LINKS OF ME

Wednesday, October 23, 2013

Pantai Papuma

"Jangan kesiangan berangkatnya.."
"Jangan kemaleman berangkatnya.."
Yang satu cuma bisa nyetir pas siang, karena kalo malem matanya ga beres. Yang satu lagi cuma bisa nyetir malem karena kalo siang dia ngantuk dan ga suka banyak warga sekitar seliweran. Ya gini jadinya. Tapi akhirnya kami berangkat jam 3 sore ke Jember, setelah direncanakan... dua jam sebelumnya.
Dio, Rio, dan Ula. Mereka partner saya November lalu untuk ke Tanjung Papuma, Selatan Jember. Kami berangkat tanpa tahu dimana letaknya, hanya mengandalkan 'ijo-ijo' (papan penunjuk jalan) dan itupun sering kelewatan, akhirnya ya mengandalkan mulut untuk bertanya.
Perjalanan ga begitu mulus, berangkat jam 3, jam 8 malam kami masih makan malam di daerah antah berantah. Ternyata Probolinggo itu luas banget, belum lagi sempet kejebak macet di perbatasan. Mana hujan pula, dan lampu mobil Ula agak bermasalah. Hujan reda begitu kami masuk ke Jember. Otak mereka bertiga agak seger setelah jam 10 malem masuk ke Indomaret yang sedingin kulkas dan ketemu mbak-mbak kasir yang cantik banget. Kayaknya mereka lupa kalo mereka pergi sama perempuan yang ga kalah cantik.
Kelar belanja, nyasar-nyasar di jalanan Jember, akhirnya kami sampai di salah satu pintu masuk Pantai Papuma, jam 11 malam. Tapi pintunya ditutup, hanya ada gapura dan jalan tanpa ujung menuju ke hutan. Ga lama kami berhenti, ada bapak-bapak tua yang menunggu untuk didatangi. Turunlah Dio, Rio, dan Ula untuk tanya dimana jalan masuk ke Papuma. Bapaknya itu bilang ya lewat jalan itu, dan dia punya kuncinya. Pas bapaknya ambil kunci di rumahnya, anak tiga itu diskusi di mobil dan ngerasa ada yang aneh. Mereka yakin bukan cuma ini jalan masuknya. Akhirnya, kami minta maaf ke bapak itu untuk batal lewat jalan yang ke arah hutan itu. Kami jalan terus.
Ga lama, ada belokan ke kanan dan tulisan "Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma". Tanpa ragu kami belok dan sepanjang jalan itu ternyata semacam gurun pasir gersang dengan sedikit semak, bunyi debur ombak mulai kedengeran. Ga lama, ada pos penjagaan yang asal jadi, kami ditanya kemana, lalu diminta retribusi untuk masuk. Hanya 20.000 rupiah untuk satu mobil waktu itu. Kemudian orang itu menunjukkan jalan.
Kami masuk ke jalanan yang ga lebih rata dari dinamika kehidupan kami. Maaf, curcol. Jalannya memang naik-turun dan dikelilingi hutan. Akhirnya, kami sampai di Pantai Papuma. Ada portal yang terbuka dan jalan ke arah lobby hotel yang mirip tempat pertemuan terbuka. Cuma ada satu orang penjaga disitu. Kami pesan kamar yang paling murah dan yang ready saat itu juga. Believe it or not, cuma 80.000 rupiah udah bisa dapet kamar dengan bed gede, kamar mandi shower, AC, dinding kayu, dan mobil bisa parkir di depannya persis. Tapi berhadapan langsung sama hutan, dan kata penjaga, di dalam hutan ada biawak dan monyet. Beberapa dari kami takut sama biawak, beberapa lagi takut sama bayangan putih-putih yang makin lama makin deket ke kamar. Dan tidur adalah cara melarikan diri yang terbaik.
Paginya, saya yang terakhir bangun. Dio sudah keliling pantai sejak subuh, menikmati matahari terbit. Sedangkan Rio dan Ula masih menatap nanar monyet-monyet di depan kamar.

Monyet-monyet depan kamar. Keliatan?

Dengan memberanikan diri, kami semua jalan ke pantai menghindari monyet-monyet. Ternyata pantainya baguuuuus banget! Ga rugi nyasar berjam-jam demi pemandangan yang tenang dan cerah kayak gini!


 
Ada karang yang menjulang tinggi di satu sisi Pantai Papuma. Karang ini kadang bisa didatangi, tapi tergantung tinggi air dan ombak. Ternyata Papuma juga punya sisi lain. Karena bentuknya tanjung, sisi lain Pantai Papuma butuh didaki. Setelah mendaki ada pantai yang cukup berbeda dengan sisi sebelumnya. Di balik tebing, pantainya lebih berbatu dan ombaknya jauh lebih tinggi karena letaknya yang memang tidak terlindungi oleh karang-karang tinggi. Di sisi lain ini tidak ada satupun perahu nelayan yang disandarkan.

