LINKS OF ME

Monday, April 1, 2013

Cerita Pendek dengan Akhir yang Mereka Inginkan

Sekian tahun yang lalu ada perempuan bernama Lyla yang jatuh cinta dengan teman sekelasnya di kampus sejak awal perkuliahannya. Lelaki itu bernama Ditya. Lyla menikmati hari-harinya dengan jatuh cinta diam-diam. Selalu berusaha duduk di belakang Ditya ketika di kelas hanya agar dapat melihat punggung Ditya yang tegap. Selalu parkir di dekat mobil Ditya. Mencari tahu keberadaan Ditya agar akhirnya mereka bisa bertemu secara tidak sengaja, menurut Ditya. Melewati rumah Ditya dan membayangkan apa yang sedang dilakukan Ditya di dalamnya. Lyla mencari tahu dan menghapal semuanya, nomor plat mobil, warna kesukaan, mantan-mantan pacar Ditya, semuanya. Bahkan Lyla diam-diam menyimpan setiap detail tentang Ditya, seperti uang kembalian dari kantin yang sebelumnya adalah uang Ditya, puntung rokok pertama Ditya saat pertama kalinya mereka makan di meja yang sama, meskipun saat itu mereka hanya saling senyum, atau kertas berisi coretan-coretan yang dibuang Ditya ke lantai saat kuliah. Perihnya, Ditya tidak begitu mengingat nama Lyla. Ditya hanya mengenal Lyla sebagai teman sekelasnya. Hanya itu. Tapi Lyla tidak peduli, dia jatuh cinta dengan caranya sendiri, dan dia bahagia setiap ada perasaan seperti kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.
Lyla menceritakan semua tentang Ditya pada sahabatnya yang sudah dia kenal sejak sebelum masuk kuliah, Yudha, setiap malam. Lyla selalu bercerita apa saja yang sudah dia lakukan untuk Ditya hari itu. Yudha pendengar yang baik.
Lyla mundur perlahan ketika mengetahui Ditya baru menjalin hubungan dengan mahasiswi kampus sebelah yang sangat jauh lebih cantik darinya. Selain karena dia pesimis, dia juga menghargai perasaan perempuan itu. Lyla juga perempuan.
Waktu berjalan. Cinta datang karena terbiasa. Yudha menaruh hati pada Lyla karena mereka telah terbiasa bercerita tentang kehidupan masing-masing. Lyla sudah terlanjur terbiasa memahami kehidupan sehari-hari Ditya, memahami apa yang disukai dan tidak disukai oleh Ditya, dan itu memudahkannya untuk masuk ke kehidupan Ditya setelah Ditya ditinggalkan kekasihnya, meskipun Lyla sudah tidak berusaha untuk itu. Ditya menjadikan Lyla sebagai perempuan terdekatnya disaat Lyla sudah merasa nyaman dengan Yudha. Lyla menyingkirkan kotak berisi uang kembalian, puntung rokok, kertas coretan, dan semua barang-barang tentang Ditya ke gudang.
Malam itu, Ditya mengajak Lyla makan malam di tempat yang sangat romantis. Di benak Lyla, tidak ada hal yang spesial, mereka hanya akan makan, bicara tentang kehidupan sehari-hari sambil menikmati kopi, kemudian pulang, seperti malam-malam yang biasa mereka habiskan sebagai sahabat. Tapi tidak malam itu. Lyla sibuk dengan ponselnya, berkirim pesan dengan Yudha, sedangkan Ditya mempersiapkan beberapa kalimat manis di otaknya.
Pembicaraan berjalan, Lyla yang dulunya menceritakan tentang Ditya pada Yudha, menjadi kebalikannya. Lyla bercerita Yudha malam itu pada Ditya, dan itu menghapus kalimat-kalimat manis di otak Ditya, dan malah meninggalkan getir di hati.
"Mungkin memang sebaiknya dia menjadi sahabatku saja, dan biarlah dia bahagia dengan Yudha.", kata Ditya dalam hati, dengan senyum pura-pura bahagia mendengar cerita Lyla tentang Yudha.
Lyla tidak pernah tahu bahwa malam itu seharusnya menjadi malam yang spesial. Ditya tidak pernah tahu Lyla pernah memimpikan untuk bisa duduk satu meja berdua dengannya saat makan malam. Mereka berdua tidak pernah tahu, mereka pernah jatuh cinta satu sama lain, di waktu yang berbeda.
