LINKS OF ME

Thursday, October 31, 2013

Not Just #30DaysSaveEarth

Seorang anak lelaki berusia 22 tahun duduk di hadapanku, sibuk dengan laptopnya, mencari tiket untuk penerbangan ke Kalimantan untuk akhir pekan ini. Dengan rokok di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, dan tatapan tajamnya, dia terlihat lebih dewasa dari laki-laki seumurannya. Dia memang lebih dewasa. Dia salah satu donatur dan penggiat sebuah organisasi besar yang peduli lingkungan hidup, terutama penanaman sejuta pohon. Tidak hanya uang yang diberikan, tapi juga waktu dan tenaga. Minggu depan, dia turun langsung ke Kalimantan untuk memperbaiki daerah bekas pertambangan yang ditinggalkan oleh penambang-penambang liar. Membuatnya kembali menjadi hutan, seperti seharusnya.
Aku salut. Tapi cukup aneh melihat dia menghabiskan penghasilannya dan pemberian orang tuanya untuk hal-hal yang tidak menguntungkan secara materi baginya. Sementara anak-anak seumurannya masih sibuk menikmati penghasilan dari pekerjaan baru mereka dengan berbagai cara yang jauh lebih sederhana.
Aku bertanya, "Kenapa menurutmu penanaman pohon itu penting?"
Dia meneguk kopinya, tersenyum kecil, kemudian menjawab dengan singkat, "Karena aku perokok."
Dia tahu aku tidak puas dengan jawabannya, kemudian dia melanjutkan, "Aku perokok. Aku menggunakan kendaraan bermotor. Aku merusak bumi. Aku menanam begitu banyak pohon untuk menebus rasa bersalahku.."
Aku paham. Hanya saja.. Ironisnya, dia memperbaiki paru-paru dunia di saat yang bersamaan dengan dia merusak paru-parunya sendiri.
Aku tersenyum. Dan dia mengakhiri percakapan sore itu dengan kalimat,
"Jika kamu tidak bisa memperbaiki kondisi lingkungan, paling tidak, jangan pernah sesekali membuatnya jadi lebih buruk."

Kita tidak perlu menjadi hebat untuk bisa menyelamatkan bumi. Justru kita akan menjadi hebat jika kita mampu menyelamatkan bumi. Terlalu mudah bagi kalian untuk menjadi pahlawan lingkungan. Buang sampah pada tempatnya, pisahkan sampah organik dan non-organik, gunakan produk ramah lingkungan, kurangi pemakaian plastik, kertas, aluminium, dan lain sebagainya, hemat pemakaian air, jangan biarkan alat elektronik menyala dalam kondisi standby untuk waktu yang lama, pikirkan untuk mendaur ulang atau memberikannya pada orang lain sebelum kalian membuang sebuah barang masih bisa dipakai, dan masih banyak cara lainnya. Hari ini mungkin hanya saya yang memulai. Besok, saya dan salah satu dari kalian yang melakukan hal-hal tersebut. Mungkin besok ada tiga orang. Minggu depan? Bulan depan? Tahun depan?

Perlu kalian ketahui, bumi ini akan memiliki umur yang jauh lebih panjang jika kita tidak berada disini. Jadi sebagai makhluk yang berakal dan merasa lebih baik dari binatang, jangan sampai kita melakukan hal yang justru merusak tempat tinggal kita sendiri.

Terima kasih kepada @unidzalika dan @jungjawa yang telah mengadakan #30DaysSaveEarth selama Oktober kemarin. Sebuah event menulis tentang cara nyata untuk menyelamatkan bumi selama bulan Oktober. Bahwa sesungguhnya menyebarkan hal baik yang kita lakukan memang akan membuatnya jadi lebih baik.

Saya percaya, di antara kalian yang membaca tulisan ini, walaupun melewatkan #30DaysSaveEarth kemarin, akan berjanji di dalam hati untuk lebih peduli dengan lingkungan. Selama kalian menginjak bumi ini.


