LINKS OF ME

Friday, June 27, 2014

Oleh-Oleh dari Dolly

Genap seminggu saya pulang dari Dolly, lokalisasi terbesar di Asia Tenggara yang 18 Juni 2014 kemarin dideklarasikan penutupannya oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini di Islamic Center Surabaya.
Jumat siang minggu lalu, saya masuk ke Dolly dengan tim Sudut Pandang, MetroTV, industri media yang membayar saya untuk mengerjakan hobby saya. Produser, presenter, tiga kameramen, dan dua driver dengan dua mobil. Dari ujung jalan, Dolly memang ditutup. Ada portal yang dijaga oleh dua pria berseragam polisi dan belasan anak muda yang tergabung dalam FPL (Front Pekerja Lokalisasi). Setelah menjelaskan bahwa kami awak media dan sudah ada janji dengan Pokemon (Saputra), Ketua FPL, kami pun dipersilahkan masuk.
Sebelum mencapai posko FPL, kami melewati tiga portal dengan penjagaan yang sama ketatnya, padahal jarak posko dan ujung jalan tak sampai satu kilometer. Jalanan itu sudah seperti kota mati di siang hari. Salah satu kameramen saya berkata, "Suasananya panas. Siap-siap aja kalau nanti di sini tiba-tiba aparat bentrok sama FPL, kita bukan syuting Sudut Pandang, tapi Breaking News."
Setibanya kami di posko yang sederhana, kami dipersilahkan menunggu Pokemon. Tak lama, datang beberapa wartawan lain dari beberapa media yang berbeda. Ya, warga Dolly mempersilahkan media meliput Dolly dengan bebas selama 19-20 Juni 2014 untuk membuktikan bahwa Dolly belum tutup dan mereka siap melakukan perlawanan. Setibanya Pokemon, Ia bercerita bahwa kemarin ada puluhan wartawan yang meliput Dolly, baik dalam maupun luar negeri. Namun ada beberapa wartawan yang membayar PSK agar PSK tersebut mengaku bahwa Ia setuju dengan penutupan Dolly. Alhasil, PSK tersebut diusir dari Dolly dan warga mengecam aksi wartawan tersebut.
Tujuan tim kami memang untuk melakukan syuting dengan warga Dolly tentang sikap mereka pasca penutupan. Tayangan ini pun tayang besok, Sabtu, 28 Juni 2014, pukul 20.05 WIB di MetroTV. Tapi sebenarnya saya melakukan riset pribadi di daerah ini.
Hampir sore, saya, produser, dan presenter berkeliling Dolly, masuk ke salah satu wisma, atas seizin Pokemon dan pemiliknya. Ada geliat kehidupan normal di dalamnya. Ada juru masak yang sedang bekerja di dapur, memasak makanan porsi besar untuk mengisi perut para pejuang penolak penutupan lokalisasi Dolly garis depan. Beberapa PSK (termasuk narasumber kami) pun masih tertidur pulas setelah semalaman menerima tamu. Jam tidur mereka pasti sudah terbalik, seperti kelelawar. Di luar wisma, ada beberapa PSK sedang berlatih upacara bendera. FPL merencanakan upacara pengibaran bendera untuk menunjukkan pada masyarakat di luar sana bahwa Dolly merdeka. Cukup lama saya duduk mengamati mereka. Tak sedikit yang tak hafal lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta sehingga dibantu teks sambil menghafal pelan-pelan. Salah satu dari yang melatih mereka mendekati saya, dan berkata, "Ya maklum lah Mbak, ga sedikit dari mereka yang lulus SD aja enggak.."
Seolah-olah Ia mengerti apa yang saya pikirkan. Saya pun hanya tersenyum dan terus memperhatikan. Ada semangat yang terlihat dari mereka untuk melakukan hal-hal kecil demi penolakan penutupan lapangan pekerjaan mereka. Tidak ada perasaan terpaksa yang terlihat. Mereka tertawa terbahak-bahak ketika salah aba-aba. Khidmat ketika menyanyikan lagu wajib. Terakhir, saya baru tahu kalau mereka tidak hanya menghafalkan dua lagu wajib itu. Di lembaran lirik lagu, saya melihat ada beberapa lagu perjuangan yang biasa dinyanyikan saat demonstrasi, termasuk Darah Juang.
