LINKS OF ME

Thursday, May 15, 2014

Narasumber yang Tersakiti?

Sekian bulan bekerja di MetroTV sebagai tim riset program Sudut Pandang yang tayang setiap Sabtu, 22.30 WIB, saya seringkali mengangkat tentang kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual. Hingga beberapa hari lalu setelah episode 'Pelecehan Seks di Sekolah', saya menerima kritik yang ditujukan ke akun Twitter resmi Sudut Pandang @MetroTV_SDP yang berisi:

"kalau ada kasus pelecehan seks atau pemerkosaan lagi sebaiknya tidak melakukan wawancara pada korban karena akan menyakiti mereka lagi"

Disini saya akan menjelaskan bahwa program ini tidak sekejam itu dengan mudahnya membasahi luka mereka yang hampir kering. Ada proses pendekatan pada narasumber yang perlu diketahui, dan proses ini saya sendiri yang melakukan.
Sebagai tim riset, saya sendiri yang melakukan riset awal berbagai kasus pelecehan seksual. Beberapa kasus ini saya ajukan ke tim program. Produser dan presenter akan memilih beberapa yang kemudian akan diproses dengan menghubungi langsung potensial narasumbernya, entah itu korban atau orang tua korban. Dalam proses ini, jika calon narasumber tidak berkenan untuk bercerita kepada saya, maka saya tidak akan memaksa dan tidak akan melanjutkan pre-interview.
Ada hal penting yang perlu ditekankan disini. Tidak semua korban pelecehan seksual itu mengalami trauma berat yang membuat mereka menutup diri dari lingkungan. Ada beberapa orang yang memang memiliki mental kuat, dan justru ingin menceritakan pengalamannya dengan tujuan agar tidak ada orang-orang yang mengalami kejadian yang seperti dialaminya, sama seperti tujuan program saya ketika mengangkat tema berbau seksual. Mereka inilah orang-orang yang bersedia untuk bercerita pada saya, yang kemudian saya laporkan hasil pre-interview-nya pada tim program saya.
Setiap saya mewawancarai calon narasumber melalui telepon atau mendatangi langsung ke rumahnya, saya selalu butuh waktu sekian menit untuk mengatur diri saya sebelum menekan nomor teleponnya atau mengetuk pintu rumahnya, untuk 'memasukkan' kasus mereka ke dalam diri saya. Ini penting untuk membuat calon narasumber merasa nyaman dan percaya. Saya pun tidak menganggap narasumber hanyalah obyek yang hanya digunakan untuk pembuatan tayangan. Saya tetap menjalin hubungan kekerabatan dengan mereka meskipun episode mereka sudah tayang, itu pula yang dilakukan oleh presenter program saya, Fifi Aleyda Yahya.
Fifi Aleyda Yahya memang terkenal memiliki pendekatan yang sangat baik dengan narasumber karena memiliki sosok keibuan. Tidak sedikit narasumber yang umumnya perempuan dan masih remaja justru merasa nyaman ketika menceritakan kasusnya kepada Fifi Aleyda Yahya.
Selain keinginan narasumber yang mencegah adanya korban selanjutnya, ada faktor lain yang dapat mempersilahkan media mengangkat cerita tentang kasus pelecehan seksual langsung dari korban atau orang tua korbannya. Mempercepat proses hukum. Ya, ketika kasus mereka masuk ke media, akan ada banyak masyarakat yang mengetahui bahwa kasus ini ada, dan proses hukum mereka pun akan didesak oleh masyarakat. Dalam dunia jurnasltik, ini disebut Pull Factor, seperti yang dijelaskan oleh Dandhy Dwi Laksono dalam kelas Jurnalisme Investigasi, Sabtu lalu. Ini halal, dan wajar. Ada simbiosis mutualisme yang kuat antara media dan narasumber disini.
Media tempat saya bernaung, melindungi identitas narasumber dengan sangat hati-hati. Identitas mereka selalu ditutup dengan sempurna ketika pengambilan gambar. Semua atas persetujuan narasumber. Narasumber pun selalu me-review sendiri hasil pengambilan gambar tersebut di control room.
Jadi, siapa yang tersakiti?

Tak apa. Ketika saya belum masuk ke dunia media pun saya selalu punya kritik sejenis. Tapi ketika saya masuk dan mengalami sendiri bagaimana caranya menjalin kedekatan dengan narasumber kasus-kasus sensitif, saya paham betul, tayangan talkshow berdurasi satu jam yang ada di televisi, tak sesederhana yang pernah saya bayangkan. Ada tim yang hebat di baliknya. Dan ada banyak, bahkan sangat banyak orang yang jauh lebih hebat dan kuat di luar sana untuk menceritakan pengalamannya ke kita semua, dengan niat mulia.