Thursday, October 24, 2013

Hasil Tes Kepribadian

Ini adalah hasil tes kepribadian saya:
The Visionary
ENTP sering digambarkan sebagai orang yang pintar, komunikatif, antusias, ramah, inovatif, fleksibel, dan setia. ENTP termotivasi oleh keinginan untuk memahami dan memperbaiki dunia mereka. Mereka mungkin memiliki rasa humor yang buruk dan kadang-kadang membuat kesalahpahaman dengan teman, rekan kerja, dan keluarga. ENTP cerdas dan mahir dalam mengarahkan hubungan antara sarana dan tujuan. Dalam lingkungan tim, ENTP yang paling efektif dalam perannya untuk menunjukkan kemampuan mereka, punya tingkat fleksibilitas yang tinggi, dan solusi inovatif untuk masalah. ENTP ini menganggap kalimat “itu tidak dapat dilakukan!” sebagai sebuah tantangan bagi dirinya.
ENTP adalah penemu yang introspektif, pragmatis, informatif, dan ekspresif. Mereka bisa menjadi sangat terampil di bidang teknik fungsional dan penemuan. Meski sangat ingin tahu. Mereka selalu mencari proyek baru, dan mereka memiliki karakter kewirausahaan. Merancang dan meningkatkan mekanisme dan produk adalah tujuan konstan Penemu.
Meskipun penuh dengan ide, ENTP tertarik pada pembuatan produk. Misalnya, mereka melihat desain produk sebagai sarana untuk mencapai tujuan, tujuan menjadi prototipe berharga. Ketika mulai sebuah proyek, mereka jarang mulai dengan blue print. Sebaliknya mereka dengan percaya diri dengan kemampuan mereka untuk langsung menemukan solusi yang efektif dan pragmatis selama proses desain.
ENTP cenderung santai, tidak menghakimi, dan pembicara yang baik. Mereka sangat siap menjelaskan ide mereka sendiri, dan selalu ingin memahami ide-ide kompleks orang lain. Dalam perdebatan dengan argumen mereka, sering lawan mereka kalah. Strategi ini dapat menjadi bumerang, bagaimanapun, mereka dapat menjadi agresif.
ENTP biasanya orang cerdik yang mampu memenuhi tuntutan dari situasi yang menantang. Dalam pekerjaan, mereka cenderung menjadi pemimpin yang baik. Terus mencari cara baru untuk melakukan sesuatu, ENTP biasanya memiliki dorongan dan keterampilan sosial untuk melaksanakan ide-ide mereka.
Ringkasan: Gesit, inovatif, merangsang, waspada dan banyak bicara. Banyak akal dalam memecahkan masalah baru dan menantang. Mahir menghasilkan kemungkinan-kemungkinan konseptual dan kemudian menganalisa mereka secara strategis. Pandai membaca orang lain. Bosan dengan rutinitas, jarang akan melakukan hal yang sama dengan cara yang sama, cenderung beralih ke hal baru yang menarik.
Kata kunci: Kreatif, pemecahan masalah di tingkat sistem, analisis, teknis, kewirausahaan.
Karir pekerjaan: Ilmu, manajemen, teknologi, seni, pemasaran, komputer profesional, psikiater.
Jadi untuk teman-teman atau siapapun yang pernah salah paham dengan selera humor saya, saya minta maaf.. Saya baru sadar sekarang hehehehe..


