LINKS OF ME

Friday, November 8, 2013

Macet

Jika kalian adalah seseorang yang berangkat kerja melewati jalanan macet, beruntunglah. Ada banyak hal yang dapat kalian syukuri.
Hari-hari biasanya, saya hanya menghabiskan waktu sekitar 5 menit ke kantor dengan menggunakan sepeda motor, sekitar 15 menit menggunakan mobil. Tapi pagi ini, saya berangkat dari rumah keluarga saya yang berjarak sekitar 15 km dari kantor dan memakan waktu 50 menit jika menggunakan sepeda motor, dan sekitar 1,5 jam menggunakan mobil, jika berangkat di jam yang sama.
Macet, itu alasannya. Jalur yang saya lewati pagi ini adalah jalur orang berangkat kerja pada umumnya. Tapi sebenarnya ada banyak hal menyenangkan dari macet (kecuali atasan kita yang sudah lebih dulu tiba di kantor). Kita bisa mendengarkan musik lebih lama di jalan. Kita bisa menerka-nerka darimana orang-orang yang tak tahu aturan lalu lintas itu berasal, tiba-tiba saja mereka lewat di depan kita memotong jalan seperti iklan saat siaran langsung pertandingan sepakbola. Menyebalkan, tapi kita masih bisa sabar. Kita bisa melihat preman-preman yang masih muka bantal dan pandangan mereka masih kosong. Mungkin mereka sedang berpikir bagaimana caranya mendapatkan rokok pertama hari ini. Kita bisa melihat polisi-polisi yang sibuk mengatur lalu lintas. Jika beruntung, kita juga bisa bertemu dengan polwan yang masih muda dan cantik. Jika sial, mungkin kita akan bertemu bapak-bapak polisi dengan perut besarnya. Menyenangkan.
Entah kalian pernah membandingkan atau tidak, wajah-wajah korban kemacetan di pagi hari sangat berbeda dengan saat sore jam pulang kantor. Semua ingin buru-buru tiba di rumah dengan wajah penuh debu dan keringat, otak penuh beban kantor yang memaksa untuk dibawa pulang, dan bau badan semerbak dimana-mana. Yang di dalam mobil pun tak kalah menyedihkan. Lagu apapun yang mereka dengarkan kadang tak cukup menghibur dan justru merusak konsentrasi mereka dalam menginjak kopling. Alhasil, update status 'macet' pun berhamburan di media sosial. Menyedihkan? Tidak. Orang-orang yang kita lihat di sore hari, orang-orang yang penuh emosi dan terburu-buru itu membawa cerita yang lebih panjang dari tadi pagi. Walaupun mereka juga hanya memiliki sedikit sisa kesabaran. Mereka berhasil bertahan hidup selama sekian jam hari ini. Perjalanan pulang penuh kemacetan adalah saat yang paling tepat untuk introspeksi diri.
Bagaimanapun, kita harus menjalani keduanya kan?
Paling tidak, kita dapat mensyukuri keduanya. Dengan lamanya perjalanan pulang saya dan kemacetan yang saya alami, saya belajar satu hal. Saya bukan satu-satunya orang yang membawa beban ini pulang.