Lyla akhirnya berpacaran dengan Yudha. Mereka pikir, ini adalah akhir dari pencarian. Mereka berencana untuk hidup bersama, mengatur rencana mereka untuk kehidupan mereka 40 tahun ke depan, mulai dari tanggal mereka menikah, tempat tinggal, pekerjaan, dan setiap hal kecil seperti hewan apa yang akan mereka pelihara di rumah mereka nantinya. Bulan demi bulan, tahun demi tahun mereka mewujudkan impian mereka perlahan. Seperti tidak pernah ada Ditya. Lyla lupa apa yang pernah menjadi alasannya untuk jatuh cinta pada Ditya. Ditya pun berusaha menjadi sahabat yang baik untuk Lyla, meskipun getir di hatinya tak juga pergi sejak malam itu. Ditya gagal jatuh cinta dengan perempuan-perempuan selain Lyla saat Lyla jatuh cinta semakin dalam dengan Yudha.
Dua tahun berjalan dalam perjalanan mewujudkan impian mereka, Lyla sakit, dan Yudha ingkar. Yudha meninggalkan perempuan yang sudah mencintainya sepenuh hati hanya untuk perempuan lain. Ternyata Yudha masih terus mencari disaat Lyla sudah berhenti mencari. Lyla hilang arah, hancur, dan semakin terpuruk. Cintanya yang dalam pada Yudha membuat Ditya tidak menemukan celah untuk masuk ke hati Lyla.
Di hari kelulusan Lyla, Ditya berkata, "Aku tahu kamu hidup untuk dia. Semua orang tahu. Dan ketika kamu kehilangan dia, bukan berarti kehidupanmu harus berhenti. Sama sepertimu, ada orang lain yang hidup untukmu. Jadi tetaplah hidup demi orang lain. Demi aku."
Lyla berusaha untuk sembuh dari penyakitnya. Sedangkan Yudha menikmati hidupnya yang baru. Dengan hati yang tertutup rapat, Lyla membiarkan Ditya menemani hari-harinya sebagai satu-satunya lelaki yang rela mengorbankan segalanya demi Lyla. Tenaga, waktu, dan perasaan. Berbulan-bulan mereka membuat banyak kenangan yang tidak mampu dibeli dengan uang sebanyak apapun. Sampai akhirnya suatu saat Ditya mengajak Lyla makan malam di tempat yang sama seperti hampir 4 tahun sebelumnya.
Ditya berkata, "Yudha tidak akan pernah kembali, Lyla. Aku berjanji akan menemanimu seumur hidupku, menemanimu sembuh, menemanimu melupakan Ditya. Aku akan terus berusaha membuatmu jatuh cinta seperti yang pernah Yudha lakukan. Tapi sekarang, maukah kamu menjadi istriku satu-satunya yang akan selalu menjadi alasanku untuk tetap hidup dan berusaha menjadi suami yang baik?"
Lyla menjawab, "Kenapa kita harus menikah?"
Ditya tersenyum, menggenggam tangan kanan Lyla untuk menyingkirkan ragu, "Karena kamu punya impian yang belum tercapai. Kita akan wujudkan impian itu, meskipun aku bukan Yudha, tapi aku akan mencintaimu lebih baik dari Yudha."
Lyla akhirnya tersenyum, kemudian menjawab, "Aku mungkin akan sulit untuk menjadi istri yang baik, dan kamu bukan Yudha. Dan tolong berhenti menjadi seperti Yudha. Aku tidak ingin suatu saat kamu ingkar seperti dia. Aku akan terus belajar untuk mencintai kamu seperti aku mencintai Yudha."
Mereka menikah, mewujudkan impian yang pernah dibuat Lyla. Mereka mendirikan rumah sederhana di pinggiran kota sebagai hasil kerja keras Ditya menjadi reporter surat kabar ternama, Lyla menjadi penulis buku-buku best seller. Mereka terus fokus dengan pekerjaan mereka sampai akhirnya Lyla benar-benar jatuh cinta pada Ditya karena terbiasa, seperti Lyla jatuh cinta dengan Yudha. Mereka menjalani hari-hari seperti apa yang pernah diimpikan Lyla. Membuatkan Ditya sarapan di pagi hari dan menyiapkan segala keperluan Ditya sebelum berangkat kerja, menyambut Ditya di sore hari, menghabiskan malam dengan menonton sepakbola ditemani makanan ringan dan teh hijau buatan Lyla. Ditya adalah seorang penggemar teh, bukan kopi seperti Yudha. Menemani Ditya liputan ke berbagai tempat menarik di luar kota yang juga menjadi inspirasi untuk tulisan-tulisan baru Lyla. Berlibur bersama ke pantai, karena mereka berdua tidak suka keramaian dan tidak suka gunung. Mengunjungi rumah orang tua mereka bersama, makan malam bersama dan membicarakan kapan mereka akan memiliki bayi. Karir mereka terus menanjak. Begitu seterusnya. Seperti kehidupan pasangan muda yang sukses dan bahagia.