Wednesday, October 23, 2013

Pantai Papuma

"Jangan kesiangan berangkatnya.."
"Jangan kemaleman berangkatnya.."
Yang satu cuma bisa nyetir pas siang, karena kalo malem matanya ga beres. Yang satu lagi cuma bisa nyetir malem karena kalo siang dia ngantuk dan ga suka banyak warga sekitar seliweran. Ya gini jadinya. Tapi akhirnya kami berangkat jam 3 sore ke Jember, setelah direncanakan... dua jam sebelumnya.
Dio, Rio, dan Ula. Mereka partner saya November lalu untuk ke Tanjung Papuma, Selatan Jember. Kami berangkat tanpa tahu dimana letaknya, hanya mengandalkan 'ijo-ijo' (papan penunjuk jalan) dan itupun sering kelewatan, akhirnya ya mengandalkan mulut untuk bertanya.
Perjalanan ga begitu mulus, berangkat jam 3, jam 8 malam kami masih makan malam di daerah antah berantah. Ternyata Probolinggo itu luas banget, belum lagi sempet kejebak macet di perbatasan. Mana hujan pula, dan lampu mobil Ula agak bermasalah. Hujan reda begitu kami masuk ke Jember. Otak mereka bertiga agak seger setelah jam 10 malem masuk ke Indomaret yang sedingin kulkas dan ketemu mbak-mbak kasir yang cantik banget. Kayaknya mereka lupa kalo mereka pergi sama perempuan yang ga kalah cantik.
Kelar belanja, nyasar-nyasar di jalanan Jember, akhirnya kami sampai di salah satu pintu masuk Pantai Papuma, jam 11 malam. Tapi pintunya ditutup, hanya ada gapura dan jalan tanpa ujung menuju ke hutan. Ga lama kami berhenti, ada bapak-bapak tua yang menunggu untuk didatangi. Turunlah Dio, Rio, dan Ula untuk tanya dimana jalan masuk ke Papuma. Bapaknya itu bilang ya lewat jalan itu, dan dia punya kuncinya. Pas bapaknya ambil kunci di rumahnya, anak tiga itu diskusi di mobil dan ngerasa ada yang aneh. Mereka yakin bukan cuma ini jalan masuknya. Akhirnya, kami minta maaf ke bapak itu untuk batal lewat jalan yang ke arah hutan itu. Kami jalan terus.
Ga lama, ada belokan ke kanan dan tulisan "Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma". Tanpa ragu kami belok dan sepanjang jalan itu ternyata semacam gurun pasir gersang dengan sedikit semak, bunyi debur ombak mulai kedengeran. Ga lama, ada pos penjagaan yang asal jadi, kami ditanya kemana, lalu diminta retribusi untuk masuk. Hanya 20.000 rupiah untuk satu mobil waktu itu. Kemudian orang itu menunjukkan jalan.
Kami masuk ke jalanan yang ga lebih rata dari dinamika kehidupan kami. Maaf, curcol. Jalannya memang naik-turun dan dikelilingi hutan. Akhirnya, kami sampai di Pantai Papuma. Ada portal yang terbuka dan jalan ke arah lobby hotel yang mirip tempat pertemuan terbuka. Cuma ada satu orang penjaga disitu. Kami pesan kamar yang paling murah dan yang ready saat itu juga. Believe it or not, cuma 80.000 rupiah udah bisa dapet kamar dengan bed gede, kamar mandi shower, AC, dinding kayu, dan mobil bisa parkir di depannya persis. Tapi berhadapan langsung sama hutan, dan kata penjaga, di dalam hutan ada biawak dan monyet. Beberapa dari kami takut sama biawak, beberapa lagi takut sama bayangan putih-putih yang makin lama makin deket ke kamar. Dan tidur adalah cara melarikan diri yang terbaik.
Paginya, saya yang terakhir bangun. Dio sudah keliling pantai sejak subuh, menikmati matahari terbit. Sedangkan Rio dan Ula masih menatap nanar monyet-monyet di depan kamar.

Monyet-monyet depan kamar. Keliatan?

Dengan memberanikan diri, kami semua jalan ke pantai menghindari monyet-monyet. Ternyata pantainya baguuuuus banget! Ga rugi nyasar berjam-jam demi pemandangan yang tenang dan cerah kayak gini!


 
Ada karang yang menjulang tinggi di satu sisi Pantai Papuma. Karang ini kadang bisa didatangi, tapi tergantung tinggi air dan ombak. Ternyata Papuma juga punya sisi lain. Karena bentuknya tanjung, sisi lain Pantai Papuma butuh didaki. Setelah mendaki ada pantai yang cukup berbeda dengan sisi sebelumnya. Di balik tebing, pantainya lebih berbatu dan ombaknya jauh lebih tinggi karena letaknya yang memang tidak terlindungi oleh karang-karang tinggi. Di sisi lain ini tidak ada satupun perahu nelayan yang disandarkan.

Ini tebing yang harus didaki untuk ke sisi lain Pantai Papuma.

Ini pemandangan dari atas tebing. Di seberang ada pulau karang yang cukup besar.

Ini karang lain yang juga jadi identitas Pantai Papuma.

Tekstur pantai di sisi lain Pantai Papuma.

