LINKS OF ME

Thursday, January 23, 2014

Heroes in You

Bumi. Hanya sepertiga permukaannya yang dapat kita tinggali sebagai manusia normal. Ya, daratan di permukaan bum memang hanya sepertiga keseluruhan permukaan bumi. Sisanya? Air. Sebagian air itu membeku di kutub dan membuat dataran-dataran rendah seperti Belanda atau Banjarmasin tetap kering, tidak tenggelam, karena pada dasarnya mereka berada di bawah permukaan laut. Sedangkan kita adalah salah satu dari 7,2 milyar manusia yang berada di atas bumi. Makhluk yang mendominasi bumi karena kecerdasannya untuk mengatur apapun yang mungkin terjadi bumi. Entah itu membuat bumi jadi lebih baik, atau sebaliknya.
Apa yang kita lakukan hari ini sangat menentukan seberapa lama umur bumi. Hari ini, diperkirakan umur bumi telah mencapai 4,6 milyar tahun. Tergolong tua ergantung seberapa banyak yang masih dapat kita habiskan dari kekayaan alamnya, atau seberapa banyak yang dapat kita perbaiki dari bumi ini.
Sebagai manusia biasa, kita memiliki otak untuk menentukan apapun yang akan kita lakukan. Termasuk membuang sampah sembarangan. Ketika kita membuang sebungkus permen di jalan, tidak akan terpikir akan menjadi apa bungkus plastik itu besok. Tapi bayangkan jika semua orang menganggap remeh hal kecil seperti itu, akan sebanyak apa sampah plastik setiap harinya.
Itulah yang terjadi saat ini. Detik ini, ada sekelompok orang mengeruk dataran Kalimantan secara ilegal demi mendapatkan keuntungan besar dari hasil buminya, batu intan. Besok, mereka meninggalkannya begitu saja, tanpa ada upaya pengembalian kondisi tanah seperti sebelumnya. Di saat yang sama, ada bukit-bukit disana yang semakin hari semakin menghilang karena bebatuan di dalamnya ditukar dengan uang tanpa mempedulikan makhluk yang hidup tenang di atasnya. Di laut, para nelayan sedang sibuk mempersiapkan bom dan berbagai cara yang dapat menghancurkan bermacam jenis biota laut hanya demi mendapatkan ikan yang banyak. Dan detik ini juga, ada sekian banyak orang sedang membuang sampah di jalanan, di sungai, di setiap sudut kota yang sama dengan tempat saya menulis ini.
Organisasi-organisasi pecinta lingkungan bekerja keras memperbaiki apa yang telah rusak, mencegah apa yang akan rusak, dan mengajarkan kepada kita untuk tidak merusak. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, dan uang demi umur bumi yang bisa lebih lama dan dinikmati oleh anak-cucu mereka. Mereka ingin es di kutub tetaplah menjadi es agar daerah Jakarta Utara tidak terendam ketika air laut pasang. Mereka memastika setiap lahan yang telah rusak dapat ditanami dan dapat menjadi tempat tinggal bagi mahkluk hidup selain manusia. Mereka menjadi pahlawan dalam peperangan melawan waktu dan teknologi.
Sedangkan kita dimana? Tidak punya waktu untuk ikut bersama mereka, tidak cukup uang untuk membantu kegiatan mereka, tapi jangan sampai kita tidak cukup hati untuk melihat dan sadar atas apa yang sedang terjadi pada bumi ini. Dengan semua kesibukan kita, kita memiliki pembenaran untuk tidak menjadi pahlawan dengan cara seperti mereka. Tapi kita tetap harus menjadi pahlawan untuk anak-cucu kita. Memastikan mereka dapat menghirup udara yang bersih dan menikmati air yang jernih.
Terlalu mudah menjadi pahlawan untuk bumi ini ketika kita sadar kita harus tetap melakukan kebaikan pada bumi demi anak-cucu kita. Gunakan barang-barang ramah lingkungan, buang sampah pada tempatnya, pisahkan sampah organik dan non-organik, matikan barang-barang elektronik ketika tidak dibutuhkan (bukan dalam keadaan standby), hemat penggunaan air, daur ulang barang-barang yang masih bisa digunakan sebelum dibuang, dan masih banyak hal sederhana yang dapat menjadikan kita pahlawan bagi masa depan bumi ini, dimulai dari diri kita sendiri. Karena jika kita tidak mampu untuk memperbaiki apa yang telah rusak dari bumi ini, paling tidak, jangan membuat bumi ini jadi lebih rusak.
Kita mampu menjadi pahlawan, dan kita harus menjadi pahlawan. Pahlawan bagi bumi, bagi anak-cucu kita. Dan bagi masa tua kita. Seperti saya, yang sedang berusaha menjadi pahlawan, dan berjuang dengan menulis kalimat-kalimat ini agar 7,2 milyar manusia di bumi sadar bahwa mereka juga harus menjadi pahlawan bagi bumi ini.