Kemudian mereka pindah ke rumah yang lebih besar karena mereka siap untuk memiliki anak. Lyla menjadi istri dan ibu yang baik, Ditya menjadi suami yang setia dan ayah yang menyenangkan bagi ketiga anak mereka. Dua laki-laki dan satu perempuan dengan jarak masing-masing sekitar dua tahun.
Hasil penjualan buku-buku Lyla digunakan untuk mendirikan sekolah bakat untuk anak jalanan, sesuai dengan cita-cita Lyla. Mereka mewujudkan impian banyak orang. Impian orang tua mereka, anak-anak jalanan, teman-teman mereka, dan juga impian Lyla dengan Yudha yang digantikan oleh Ditya.
Ditya membuka usaha restoran masakan Indonesia yang berkembang sangat pesat, mulai dari rumah makan kecil yang menyajikan hasil masakan Lyla hingga menjadi restoran mewah di tengah kota dengan belasan koki dan segera membuka cabang di negara tetangga.
Mereka bahagia. Lyla sudah benar-benar lupa bahwa tadinya hatinya pernah terkunci rapat karena Yudha. Anak-anak mereka pun tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berbakat, seperti kedua orang tuanya yang penuh bakat.
Mereka menua. Hidup di rumah yang lebih besar dari rumah sebelumnya di pinggiran kota yang tenang, menghabiskan masa tua dengan mengenang masa muda mereka, melihat anak-anak mereka yang sedang dalam perjalanan mengikuti kesuksesan orang tuanya.
Akhirnya Lyla mulai sakit-sakitan. Dia memang tak sekuat perempuan lain karena sisa penyakitnya di waktu muda. Namun Ditya tidak pernah menganggap Lyla sakit. Ditya membahagiakan Lyla seperti perempuan tanpa cela dan kekurangan.
Pagi itu, Lyla tidak membuatkan Ditya teh dan sarapan seperti biasa. Lyla terbaring lemah di rumah sakit dengan selang infus di tangan kirinya dan selang oksigen di hidungnya. Tangan kanannya tak pernah lepas dari tangan Ditya yang mulai keriput di usia 61 tahun. Lyla masih terlalu muda untuk pergi.
"Sayang.."
Tak pernah terbayangkan Lyla akan memanggil orang selain Yudha dengan sebutan itu.
"Terima kasih telah menjadi lelaki terbaik untuk aku dan anak-anak kita. Terima kasih untuk 40 tahun yang sangat berharga. Terima kasih juga untuk semua impian yang berhasil kita wujudkan.", kata Lyla dengan suaranya yang parau.
Ditya berusaha menahan tangis, dan dia menatap Lyla dengan tatapan yang sama seperti 40 tahun yang lalu. Tatapan dengan keyakinan.
"Semuanya akan baik-baik saja. Kamu tahu aku tak pernah bohong. Aku selalu berusaha untuk membuat semuanya baik-baik saja."
"Iya, aku percaya. Aku hanya ingin memberitahumu tentang sebuah rahasia besar."
Ditya memperhatikan.
"Sepulang dari sini, pergilah ke gudang, carilah kotak kayu seukuran kotak sepatu, di dalamnya ada beberapa barang yang tidak begitu penting bagimu dan sebuah surat. Bacalah."
Ditya tersenyum, mengelus lembut rambut perempuan renta yang sudah siap masuk ke ruang operasi itu.
"Kita akan membuka kotak itu bersama nantinya.", jawab Ditya, disusul dengan kecupan manis di kening Lyla.
Ditya beserta ketiga anaknya mengantarkan Lyla ke ruang operasi. Mereka menitipkan doa dan keyakinan mereka bersama Lyla.
Namun setelah tiga jam, dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah yang mereka takutkan.
"Kami sudah berusaha semampu kita, tapi Tuhan berkehendak lain."