Puas duduk diam, mengobrol, dan menikmati pemandangan yang ga ada di Surabaya, kami balik ke pantai yang sebelumnya untuk mencari sarapan. Di pinggir pantai, banyak warung yang menjual masakan olahan hasil laut dan masakan khas Jawa Timur yang harganya sangat terjangkau. Lelah dan kenyang, berjalan menuju kamar hotel, gantian mandi, lalu pulang dengan membawa cerita dan tape singkong. Buat yang mau tau kenapa kami pulang bawa tape? Boleh dibaca disini yang mana cerita itu juga pernah diposting dalam event ini.
Oh iya, satu hal yang kami ulangi di perjalanan pulang adalah mengandalkan 'ijo-ijo' sebagai penunjuk jalan (kali ini lebih gampang karena di setiap papan ada tujuan Surabaya) dan mampir ke Indomaret sedingin kulkas yang mbak kasirnya cantik. Dan beruntungnya ketiga teman saya, karena (entah kenapa) mbaknya belum ganti shift.

Catatan untuk kalian yang mau ke Papuma:
- Usahakan sampai disana siang hari, karena jalanan ke Jember agak kurang bersahabat dengan pencahayaan. Selain itu juga supaya bisa menikmati matahari terbenam. Karena bentuk Papuma yang tanjung, kalian bisa menikmati matahari tenggelam maupun terbit.
- Sempatkan mampir ke Pantai Watu Ulo, pantai yang ada sebelum masuk ke Pantai Papuma. Legenda disana, ada bebatuan yang terbentuk dari seorang pangeran yang melawan ular raksasa.
- Jelajahi hutan di Pantai Papuma. Ada banyak yang bisa dikunjungi disana, meskipun sepi. Termasuk Gua Lawa dan beberapa tempat lain. Peta lokasi menarik dalam kawasan Tanjung Papuma tersedia di dinding lobby (yang juga bisa disebut ruang pertemuan) hotel.
- Ada berbagai macam kamar di hotel. Mulai dari yang berkonsep seperti kamar hotel pada umumnya, juga seperti cottage. Harganya (saat itu) mulai dari 80.000 rupiah sampai sekitar 400.000 rupiah.
- Hati-hati dengan pihak yang menagih pungutan liar (jika ada), karena jalan untuk masuk ke Pantai Papuma memang ada beberapa. Tanyakan dengan baik pada petugas yang meminta pungutan jika memang kalian curiga. Dan setelah membayar, pasti diberi karcis. Bahkan kami waktu itu, tengah malam, tetap diberi karcis resmi.
- Pelajari sisi lain Papuma. Terlalu menarik bagi saya untuk memahami ada masalah apa di balik dua jalan masuk ke Pantai Papuma yang katanya juga ada perselisihan antar pemerintah daerah setempat dalam pengelolaan lokasinya. Mungkin ini bisa jadi judul penelitian sosial politik yang bagus untuk bidang terkait.
- Jaga barang bawaan kalian. Ya bukan hanya di Papuma, di setiap tempat harus menjaga barang bawaan sih.. Tapi kadang jika kita pergi ke tempat yang sangat menarik, kita lupa dengan barang bawaan kita.
- Jangan sesekali berenang di pantainya. Kecuali ada pemandu setempat yang memberikan titik penyelaman. Sudah ada peringatan di pinggir pantai untuk tidak menceburkan diri. Ya kecuali kalau memang berniat bunuh diri. Tekstur dasar pantai atau laut pesisir Papuma (dan kebanyakan pantai selatan Jawa) memang curam, bahkan di beberapa titik malah seperti jurang dasar laut. Didukung dengan ombaknya yang tinggi, pantai selatan selalu bisa menjadi tempat bunuh diri yang bagus, kemudian masyarakat akan menyalahkan Ratu Pantai Selatan. Kasihan Sang Ratu, hidup tenang di alam-Nya, masih saja sering dipersalahkan atas kebodohan manusia..
- Selebihnya, bisa dicek di website resmi Papuma walaupun sepertinya kurang update dan beberapa tidak sesuai dengan kenyataannya. 

Monday, October 21, 2013

Jangan Pernah Update Status 'I Hate Monday'

Sampai detik ini saya masih cukup heran dengan kalimat-kalimat keluhan tentang hari Senin di media sosial. Apa susahnya hari Senin? Apa bedanya Senin dengan hari yang lain?
Sejak sekolah, saya menganggap Senin biasa saja, kadang justru terasa spesial. Mungkin kali ini saya bisa membagi tips agar Senin kalian sama seperti Senin saya.


