LINKS OF ME

Wednesday, June 18, 2014

Akhir Cerita Dolly?


Penutupan Dolly dilaksanakan hari ini. Risma, Walikota Surabaya, bersikeras Dolly, lokalisasi terakhir di Surabaya dan terbesar se-Asia Tenggara ini, harus ditutup. Adapun alasan-alasan yang beredar di masyarakat dan media mengenai penutupan Dolly sebagai berikut:
1.  Salah satu indikator keberhasilan kepemimpinan Risma. Namun anehnya, kebijakan ini justru sempat dikabarkan berseberangan dengan Wakil Walikota Surabaya, Whisnu yang sebenarnya juga berasal dari satu partai yang sama dengan Risma, PDIP. Namun setelah dikonfirmasi oleh Hasto semalam, Hasto menjelaskan, sejak awal, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana juga sependapat dengan rencana penutupan Dolly. Perbedaan pendapat hanya terletak pada tahap pembinaan PSK karena ingin memastikan penutupan lokalisasi prostitusi itu tidak menimbulkan masalah sosial baru.
2.  Agama. Tidak dipungkiri, sesuai perkataan KH Khoiron, kiai yang berhasil membuat PSK dan mucikari Bangunsari (sudah lama ditutup) bertobat,prostitusi memang tidak dapat dihentikan sampai akhir zaman, namun lokalosasi adalah hal yang berbeda. Lokalisasi dapat ditutup untuk menghambat prostitusi, yang jelas-jelas menyalahi agama Islam.
3.   'Pembersihan' dan pembenahan Surabaya. Menurut Risma, percuma Ia membangun sekian banyak taman di Surabaya jika Ia tak mampu membuat Surabaya benar-benar bersih dari sampah masyarakat. Sebelumnya, ada sekitar lima lokalisasi di Surabaya, dan hanya Dolly yang masih terus bertahan hingga saat ini.
4.   Pesanan mucikari pasar atas. Menurut ormas yang menolak penutupan Dolly, kebijakan ini dapat membuat pasar PSK kelas atas yang ada di dalam tempat-tempat hiburan malam di luar Dolly kebanjiran pelanggan. Dan secara keuntungan, nightclub juga lebih menguntungkan bagi pemerintah kota daripada lokalisasi seperti Dolly.
5.    Pengaruh buruk ke anak-anak warga sekitar. Dolly tidak hanya ditinggali oleh PSK dan mucikari, melainkan juga keluarga-keluarga normal yang memiliki anak-anak usia sekolah. Dalam salah satu artikel, ada yang menggambarkan betapa mudahnya anak sekolah tersentuh rokok dan minuman keras karena akses untuk mendapatkannya pun sangat mudah di lingkungan mereka. Belum lagi godaan bagi remaja putri yang akhirnya terjerumus ke lahan prostitusi di Dolly. Anak-anak lain juga jelas akan tumbuh secara berbeda karena mengenal seks lebih dini di lingkungannya.
6.    Penyebaran penyakit HIV/AIDS ke ibu rumah tangga yang tak berdosa. Tak ada yang tahu siapa dan dari mana para pelanggan Dolly berasal. Ada kemungkinan para lelaki hidung belang yang tertular HIV dari lokalisasi,membawa virus ini ke ibu-ibu rumah tangga yang menanti di rumah. Ini terbukti dengan meningkatnya jumlah penderita HIV yang berasal dari kalangan ibu rumah tangga akhir-akhir ini.
7.    Human trafficking. Berdasarkan pendataan, PSK yang ada di Dolly memang mayoritas berasal dari luar daerah Surabaya. Dan sebagian besar, pada awalnya mereka tidak berniat untuk bekerja sebagai PSK. Dengan keterbatasan keterampilan dan pendidikan, ada beberapa orang yang menemukan mereka dan mengajak untuk bekerja menjadi cleaning service, buruh cuci, atau sejenisnya di lokalisasi. Terpapar oleh prostitusi dan mengenal betapa mudahnya mendapatkan uang melalui cara ini, belum lagi rayuan para mucikari, akhirnya mereka pun jatuh ke prostitusi. Maka dari itu, banyak yang mengatakan, mereka adalah korban. Komnas HAM, mendukung penutupan dengan alasan ini, namun tetap mengawal nasib para individu di dalamnya agar tidak ditelantarkan oleh pemerintah.
Mungkin masih banyak alasan lain yang beredar di masyarakat selain tujuh hal di atas. Banyaknya alasan tidak serta merta dapat memuluskan jalan penutupan Dolly. Pemasangan CCTV di Dolly sejak tahun lalu, hanya berperan kecil untuk mengurangi pelanggan Dolly. Dolly masih tetap berjaya. Berdasarkan kesimpulan dari beberapa artikel, susahnya penutupan Dolly dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini:
1.  Kurangnya kesiapan dan kejelasan pemerintah dalam merencanakan kehidupan Dolly setelah penutupan. Hal ini menyebabkan banyak pelaku ekonomi di Dolly juga ragu untuk berpindah profesi atau tidak adanya fasilitas yang dapat menampung mereka setelah ini. Pengalaman penutupan di lokalisasi lain juga berdampak buruk bagi Dolly. Berdasarkan penelusuran tim Realitas, lokalisasi Tambak Asri Surabaya yang tadinya ditutup juga sekarang akhirnya hidup lagi secara kucing-kucingan karena pemerintah tidak menepati janji untuk member 10 juta rupiah per mucikari setelah penutupan.
