sudah tidak mencintainya lagi.
Ada yang sedang berharap perempuan itu berhenti mencintai kekasihnya dan berpaling padanya, untuk melakukan hal-hal yang pernah perempuan itu lakukan ketika jatuh cinta.

Dan entah dimana, ada seseorang yang pernah dicintai sepenuh hati, entah sedang apa, dan bersama siapa.

Serumit itu.



Happy Birthday, Mario!


Namanya Mario Yodia Prayoga. Foto ini diambil di Nanamia Yogyakarta, restoran masakan Italia, sepulang dari Pantai Kukup akhir November lalu. Dia menghabiskan 7 potong pizza disana. Tu-juh. Dia introvert, tapi humoris. Dia, dan temannya yang bernama Rizkal, mungkin terbuat dari balon-balon dan kembang api, karena mereka selalu membuat orang-orang di sekitarnya bahagia. Dia laki-laki paling dewasa di umurnya yang pernah aku kenal. Dia dan Rizkal adalah sahabat yang terbaik dari yang terbaik. Dia teman liburan yang menyenangkan. Tapi dia bukan teman bermain kartu yang baik. Aku selalu kalah.
Selamat ulang tahun, Rio! Semoga kamu selalu bahagia dan tetap memberi kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarmu, termasuk aku.