1. Siapkan hari Senin kalian di Jumat sore. Misalnya untuk yang masih kuliah, siapkan buku, tugas, dan baju kalian di Jumat sore, supaya tidak ada beban di akhir pekan. Sedangkan untuk yang bekerja, jangan lupa bersihkan meja kerja sebersih dan serapi mungkin sebelum meninggalkannya di akhir pekan. Sesampai di rumah, siapkan baju dan barang-barang yang harus dibawa ke kantor. Kebiasaan kecil seperti itu mampu membuat perubahan besar untuk lebih menikmati akhir pekan dan lebih siap menghadapi Senin.
2. Habiskan Minggu malam dengan hal yang menyenangkan. Ini selalu saya lakukan sejak entah kapan sampai detik ini. Saat kuliah, saya selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan teman-teman di Minggu malam untuk mengerjakan tugas. Walaupun sebenarnya tugas itu tidak dikumpulkan di hari Senin. Carilah tempat yang sederhana, yang penting bersama teman-teman. Dulu, saya selalu berkumpul bersama teman di teras kampus. Sebagian mengerjakan tugas, sebagian menonton sepakbola, sebagian lagi sebagai penggembira membawa gorengan dan es teh. Tapi ingat satu hal, jangan pulang larut malam. Hitung jam tidurmu, jadi pulanglah sebelum jam itu.
3. Jangan terlalu banyak tidur di akhir pekan. Secara medis, tidur 'pembalasan' di akhir pekan tidak akan menyehatkan tubuh. Justru itu akan merusak metabolisme tubuh yang sudah terbiasa dengan jam tidur sehari-hari. Saya pernah menghabiskan setiap malam dengan tidur hanya 4 jam, kemudian berniat tidur selama 10 jam di akhir pekan. Tidak berhasil. Saya bangun setelah tidur 8 jam dengan kepala berat dan hal itu justru mengharuskan saya meminum obat sakit kepala dan tetap berada di atas tempat tidur. Tidak percaya? Coba saja habiskan Minggu kalian dengan tidur sepanjang hari, bangun hanya untuk makan dan ke toilet. Di Senin pagi, kalian pasti akan lebih tidak bertenaga untuk bangun. Lagipula, apa untungnya menghabiskan waktu hanya untuk tidur?
4. Buatlah motivasi. Tunda sesuatu yang menyenangkan untuk diwujudkan di hari Senin. Entah itu mengakses situs-situs yang sudah direncanakan dengan memanfaatkan jaringan internet kampus/kantor (tapi ada beberapa kantor melarang hal ini), makan siang dengan menu spesial, sekedar mendengarkan lagu-lagu yang baru masuk ke playlist saat perjalanan ke kampus/kantor, atau makan malam bersama pacar. Bagi saya, makan malam atau menonton film dengan pacar di Senin malam itu harus diusahakan. Yaaa.. mungkin juga karena harga tiketnya lebih murah, jadi sekaligus membantu menghemat pengeluaran pacar. Lumayan buat tabungan nikah. Bukan sebuah keharusan untuk bertemu dengan orang pacar di hari Sabtu karena Sabtu biasanya semua restoran fully booked, bioskop penuh, dan jalanan macet. Sementara saya duduk manis di depan televisi menonton sepakbola, walaupun kadang juga bersama teman atau pacar. Tidak punya pacar untuk mengakhiri Senin malam kalian? Masih ada teman. Tidak ada teman? Masih ada keluarga. Tidak punya siapa-siapa? Masih ada salon. Atau toko buku. Atau butik-butik lokal. Ah, terlalu banyak hal yang menyenangkan di dunia ini..
5. Be a morning person. Lebih baik jika melakukan ini setiap hari. Tapi jika tidak memungkinkan karena hari-hari lainnya kamu pulang terlalu larut, usahakan bangun lebih pagi di hari Senin. Lakukan hal-hal menyenangkan seperti memasak untuk sarapan, menonton berita sambil minum kopi, apapunlah, yang penting menikmati pagi seperti orang-orang yang tidak dikejar waktu.
6. Terlanjur mendapatkan Senin yang menyebalkan walaupun sudah melakukan semua yang disarankan? Ceritakan. Bukan mengeluh, tapi ceritakan secara detail apa yang terjadi hari ini pada orang terdekat kalian. Atau bisa juga menuliskan semuanya. Kemudian baca lagi. Pahami apa atau siapa yang salah, sikapi dengan bijak, bukan dengan emosi. Buatlah agar hal-hal menyebalkan itu tidak terulang di hari-hari selanjutnya. Akhirnya pasti Senin kalian berakhir menyenangkan dengan mandi air hangat kemudian beranjak tidur tanpa beban di kepala.