Ini tebing yang harus didaki untuk ke sisi lain Pantai Papuma.

Ini pemandangan dari atas tebing. Di seberang ada pulau karang yang cukup besar.

Ini karang lain yang juga jadi identitas Pantai Papuma.

Tekstur pantai di sisi lain Pantai Papuma.

Puas duduk diam, mengobrol, dan menikmati pemandangan yang ga ada di Surabaya, kami balik ke pantai yang sebelumnya untuk mencari sarapan. Di pinggir pantai, banyak warung yang menjual masakan olahan hasil laut dan masakan khas Jawa Timur yang harganya sangat terjangkau. Lelah dan kenyang, berjalan menuju kamar hotel, gantian mandi, lalu pulang dengan membawa cerita dan tape singkong. Buat yang mau tau kenapa kami pulang bawa tape? Boleh dibaca disini yang mana cerita itu juga pernah diposting dalam event ini.
Oh iya, satu hal yang kami ulangi di perjalanan pulang adalah mengandalkan 'ijo-ijo' sebagai penunjuk jalan (kali ini lebih gampang karena di setiap papan ada tujuan Surabaya) dan mampir ke Indomaret sedingin kulkas yang mbak kasirnya cantik. Dan beruntungnya ketiga teman saya, karena (entah kenapa) mbaknya belum ganti shift.

Catatan untuk kalian yang mau ke Papuma:
- Usahakan sampai disana siang hari, karena jalanan ke Jember agak kurang bersahabat dengan pencahayaan. Selain itu juga supaya bisa menikmati matahari terbenam. Karena bentuk Papuma yang tanjung, kalian bisa menikmati matahari tenggelam maupun terbit.
- Sempatkan mampir ke Pantai Watu Ulo, pantai yang ada sebelum masuk ke Pantai Papuma. Legenda disana, ada bebatuan yang terbentuk dari seorang pangeran yang melawan ular raksasa.
- Jelajahi hutan di Pantai Papuma. Ada banyak yang bisa dikunjungi disana, meskipun sepi. Termasuk Gua Lawa dan beberapa tempat lain. Peta lokasi menarik dalam kawasan Tanjung Papuma tersedia di dinding lobby (yang juga bisa disebut ruang pertemuan) hotel.
- Ada berbagai macam kamar di hotel. Mulai dari yang berkonsep seperti kamar hotel pada umumnya, juga seperti cottage. Harganya (saat itu) mulai dari 80.000 rupiah sampai sekitar 400.000 rupiah.
- Hati-hati dengan pihak yang menagih pungutan liar (jika ada), karena jalan untuk masuk ke Pantai Papuma memang ada beberapa. Tanyakan dengan baik pada petugas yang meminta pungutan jika memang kalian curiga. Dan setelah membayar, pasti diberi karcis. Bahkan kami waktu itu, tengah malam, tetap diberi karcis resmi.
- Pelajari sisi lain Papuma. Terlalu menarik bagi saya untuk memahami ada masalah apa di balik dua jalan masuk ke Pantai Papuma yang katanya juga ada perselisihan antar pemerintah daerah setempat dalam pengelolaan lokasinya. Mungkin ini bisa jadi judul penelitian sosial politik yang bagus untuk bidang terkait.
- Jaga barang bawaan kalian. Ya bukan hanya di Papuma, di setiap tempat harus menjaga barang bawaan sih.. Tapi kadang jika kita pergi ke tempat yang sangat menarik, kita lupa dengan barang bawaan kita.
- Jangan sesekali berenang di pantainya. Kecuali ada pemandu setempat yang memberikan titik penyelaman. Sudah ada peringatan di pinggir pantai untuk tidak menceburkan diri. Ya kecuali kalau memang berniat bunuh diri. Tekstur dasar pantai atau laut pesisir Papuma (dan kebanyakan pantai selatan Jawa) memang curam, bahkan di beberapa titik malah seperti jurang dasar laut. Didukung dengan ombaknya yang tinggi, pantai selatan selalu bisa menjadi tempat bunuh diri yang bagus, kemudian masyarakat akan menyalahkan Ratu Pantai Selatan. Kasihan Sang Ratu, hidup tenang di alam-Nya, masih saja sering dipersalahkan atas kebodohan manusia..
- Selebihnya, bisa dicek di website resmi Papuma walaupun sepertinya kurang update dan beberapa tidak sesuai dengan kenyataannya.