Ditya berlutut, melepaskan tangis yang berusaha ditahannya. Untuk pertama kalinya, dia gagal membuat segalanya menjadi baik-baik saja. Ketiga anaknya berusaha menguatkan ayahnya, mengatakan kalimat yang biasa Ditya katakan untuk Lyla.
"Semua akan baik-baik saja, Ayah. Jangan buat Ibu sedih dengan keterpurukan Ayah. Ayah harus sekuat Ibu seperti dulu."
Mereka berpelukan. Pecah dalam tangis.
Tiga hari kemudian, Ditya pergi ke gudang, mencari kotak kayu yang dipesankan Lyla. Setelah menemukannya, dia membawa kotak itu ke teras rumah. Dia duduk di kursi yang biasa dia tempati di sore hari bersama Lyla. Namun kali itu tanpa Lyla, tanpa teh hijau buatan Lyla.
Dia membuka perlahan kotak itu, dikeluarkannya satu persatu barang-barang di dalamnya. Beberapa lembar uang lama yang lusuh, sepuntung rokok, kertas-kertas coretannya semasa kuliah, dan beberapa hal kecil yang terlihat tidak berharga. Ditya bingung. Akhirnya dia menemukan selembar surat dengan tulisan tangan Lyla.
"Ditya.. Mungkin kamu membaca surat ini setelah kamu sudah tak punya kesempatan untuk membalasnya padaku. Tapi terima kasih telah membalas cintaku walaupun terlambat. Iya, aku mencintaimu lebih dulu. Awal kuliah, aku melakukan banyak hal untuk bisa mengenalmu. Awal kuliah, aku mencintaimu bukan agar kamu mencintaiku. Aku lebih dulu menghapal plat nomor mobilmu saat kuliah dulu, aku menyimpan uang yang kamu bayarkan ke kantin, aku menyimpan puntung rokok pertama kali kita duduk di meja yang sama karena meja lain sudah penuh, walaupun kamu hanya tersenyum satu kali waktu itu, seperti mahasiswa baru yang lupa nama teman barunya. Aku juga menyimpan kertas coretan yang kamu buang ke lantai saat kamu bosan di kelas, aku melewati depan rumahmu hampir setiap malam, aku mencari tahu semua tentangmu. Dan aku berhasil untuk pura-pura tidak tahu apapun tentangmu saat kita bersama, kan? Aku bukan penipu. Aku hanya menikmati rasanya dicintai sepenuh hati, yang pernah aku lakukan untuk orang lain yang ternyata tidak mampu mencintaiku seperti itu. Rasanya menyenangkan. Terlalu menyenangkan sehingga aku lupa bahwa aku pernah membiarkan hatiku memilih Yudha waktu itu. Tapi seandainya tidak seperti itu, semuanya mungkin tidak akan baik-baik saja seperti sekarang. Kamu mampu memperbaiki hati yang patah dan menjaganya dengan baik. Aku sayang kamu. Aku bahagia memiliki seorang suami yang setia dan selalu berusaha memberi yang terbaik, aku bahagia memiliki tiga orang anak yang kita besarkan bersama hingga menjadi seperti sekarang ini, aku bahagia memiliki kenangan-kenangan yang kita buat bersama, yang tidak mampu dibeli oleh apapun. Aku bahagia karena aku bisa membahagiakan banyak orang. Kamu, orang tua kita, anak-anak kita, teman-teman kita, anak-anak asuh kita, dan mungkin Yudha, yang akhirnya bisa aku lepaskan dari hatiku. Aku minta maaf jika aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi. Tapi impianku sudah terwujud semuanya, jadi mungkin memang ini saatnya hidupku disini selesai. Sekarang, hiduplah kamu dengan impianku, dengan apa yang sudah kita bangun. Sebenarnya ada satu hal yang belum aku ketahui tentangmu, satu hal inilah yang ingin aku tanyakan padamu, namun aku selalu takut aku tidak mampu mewujudkannya seperti kamu mewujudkan semua impianku. Sebenarnya.. Apa impianmu?"
Air mata Ditya jatuh perlahan, namun Ditya segera menghapusnya. Dia tak ingin Lyla melihat air mata itu. Dia pun tersenyum, dan menjawab dalam hati, "Impianku adalah hidup bersamamu. Hanya itu. Terima kasih telah mewujudkan satu-satunya impianku, Lyla. Tenanglah disana."