Tapi ada sebagian orang yang tidak perlu melakukan saran-saran di atas untuk menjadikan hari Senin sebagai hari yang biasa saja. Mungkin karena mereka mampu mensyukuri apa yang mereka miliki di hari Senin. Menjadi orang yang terlalu sibuk dengan pekerjaan ataupun pendidikan, jauh lebih beruntung daripada mereka yang sampai detik ini masih menghabiskan Senin-nya dengan mencari lowongan pekerjaan, atau bahkan tidak mampu menikmati pendidikan di perguruan tinggi. Syukuri kesibukan kalian.

*Photo by @humanesketch


Saturday, October 12, 2013

"Should I tell you that I love you?"
"No, tell them that we are in love."


Tuesday, October 8, 2013

Bukan Lemah, Hanya Merasa Lemah

You said I'm weak, but I can do what you can't. Kicked enough?
Jahat sih, tapi saya memang selalu merasa bangga jika mampu melakukan hal yang orang lain tidak bisa. Tapi saya sadar, di atas langit memang masih ada langit, maka dari itu saya juga tidak akan pernah berhenti berusaha untuk membuktikan bahwa saya bisa melakukan apapun yang mereka bisa, maupun tidak bisa.
Arogan, angkuh, sombong, atau entah apa kata mereka. Tapi saya menyimpan kebanggaan ini dalam-dalam. Karena latar belakang setiap orang beda-beda, penilaian setiap orang beda-beda. Buktinya saja, kebanggaan terbesar saya sampai saat ini belum bisa dimengerti orang lain. Ketika orang membanggakan prestasi akademis mereka, penampilan fisik, harta, dan segala hal yang kasat mata, saya malah membanggakan perasaan saya.
If you feel you are weak, there you'll be.
Saya percaya penuh kalimat itu, karena saya pernah mengalaminya. Dihadapkan dengan persaingan bersama orang-orang yang menurut saya lebih hebat, akan membuat saya minder. Mungkin beda dengan yang lain, yang justru menjadi itu motivasi. Saya tipe orang yang jauh lebih sombong. Saya bisa lebih hebat, untuk apa harus takut gagal? Seandainya pun saya gagal, saya selalu percaya di luar sana ada keberhasilan yang lebih baik menunggu saya. Entahlah, saya hanya selalu merasa Tuhan sayang pada saya. Sangat sayang.
Sifat optimisme saya yang agak kurang sadar diri ini membuat saya bangga ketika fisik saya hancur, dalam keadaan yang sangat terpuruk, dan di bawah pengaruh obat yang efeknya sangat kuat, saya masih mampu mempertahankan apa yang dinamakan profesionalisme dengan mewawancara narasumber ketika saya melakukan penelitian sosial. Dan saya bangga, karena mungkin orang lain yang dihadapkan dalam keadaan seperti saya saat itu akan jatuh pingsan. Secara medis, memang itu yang seharusnya terjadi. Entah otak yang melawan hati, atau sebaliknya. Saya hanya merasa, jika semua sisi kehidupan saya hancur, paling tidak saya harus membuat satu sisi menjadi sangat baik untuk 'membayar' kehancuran sisi lain.
Bukan karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda, melainkan karena setiap orang memiliki semangat yang berbeda. Itulah kenapa ada orang-orang yang bisa, dan tidak bisa. Selama kita memiliki semangat yang tinggi, kita pasti bisa. Selama kita percaya bahwa kita bisa, kita akan menjadi seorang yang kuat.
Sekedar mengingatkan, Ludwig Van Beethoven adalah seorang tuna rungu. Sedangkan Hellen Keller adalah tuna netra sekaligus tuna rungu. Dan mereka bisa melakukan apa yang kamu BELUM bisa.


Friday, October 4, 2013

Takdir

Ada hal-hal yang tetap harus pergi meskipun susah payah kita pertahankan.
Ada juga hal-hal tak akan pernah bisa menjauh meskipun kita selalu berusaha melepaskannya.
Sia-sia menentang takdir.


