LINKS OF ME

Monday, June 24, 2013

Ketika Hape Menjadi Tape di Pantai Papuma

November pagi itu kami berempat lelah dengan perkuliahan. Keluar kelas dengan langkah lunglai menuju ke kantin. Kebiasaan yang sama setiap hari selama lebih dari tiga tahun. Sampai akhirnya salah satu teman saya bertanya, “Pernah ke Papuma?”
Kami menggeleng, dan perlahan mulai tersenyum, saling mengerti.
“Kita berangkat jam 3 sore ini ya!”

Perjalanan ke Pantai Papuma Jember dari Surabaya mungkin seharusnya hanya menempuh waktu 4 jam, tapi kami menghabiskan waktu hampir 8 jam perjalanan karena selalu salah jalan. Akhirnya kami mendengar suara debur ombak setelah tengah malam, dan memutuskan untuk bermalam ini penginapan yang berada di dalam obyek wisata Tanjung Papuma (Pasir Putih Malika) Jember.
Kami berempat memarkir mobil tepat di depan pintu kamar yang langsung berbatasan dengan hutan. Sebelum meninggalkan kami, petugas penginapan berpesan, “Di dalam hutan ada banyak biawak.. Tapi mereka jarang kesini kok, yang sering cuma monyet..”
Tanpa berpikir dua kali, tidak ada satupun dari kami yang berani keluar kamar atau membiarkan pintu kamar terbuka, meskipun kamar harus penuh dengan asap rokok kami sendiri.
Benar, paginya ada belasan monyet di depan kamar hotel. Di pohon-pohon, di atas mobil, bahkan lama-kelamaan mereka semakin mendekat.
Menjelang siang, mereka kembali ke hutan. Kami pun berjalan ke arah pantai. Pantainya bersih dan penuh jejak kaki nelayan yang baru saja naik ke daratan. Ketika kami berjalan menyusuri pantai, salah satu dari kami menginjak sebuah benda yang tidak asing. Ponsel keluaran terbaru.
“Kita menemukan, bukan mencuri.”, kata setan dalam otak kami.
“Kembalikan, hubungi pemiliknya. Bayangkan rasanya jika ponselmu yang sedang di tangan orang.”, kata malaikat dalam hati kami.
Akhirnya kami berniat mengembalikannya. Kami menghubungi suami dari pemilik ponsel itu dan beberapa jam kemudian beliau datang ke pantai, berterima kasih melalui setumpuk tape singkong khas Jember dan beberapa bungkus kacang kedelai.
Kami pulang ke Surabaya dengan perasaan lega.. dan bau tape dari bagasi.

Kami memang selalu melakukan perjalanan dadakan di tengah penatnya perkuliahan. Tidak peduli sejauh apapun, karena yang terpenting dari perjalanan adalah sebanyak apa yang dapat kita pelajari. Saat itu, kami tahu bahwa ketenangan tidak didapatkan dari materi, dan.. Jember itu lumayan jauh.
*also posted on GreensandsEscape