LINKS OF ME

Thursday, March 13, 2014

Yang Sempurna dan Menyempurnakan

Pernah ada satu titik dimana saya merasa tidak dapat diterima oleh siapapun, tidak memiliki satu hal apapun yang lebih dari orang lain. Benar-benar terbuang. Kemudian Allah menambal setiap kekurangan satu persatu. Menuntun sepanjang jalan, menaiki anak tangga satu persatu, langkah demi langkah.
Lulus terlalu cepat dari bangku kuliah, kehilangan sosok-sosok yang tadinya (terlihat) menyayangi, menginjak dunia kerja yang cukup kejam dan sangat tidak nyaman karena tidak sesuai passion. Tuntutan orang tua. Bangkit dari sakit dan masih dalam pengawasan penuh, tanpa sanggup meraih kebahagiaan di dunia luar.
Sampai akhirnya itu semua membuat saya lebih dekat dengan keluarga. Menyadari ada kehidupan kecil di dalam rumah yang jauh lebih berharga dari apapun di luar sana. Kemudian menyadari ada orang-orang yang tetap setia bersama meskipun mereka sempat terlupakan.
Sampai akhirnya suatu sore sepulang kerja, Allah membisikkan nama saya ke salah satu teman saya di ibukota untuk segera mengirimkan CV ke e-mail atasannya untuk dapat mengikuti tes masuk kerja di tempat impian saya, media. Restu dari Ibu tak terbendung, entah kenapa. Sebelumnya, beliau tidak pernah mengizinkan saya untuk angkat kaki dari kota pahlawan.
Berhasil melewati semuanya, disini saya sekarang. Allah melengkapi hidup saya. Diberi keluarga yang sangat perhatian, teman-teman yang sangat baik dan selalu menjaga saya, pekerjaan yang tidak hanya mampu mencukupi, namun juga membahagiakan. Sampai akhirnya hanya ada satu sisi yang belum Allah isi. Hati.
Rasa kehilangan, trauma, sakit hati, pesimis itu masih ada. Takut menjalin hubungan lagi dengan laki-laki lain, dan akhirnya putus lagi. Menjalin hubungan pertemanan hanya demi mengisi kehidupan, menerapkan apa yang Ibu tanamkan sejak kecil, "Bersikap baiklah pada siapapun, seberapa jahatnya mereka. Suatu saat akan ada orang jahat yang bersikap baik kepadamu. Bertemanlah dengan siapapun."
Tidak membedakan profesi atau materi, saya nyaman berteman dengan siapapun disini. Hingga saya lupa rasanya jatuh cinta.
Sebuah Minggu pagi datang, saya dihadapkan pada keadaan dimana saya menyadari bahwa saya jatuh cinta pada orang yang selama ini selalu bersama saya. Hampir lima tahun, saya mengenalnya dengan baik (maupun buruk). Memahami degan detail bagaimana sifat dan sikapnya. Tanpa pernah terpikir sebelumnya akan datang pagi dengan perasaan seperti itu di hidup saya dan dia.
Satu kalimat tanya yang tak sesederhana ejaannya keluar dari mulut laki-laki itu di satu Jumat pagi.
"Kamu mau jadi calon istriku?"
Matahari masih hangat, asap rokok masih memenuhi ruangan, dan petikan ukulele masih terdengar. Dan saya mengiyakannya tanpa ragu sedikitpun.
Bayangkan, setelah melewati titik dimana kita terpuruk dan hampir terkubur, Allah memberi segala kenikmatan, membawa kita menjadi orang yang lebih baik, dan tiba-tiba memberi orang yang lebih baik dari siapapun yang pernah kita kenal, menjadi pasangan hidup kita. Dengan semua konsekuensi, pertimbangan, serta pemahaman, saya sudah menjadi calon istri seseorang dan mulai belajar menjadi orang yang lebih baik lagi.
Sayang? Iya. Bukan hanya karena dia benar-benar laki-laki baik, tapi karena memang dia orang yang mampu membuat kupu-kupu di perut saya bangun dan menari. Entah apa yang dia lihat dari saya. Saya bukan orang yang memiliki kemampuan lebih di bidang apapun, tapi saya punya beban yang sama dengan mereka di luar sana. Paling tidak, saat ini saya tidak (hanya) jatuh cinta. Apalah ini namanya, kenyamanan dan keyakinan yang melebur jadi satu ketika beban hidup saya, saya letakkan di pundaknya.
Mungkin ini pertama kalinya kami berdua berpikir keras sebelum menjalin hubungan. Memikirkan bagaimana menyatukan dua keluarga, melengkapi dua watak yang berbeda, membuat komitmen untuk tetap bertahan apapun yang terjadi. Karena kami sudah saling kenal, kami merasa tidak perlu proses pendekatan dan segala hal romantis dan menye-menye yang membuang waktu.
Dua orang dewasa yang menjalin hubungan serius dan sama-sama punya rencana jangka panjang. Terdengar berat, tapi tidak ada satupun yang terasa berat sejak saya menjadi miliknya. Saya memang masih orang yang biasa. Tapi Allah sudah memberi saya satu orang yang luar biasa untuk membahagiakan saya lebih dari kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain. Satu orang luar biasa yang membuat segalanya jauh lebih baik, ringan, dan positif.
Sekarang, ada satu kalimat yang selalu membuat saya tersenyum kecil ketika saya melihat dia menatap tajam layar komputer di meja kerjanya, ketika dia tidak mampu membedakan bagaimana caranya bernyanyi dan berteriak, ketika dia memainkan kursi kerjanya, ketika dia memainkan ukulele dengan lagu yang itu-itu saja, dan ketika dia meracau dengan mata tertutup.
"Allah, iya, saya bersedia menghabiskan sisa hidup saya dengan laki-laki ini."

Terima kasih sudah menjadi yang sempurna dan menyempurnakan, Allah.