Thursday, October 3, 2013

Pantai Ngobaran

Oktober 2011 yang lalu saya sama Eta, Sidik, Ridho, dan Dio ke Pantai Ngobaran jam 12 malam setelah makan tengah malam di soto sampah, soto paling enak di Yogyakarta. Di perjalanan, saya akui skill Sidik di dunia persetirmobilan memang sangat tinggi, tapi Ridho malah jackpot di tengah jalan. Ew.
Sampai di Pantai Ngobaran kepagian, sekitar jam setengah 4 pagi. Saya tidur di saung yang ada di dekat parkiran mobil, dan diiringi deburan ombak yang menghantam tebing, sementara Eta dan Dio sibuk mengobrol urusan lelaki. Sidik dan Ridho lenyap di alam mimpi lebih dulu di dalam mobil. Matahari hampir terbit, saya bangun.
Saya cinta pantai. Masa kecil saya dihabiskan di pesisir Tahuna, wilayah paling utara Indonesia. Tapi saya belum pernah sekalipun ke pantai selatan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Dan ternyata saya lebih suka pantai selatan DIY dibandingkan semua pantai yang pernah saya datangi, ombaknya bagus seperti tangan yang melambai, debur ombaknya pun beda, jauh lebih keras namun juga menenangkan di telinga. Saya betah jika harus duduk berjam-jam tanpa melakukan apapun di pinggir pantai selatan.
Keunggulan Pantai Ngobaran adalah sepi, karena letaknya yang cukup jauh, atau mungkin karena memang sedang sepi. Selain itu juga disana ada semacam pura lengkap dengan patung atau arca di atas tebing. Jadi, jika kita duduk di tepian tebing tempat pura itu berdiri, DIY bisa terasa seperti Bali.
Menurut cerita yang berkembang, pantai ini berhubungan erat dengan Prabu Brawijaya V. Prabu Brawijaya V adalah keturunan terakhir kerajaan Majapahit yang kabur dari istana bersama dua istrinya, Bondang Surati dan Dewi Lowati, karena menolak diislamkan oleh anaknya sendiri, Raden Patah, Raja I Demak. Mereka melakukan perjalanan sampai ke pedalaman lalu akhirnya menemui jalan buntu di pantai ini. Kemudian Prabu Brawijaya V memutuskan untuk membakar diri. Namun sebelum masuk ke dalam api, Prabu Brawijaya V bertanya ke kedua istrinya, "Wahai para istriku, siapa di antara kalian yang paling besar cintanya padaku?"
Dewi Lowati sebagai istri kedua, menjawab, "Cinta saya kepada Tuan sebesar gunung."
Sedangkan Bondang Surati sebagai istri pertama menjawab, "Cinta saya kepada Tuan seperti kuku hitam, setiap selesai dipotong pasti akan tumbuh lagi."
Jawaban itu menunjukkan bahwa cinta Bondang Surati tak akan pernah habis untuk suaminya dan akan selalu tumbuh. Setelah mengetahui jawaban kedua istrinya, Prabu Brawijaya V menarik Dewi Lowati untuk ikut membakar diri ke dalam api yang membara. Kemudian keduanya tewas hangus terbakar. Prabu Brawijaya V memilih Dewi Lowati karena menurutnya, cinta istri keduanya itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan istri pertamanya. Akhirnya pantai itu disebut Pantai Ngobaran yang berasal dari kata kobaran.
Konon tempat ini menjadi tempat peribadatan penganut kepercayaan Kejawan (bukan Kejawen) yang merupakan nama salah satu putra Prabu Brawijaya V, Bondhan Kejawan. Selain itu juga ada joglo yang digunakan sebagai peribadatan para pengikut kepercayaan Kejawen. Entah apa bedanya, belum ada yang dapat menjelaskan.
Di balik budaya yang berkembang itu, kebenaran tentang cerita asal-usul Pantai Ngobaran masih diragukan oleh banyak sejarahwan. Karena sangat diragukan Raden Patah memaksa ayahnya untuk memeluk Islam. Dalam cerita ini, seolah-olah Islam adalah agama yang disebarkan dengan cara kekerasan. Sangat berlawanan dengan penyebaran Islam di daerah dan tokoh lain. Banyak cerita juga menyebar bahwa yang terbakar bukanlah Prabu Brawijaya V, melainkan seekor anjing peliharaannya karena tulang-tulang yang ditemukan adalah belang yoyang (tulang belulang anjing). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Prabu Brawijaya V hanya berpura-pura membakar diri agar Raden Patah berhenti mencarinya.
Bagaimanapun, pantai ini tetap mempesona dengan pemandangan matahari terbitnya.




