LINKS OF ME

Tuesday, February 4, 2014

Kedai Kopi

Saya bukan penggemar kopi. Tapi saya mencintai kedai kopi, atau seringnya disebut coffee shop, dalam Bahasa Inggris. Hampir setiap hari semasa kuliah, dan setelah pulang kerja (sebelum pekerjaan yang sekarang ini) saya habiskan di kedai kopi. Tak jarang dalam sehari saya singgah ke dua sampai tiga kedai kopi yang berbeda dalam satu kota. Berlibur jauh pun, salah satu (atau lebih) kedai kopi di kota itu selalu sempat untuk saya singgahi, walaupun tempat itu bukan tujuan saya, atau pernah direkomendasikan oleh teman saya. Hanya sekedar mampir, dan mencoba.
Irish Coffee memang pesanan wajib saya dalam sebuah kedai kopi. Namun menu itu masih belum cukup jarang ditemui di kedai kopi yang identik dengan kopi khas Indonesia. Racikan sederhana Kopi Toraja yang paling aman, jika itu memang terpaksa. Dan saya tidak akan berani mencoba Kopi Wamena (lagi) sebelum makan karena keasamannya yang sangat tinggi. Tapi menu, bukanlah hal yang selalu menarik saya untuk mampir ke sebuah kedai kopi. Melainkan cerita yang ada di dalam sebuah kedai kopi.
Ketika seseorang membuka kedai kopi, dia membawa kalimat cerita di kepalanya. Kalimat itu akan menghambur ke meja dimana teman-temannya sudah menunggunya. Tertulis di kertas atau notebook yang dia bawa. Jika dia masuk sendirian, tanpa ada yang menunggu, tanpa notebook, tanpa satu kata pun di kepalanya, maka dia pasti akan pulang membawa jauh lebih banyak kalimat. Menyerap semua kegiatan yang ada di kedai kopi itu, mengamati setiap kursi yang berganti orang, satu-persatu. Merekam banyak cerita. Saya orang yang cukup sering melakukannya sambil menghirup aroma khas kopi di cangkir saya.
Setiap orang mungkin akan melupakan apa yang mereka katakan dan lakukan di dalam sebuah kedai kopi. Tapi meja dan kursi akan menceritakan itu kembali pada orang yang berbeda. Menjadi saksi atas perubahan hidup sekian banyak orang. Menyadari bahwa setiap orang punya cerita yang sebenarnya sama beratnya dalam hidup ini. Mungkin kadang mereka menertawakan, kadang ikut menangis. Namun dari setiap salam perpisahan yang disampaikan barista, setiap pintu yang kita tutup untuk pulang, dinding-dinding kedai kopi tidak akan pernah merasa kesepian ataupun bosan untuk setia menunggu kita kembali, dan tidak akan pernah lelah untuk mengemas cerita kita hari itu.
Saya memilih kedai kopi bukan berdasarkan menu yang mereka tawarkan, dengan siapa saya akan bertemu, atau apa yang akan saya lakukan disana. Tapi saya memilih kedai kopi yang akan saya singgahi karena saya siap untuk menuangkan sebagian isi otak saya disana, atau mengisi penuh otak saya dengan setiap hal kecil disana untuk saya bawa pulang.