Proses syuting dengan PSK, mucikari, dan pedagang kaki lima di Dolly pun dimulai. Rasanya tak perlu saya ceritakan tentang ini karena kalian bisa menontonnya besok malam.
Malamnya, saya berkumpul dengan puluhan awak media lainnya berkeliling Dolly (yang buka seperti biasa), dipandu oleh Pokemon. Ada teriakan-teriakan dari warga yang terdengar sayup-sayup di tengah dentuman musik dangdut remix.
"Ngomongin moral makanya mau nutup Dolly? Lha wong Menteri Agama kita aja ga bermoral!"
"Deklarasinya di Islamic Center, jadi yang tutup Islamic Center, Dolly tetep buka."
"Dolly tetep buka, Mbak!"
Semacam itulah.
Saya masuk gang-gang kecil yang dipenuhi dengan perempuan-perempuan yang rata-rata berusia 25 tahun duduk manis di sofa, menutupi wajahnya dengan koran atau masker, membiarkan para kuli tinta mengambil gambar mereka dari sisi luar 'akuarium'. Ya, beberapa wisma di Dolly memang sudah seperti akuarium, jendela depannya memiliki kaca yang lebar untuk memudahkan para tamu menikmati kemolekan tubuh para PSK yang duduk di sofa panjang di dalamnya. Di sepanjang gang, berjajar wisma yang jadi satu dengan rumah warga, pedagang kaki lima yang menjual rokok, kondom, dan antibiotik, serta rumah-rumah yang lantai bawahnya sudah dimodifikasi khusus untuk tempat parkir sepeda motor. Masuk ke gang yang lain, ada wisma yang jadi satu dengan tempat karaoke, kafe-kafe dengan musik nyaring yang menyediakan bir, juga tempat-tempat pijat. Tak heran jika banyak media cetak menuliskan bahwa perputaran uang di Dolly mencapai satu milyar rupiah dalam semalam. Lokalisasi bukan hanya tentang prostitusi, tapi di Dolly, ada ribuan orang menggantungkan hidupnya dari perbuatan yang dianggap amoral ini.
Setelah semua pandangan mata, pendengaran saya yang merangkum potongan cerita warga sekitar, saya tetap setuju lokalisasi ini ada. Bukan tentang sisi humanis yang tersentuh membayangkan ribuan orang kehilangan pekerjaan, bukan juga tentang anggapan bahwa PSK justru lebih baik dikumpulkan dalam satu lokalisasi daripada harus tersebar di penjuru kota, melainkan tentang moral. Bukan moral para PSK atau mucikari, tapi moral para penggunanya. Menurut saya, yang juga diiyakan oleh Zoya Amirin, psikolog seksual yang saya kenal kemarin, yang harus diatur adalah tamu yang datang. Biarlah PSK tetap ada, tapi harus ada efek bagi para tamunya. Pemasangan CCTV di Dolly sudah benar. Jika perlu, dibuatlah sebuah lokalisasi yang untuk masuk kesana harus mendaftar dulu, meninggalkan KTP, dan hanya satu pintu. Secara tidak langsung, moralitas seseorang dapat diukur dari sini. Untuk menghindari penyebaran HIV, harus ada pemeriksaan kesehatan rutin dan mengeliminasi mereka yang terjangkit HIV dengan cara memberi mereka pelatihan pekerjaan yang lain secara intensif agar tidak dapat menyebarkan HIV-nya. Isu human trafficking? Kawal mucikarinya, harus ada organisasi yang mampu mengatur dan mengawasi 'kesehatan' kehidupan lokalisasi. Jangan sampai ada anak di bawah umur yang terjual di dalam lokalisasi.
Saya hanya mampu berdoa, calon suami saya punya moral yang baik, selalu ingat Tuhannya, dan sadar bahwa lokalisasi bukan tempat 'jajan' yang sederhana seperti di permukaannya. Dan membiarkan para PSK, yang manusia biasa, sama seperti kita ini, mencari jalan untuk tetap hidup dan urusan moral, serahkan pada Ia dan Tuhannya saja. Seperti mereka yang menyerahkan moral kita pada kita dan Tuhan kita sendiri. Mereka tak pernah memaksa orang untuk datang ke lokalisasi dan menjadi tamu mereka.