Foto-foto di atas adalah beberapa hasil foto Eta dengan EOS 500D birunya, editing cuma di resize karena saya tidak mau menghabiskan waktu lama hanya untuk menunggu uploading.

Ini satu-satunya foto Sidik yang ada di Pantai Ngobaran. Dari kualitas fotonya, sudah bisa ditebak ini garapannya Dio.

Ini Ridho dan Dio dengan pose terbaik mereka.

Sebenarnya di tepi pantai ada rumah makan yang menyediakan masakan hasil laut, tapi mungkin karena waktu itu bukan musim liburan dan akhir pekan, jadi tutup. Disana juga disediakan kamar mandi dan toilet yang cukup pantas, bukan toilet asal jadi. Di pinggir pantai ada beberapa saung yang cukup pantas untuk menjadi tempat tidur dan duduk-duduk santai. 
Menjelang siang, kami bersiap untuk pulang. Kami menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk minum kopi di warung kopi milik penduduk sekitar.
Akhirnya kami pulang dengan wajah berlapis embun Pantai Ngobaran, tertidur pulas di dalam mobil sampai akhirnya tiba di rumah Kotabaru dan melanjutkan tidur sampai sore.


Wednesday, October 2, 2013

Batik!

Selamat Hari Batik, Indonesia!
Batik adalah kebudayaan Indonesia sekaligus warisan dunia. Batik berasal dari bahasa Jawa yang berarti amba (menulis) dan titik (titik) karena proses pembuatannya memang seperti menulis menggunakan canting yang berisi cairan lilin, lalu kain tersebut dicelupkan ke dalam cairan warna. Proses pewarnaan cukup rumit dan panjang, sampai akhirnya kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.
Batik sendiri terdaftar dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh UNESCO (United Nations Scientific and Organization) pada tanggal 2 Oktober 2009 dalam acara Fourth Session of the Intergovernmental Committee (4.COM) di Abu Dhabi, United Arab Emirates. Tepat saat kita masih bersitegang dengan negeri seberang karena mereka mengakui batik adalah budaya mereka.
Pengakuan itu bisa terjadi mungkin karena kita lengah dalam mempertahankan budaya kita sendiri. Tidak sepenuhnya salah, karena dulu, makna batik yang berkembang dalam masyarakat adalah pakaian yang sangat formal dan hanya digunakan dalam acara-acara penting atau bangsawan-bangsawan Jawa. Indonesia pun tak hanya Jawa, jadi cukup berat untuk bisa bersama-sama mempertahankan batik.
Setelah adanya kasus dengan negeri seberang itu, batik mengalami pergeseran makna. Mulai banyak yang menggunakan batik sehari-hari. Model-model pakaian batik yang disesuaikan dengan jaman pun mulai dijual bebas dimana-mana. Tidak hanya pakaian, batik juga mulai digunakan sebagai kain tas, sandal, dan bermacam-macam aksesoris lainnya. Indonesia mulai melakukan segala cara untuk menunjukkan, "Ini batik, dan ini milik kami!"
Pelajaran besar untuk Indonesia agar lebih menghargai budaya sendiri, agar lebih bangga dengan apa yang kita miliki sendiri sebelum menerima kebudayaan bangsa lain. Kita yang terlalu sibuk dihujam brand-brand fashion luar negeri, pernah hampir meninggalkan batik.
Tapi ini belum selesai. Indonesia masih punya banyak budaya yang menuntut untuk dipertahankan, sebelum hilang tergerus jaman, atau dicuri dalam pengakuan bangsa lain. Kain khas daerah lainnya, pakaian adat, bahasa daerah, tarian daerah, dan masih banyak lagi hal-hal yang mulai terlupakan karena kita terlalu sibuk mempelajari budaya luar. Jadi, jangan berhenti di batik, Indonesia!