LINKS OF ME

Wednesday, December 11, 2013

Bahasa untuk Menjemput Mereka yang Tertinggal

Saya jatuh cinta dengan bahasa daerah, dari sekian banyak hal kedaerahan lainnya. Dibesarkan dengan empat bahasa karena harus pindah dari satu kota ke kota lainnya sejak kecil membuat saya sadar betapa besarnya Indonesia. Dengan kemampuan adaptasi saya yang sangat kuat, rata-rata saya bisa menguasai bahasa daerah tempat saya tinggali sekitar satu bulan (ketika bersekolah). Tapi untuk logat (aksen), bicaralah dengan saya selama 15 menit, maka saya akan dengan mahir meniru logat lawan bicara saya seumur hidup.
Bahasa yang paling ingin saya kuasai adalah Jawa Kromo Inggil, karena setiap kata yang ada di bahasa tersebut benar-benar menarik. Sayangnya, memang terlalu susah. Kadang, arti yang sama memiliki kata yang berbeda ketika itu ditujukan untuk diri sendiri atau orang lain. Dan salah tingkatan sedikit saja, maka itu akan dianggap kasar. Sebenarnya saya ingin menguasai bahasa ini juga agar saya mampu berkomunikasi dengan sopan pada orang-orang yang usianya jauh lebih tua dari saya di daerah Jawa Tengah-Timur.
Logat yang paling sering saya gunakan (saat ini) adalah Bali. Setahun yang lalu, saya ke Bali dan menikmati Bali seperti penduduk sekitar, bukan seperti turis yang memanfaatkan waktu se-efisien mungkin untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Saya mengenal begitu banyak orang Bali, memahami cara mereka berbicara satu sama lain. Dan aksen mereka terlalu kuat untuk dilupakan begitu saja.
Di luar sana, ada banyak orang yang sedang belajar bahasa asing untuk memudahkan mereka ketika mengunjungi negara lain. Inggris, Perancis, Spanyol, Korea, dan masih banyak lagi. Tapi seandainya saya diberi tawaran untuk mengunjungi Paris atau Miangas, saya jelas lebih memilih Miangas. Seandainya saya diberi pilihan untuk belajar Bahasa Spanyol atau Bahasa Dani, saya akan memilih Bahasa Dani.
Setiap orang memiliki passion-nya masing-masing, bakatnya masing-masing. Betapa mulianya mereka yang mampu memperkenalkan Indonesia pada dunia menggunakan bahasa-bahasa asing yang sangat sulit itu. Saya pun ingin semulia mereka, tapi di sisi lain.
Sejak dulu saya bercita-cita untuk mengunjungi daerah-daerah terpencil, berbaur dengan warga disana, mempelajari bahasa mereka, kemudian mengingatkan mereka bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia.
Kalian tahu betapa sulitnya anak-anak di daerah terpencil memahami kurikulum yang menggunakan Bahasa Indonesia sementara beberapa sekolah di perkotaan sudah menggunakan Bahasa Inggris? Kalian tahu betapa sulitnya menanamkan bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia dan kelak akan tumbuh dewasa untuk membangun daerah mereka, membangun Indonesia, dimana mereka bahkan harus menempuh perjalanan menggunakan kapal yang terjadwal sebulan sekali, menempuh perjalanan selama berhari-hari menuju ibukota provinsi mereka sendiri?

Kelak saya (atau salah satu dari kalian) akan menjadi teman mereka yang akan memperkenalkan Indonesia pada mereka, anak-anak Indonesia yang berada jauh dari Pulau Jawa. Saya akan menjunjung langit dimana saya berpijak. Sama seperti orang-orang yang akan memperkenalkan Indonesia pada negara lain menggunakan bahasa asing.


Sunday, December 1, 2013

Happy Birthday Cak Lombeng!

Namanya Dio Safrial Truna. Biasa dipanggil torkop, juragan soto, dan seminggu ini kami panggil dia Cak Lombeng, karena dia berhasil jadi tour guide kami ke Pantai Lombang (dalam bahasa Madura dibaca Longmbeng). DAN HARI INI DIA ULANG TAHUN KE 23!!!


Wish you a very happy birthday, Cak Mbeng! Semoga lancar jodoh, rejeki, usaha, dan segala-galanya dimudahkan. Terima kasih sudah pernah menjadi segalanya di hidupku. Mulai dari mak comblang, tour guide, teman nongkrong yang bisa dipanggil setiap saat, samsak tinju, ustadz, dan semuamuamuanya. Semoga Tuhan memberimu kebaikan lebih dari kebaikan yang selalu kamu beri ke aku!