2.  Adanya intimidasi dan perlawanan. Isu penutupan jelas memecah Dolly menjadi dua kubu, yang menolak dan mendukung. Otomatis, mereka juga melakukan cara-cara untuk mempengaruhi mereka yang belum mengambil sikap. Unjuk rasa para PSK ke jalan juga patut diperhitungkan. Apalagi mereka mengancam akan memboikot pilpres Juli mendatang jika Dolly jadi ditutup. Bahkan spanduk yang tersebar di Dolly bertuliskan, “TOLAK PENUTUPAN DOLLY... HARGA MATI!”
3.   Kesiapan PSK, mucikari, dan warga sekitar untuk menjalani hidup di luar lingkaran prostitusi. Mereka mungkin memilih ada di jalan ini karena tidak memiliki keterampilan atau pendidikan yang dapat digunakan untuk bekerja selain memuaskan hasrat seks lelaki hidung belang. Mereka mengatakan bahwa ini hanya masalah perut, urusan iman itu urusan mereka dan Tuhan mereka masing-masing, bukan pemerintah. Belum lagi janji Kementerian Sosial yang akan memberi uang senilai 5,05 juta per PSK, dan janji untuk memulangkan mereka ke daerah asal, dirasa kurang. Mereka menganggap, dana Usaha Ekonomi Kreatif (UEP) sebesar 3 juta, 1,8 juta untuk upah dengan rincian 20.000 rupiah per hari selama 90 hari dan 250 ribu rupiah untuk transportasi mereka pulang ke kampungnya tidak dapat menjadi modal usaha yang pasti. Sedangkan untuk mucikari dan keluarga rentan yang terkena dampak, akan diberi uang oleh pemerintah provinsi dengan jumlah yang belum dipublikasikan.
4.    Hutang para mucikari. Inilah kasus yang kurang diekspos oleh sebagian besar media. Perputaran uang di dalam Dolly tidak segampang yang terlihat di permukaan. Meskipun PSK mampu meraup 11-15 juta per bulan, mereka juga punya hutang yang sangat banyak pada mucikari mereka karena banyak PSK yang harus merawat diri dan membutuhkan uang lebih untuk biaya make up atau baju, hal-hal di luar kebutuhan primer untuk meningkatkan nilai jual mereka di mata lelaki. Mucikari, tentu menjadi pihak yang paling untuk di kawasan lokalisasi karena mereka memainkan uang pelanggan, sekaligus uang para PSK.
Jika ditanya satu per satu, jelas akan lebih banyak lagi kendala yang dapat diungkap. Namun inilah yang paling banyak dikeluhkan dan dipermasalahkan di Dolly. Belum lagi terganjal dengan dampak-dampak buruk yang sudah terpikir oleh masyarakat pelaku ekonomi di Dolly. Matinya perekonomian, jelas. Perputaran uang di Dolly dapat mencapai 1 milyar dalam semalam. Dengan ribuan PSK, ratusan mucikari, juru parkir, pedagang, supir becak dan angkutan umum lainnya, calo rumah prostitusi yang sistem kerjanya sudah seperti calo di terminal dan mendapat 10% dari tarif PSK, salon kecantikan, buruh cuci, hingga tim keamanan atau preman di Dolly akan kehilangan pendapatan. Di luar masalah ekonomi, para PSK yang tidak jelas-jelas mengakui pekerjaan mereka di hadapan keluarga di kampung, tentu akan tetap menjadi PSK, akhirnya, mereka akan menyasar daerah lain sekitar Surabaya. Ini pun sudah jadi pertimbangan daerah-daerah lain sekitar Surabaya. Bahkan Bali, sudah menggelar razia yang menyaring PSK eks-Dolly sejak bulan lalu. Bayangkan saja, akan ada ribuan PSK yang tumpah ke daerah lain setelah hari ini.
Satu hal yang menjadi dilemma besar dalam penutupan lokalisasi ini, yakni penyebaran HIV/AIDS. Di satu sisi, dengan adanya lokalisasi, para PSK terkumpul dalam satu daerah saja, tidak tersebar ke banyak daerah, entah itu mengidap HIV atau tidak. Tapi di sisi lain, dengan adanya lokalisasi, para pria beristri bisa dengan mudahnya juga membawa HIV pulang ke rumah, ke anak dan istrinya. Entah kebijakan mana yang terbaik, mengumpulkan mereka di satu tempat, atau melepas mereka begitu saja ke masyarakat, tanpa ada yang tahu penyakit apa yang mereka bawa.
Lalu apa keuntungan dari penutupan Dolly? Dan akan jadi seperti apa Dolly setelah ini? Tri Rismaharini, singa betina yang terus mengaum ini menjanjikan akan membuat gedung enam lantai, dilengkapi dengan lift, yang isinya akan menampung para PKL, perpustakaan dan taman bermain untuk anak-anak, balai warga, dan berbagai fasilitas untuk kebaikan warga lainnya.
Jika bicara tentang mana yang terbaik, ada atau tidaknya Dolly di Surabaya, semua relatif. Yang terbaik untuk kita, belum tentu itu juga baik untuk orang lain. Begitupun sebaliknya. Mencari jalan tengah yang berpihak pada semua kalangan, bukanlah hal yang mudah, karena sampai detik ini, kebijakan yang dinilai populis seperti ini pun mendapat penolakan yang menyebutkan bahwa pemerintah tidak memikirkan nasib mereka, para penjaja cinta semalam di Red Light District-nya Surabaya.