LINKS OF ME

Thursday, October 3, 2013

Pantai Ngobaran

Oktober 2011 yang lalu saya sama Eta, Sidik, Ridho, dan Dio ke Pantai Ngobaran jam 12 malam setelah makan tengah malam di soto sampah, soto paling enak di Yogyakarta. Di perjalanan, saya akui skill Sidik di dunia persetirmobilan memang sangat tinggi, tapi Ridho malah jackpot di tengah jalan. Ew.
Sampai di Pantai Ngobaran kepagian, sekitar jam setengah 4 pagi. Saya tidur di saung yang ada di dekat parkiran mobil, dan diiringi deburan ombak yang menghantam tebing, sementara Eta dan Dio sibuk mengobrol urusan lelaki. Sidik dan Ridho lenyap di alam mimpi lebih dulu di dalam mobil. Matahari hampir terbit, saya bangun.
Saya cinta pantai. Masa kecil saya dihabiskan di pesisir Tahuna, wilayah paling utara Indonesia. Tapi saya belum pernah sekalipun ke pantai selatan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Dan ternyata saya lebih suka pantai selatan DIY dibandingkan semua pantai yang pernah saya datangi, ombaknya bagus seperti tangan yang melambai, debur ombaknya pun beda, jauh lebih keras namun juga menenangkan di telinga. Saya betah jika harus duduk berjam-jam tanpa melakukan apapun di pinggir pantai selatan.
Keunggulan Pantai Ngobaran adalah sepi, karena letaknya yang cukup jauh, atau mungkin karena memang sedang sepi. Selain itu juga disana ada semacam pura lengkap dengan patung atau arca di atas tebing. Jadi, jika kita duduk di tepian tebing tempat pura itu berdiri, DIY bisa terasa seperti Bali.
Menurut cerita yang berkembang, pantai ini berhubungan erat dengan Prabu Brawijaya V. Prabu Brawijaya V adalah keturunan terakhir kerajaan Majapahit yang kabur dari istana bersama dua istrinya, Bondang Surati dan Dewi Lowati, karena menolak diislamkan oleh anaknya sendiri, Raden Patah, Raja I Demak. Mereka melakukan perjalanan sampai ke pedalaman lalu akhirnya menemui jalan buntu di pantai ini. Kemudian Prabu Brawijaya V memutuskan untuk membakar diri. Namun sebelum masuk ke dalam api, Prabu Brawijaya V bertanya ke kedua istrinya, "Wahai para istriku, siapa di antara kalian yang paling besar cintanya padaku?"
Dewi Lowati sebagai istri kedua, menjawab, "Cinta saya kepada Tuan sebesar gunung."
Sedangkan Bondang Surati sebagai istri pertama menjawab, "Cinta saya kepada Tuan seperti kuku hitam, setiap selesai dipotong pasti akan tumbuh lagi."
Jawaban itu menunjukkan bahwa cinta Bondang Surati tak akan pernah habis untuk suaminya dan akan selalu tumbuh. Setelah mengetahui jawaban kedua istrinya, Prabu Brawijaya V menarik Dewi Lowati untuk ikut membakar diri ke dalam api yang membara. Kemudian keduanya tewas hangus terbakar. Prabu Brawijaya V memilih Dewi Lowati karena menurutnya, cinta istri keduanya itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan istri pertamanya. Akhirnya pantai itu disebut Pantai Ngobaran yang berasal dari kata kobaran.
Konon tempat ini menjadi tempat peribadatan penganut kepercayaan Kejawan (bukan Kejawen) yang merupakan nama salah satu putra Prabu Brawijaya V, Bondhan Kejawan. Selain itu juga ada joglo yang digunakan sebagai peribadatan para pengikut kepercayaan Kejawen. Entah apa bedanya, belum ada yang dapat menjelaskan.
Di balik budaya yang berkembang itu, kebenaran tentang cerita asal-usul Pantai Ngobaran masih diragukan oleh banyak sejarahwan. Karena sangat diragukan Raden Patah memaksa ayahnya untuk memeluk Islam. Dalam cerita ini, seolah-olah Islam adalah agama yang disebarkan dengan cara kekerasan. Sangat berlawanan dengan penyebaran Islam di daerah dan tokoh lain. Banyak cerita juga menyebar bahwa yang terbakar bukanlah Prabu Brawijaya V, melainkan seekor anjing peliharaannya karena tulang-tulang yang ditemukan adalah belang yoyang (tulang belulang anjing). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Prabu Brawijaya V hanya berpura-pura membakar diri agar Raden Patah berhenti mencarinya.
Bagaimanapun, pantai ini tetap mempesona dengan pemandangan matahari terbitnya.




Foto-foto di atas adalah beberapa hasil foto Eta dengan EOS 500D birunya, editing cuma di resize karena saya tidak mau menghabiskan waktu lama hanya untuk menunggu uploading.

Ini satu-satunya foto Sidik yang ada di Pantai Ngobaran. Dari kualitas fotonya, sudah bisa ditebak ini garapannya Dio.

Ini Ridho dan Dio dengan pose terbaik mereka.

Sebenarnya di tepi pantai ada rumah makan yang menyediakan masakan hasil laut, tapi mungkin karena waktu itu bukan musim liburan dan akhir pekan, jadi tutup. Disana juga disediakan kamar mandi dan toilet yang cukup pantas, bukan toilet asal jadi. Di pinggir pantai ada beberapa saung yang cukup pantas untuk menjadi tempat tidur dan duduk-duduk santai. 
Menjelang siang, kami bersiap untuk pulang. Kami menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk minum kopi di warung kopi milik penduduk sekitar.
Akhirnya kami pulang dengan wajah berlapis embun Pantai Ngobaran, tertidur pulas di dalam mobil sampai akhirnya tiba di rumah Kotabaru dan melanjutkan tidur sampai sore.