LINKS OF ME

Wednesday, December 2, 2015

Menimba untuk Menyiram


Kemarin, seorang teman ingin berkuliah di luar negeri. Oh, kemarinnya lagi juga. Minggu lalu, sebulan yang lalu, juga ada teman yang ingin berkuliah di luar negeri. Sementara hari ini saya duduk di atas pipa merah, di area terbuka kantor saya, membuang waktu untuk menulis ini. Dan saya belum ingin bersekolah di luar negeri. Mungkin saya malas mendaftar beasiswa, mungkin saya tidak ingin menunda pernikahan, mungkin saya tidak ingin terlalu jauh dari Ibu saya, atau mungkin hanya karena saya terlalu pesimis untuk bisa.
Tapi alasan yang sebenarnya, saya belum tahu harus berbuat apa untuk negeri ini sepulang saya dari luar negeri. Di otak saya, menyandang gelar magister lulusan luar negeri adalah beban untuk berbuat lebih pada negeri ini, lebih dari mereka yang belum berkesempatan menikmati tingkatan ilmu itu.
Dian Sastro pernah bilang, seorang Ibu Rumah Tangga tetap harus berpendidikan tinggi untuk mendidik anak-anaknya. Sementara Ibu saya pernah bilang, "Kalau kamu masih belum bisa pisahin sampah organik dan anorganik, ga usah sekolah tinggi-tinggi. Ga ada gunanya."
Saya menangkapnya, untuk berbuat lebih, tidak perlu sekolah terlalu tinggi. Untuk peduli pada lingkungan, tidak perlu menjadi sarjana. Salah? Iya. Tapi juga ada benarnya. Kita tidak perlu gelar di nama kita untuk mulai berbuat baik dan benar.
Beberapa teman saya yang berkesempatan (atau berencana) kuliah di luar negeri pernah saya tanyai, apa yang akan mereka lakukan sepulang dari sana? Apa tujuan utama mereka? Kebanyakan menjawab, menjadi dosen. Ada juga yang menjawab, agar mendapat pekerjaan dan gaji yang lebih baik dari mereka yang hanya bergelar sarjana. Jawaban mereka menambah pertanyaan yang ada di otak saya, tapi tak akan saya ucapkan di mulut saya ke mereka. Saya menghargai pilihan mereka. Mengapa mendidik orang lain butuh kalimat 'nanti setelah lulus kuliah magister dari luar negeri' segala? Mengapa harus meninggalkan negeri ini bertahun-tahun untuk membuat perubahan pada negeri ini? Apakah perubahan yang mereka lalukan nantinya lebih besar dari yang berpendidikan lebih rendah? Mengapa mereka tidak memulainya lebih awal? Mungkin jawabannya adalah, lulus program magister adalah syarat menjadi dosen. Baiklah. Lalu apakah ilmu yang akan mereka transfer hanya ditujukan pada mahasiswa? Bagaimana remaja-remaja yang seumur mahasiswa tapi tidak mampu untuk membayar perkuliahan bisa mendapat ilmu juga? Apa mereka tidak berhak karena tidak punya uang?
Terlalu banyak anak pertanyaan saya, bukan hanya tentang kuliah di luar negeri, tapi tentang pendidikan yang lebih tinggi, secara umum. Apalagi untuk Dian Sastro, apakah seseorang berpendidikan tinggi hanya berkewajiban untuk mendidik anak kandungnya dan anak-anak yang membayar uang sekolah? Bukankah kata Anies Baswedan, pendidikan adalah gerakan? Jadi kita semua harus bergerak, kan? Bukan hanya yang sarjana atau profesor?
Itu tadi hanya pertanyaan-pertanyaan bodoh saya yang sok peduli ini. Tulisan ini hanyalah tameng atas ketidakmampuan (atau ke-belum-siap-an) saya menimba ilmu lebih jauh dan lebih tinggi. Saya tahu mereka hebat, saya salut pada mereka. Saya tahu tidak gampang meraih beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Saya hanya berharap mereka akan membuat negeri ini lebih baik ketika mereka pulang nanti. Saya tahu mereka mampu. Dan memang harus. Jangan sampai mereka menjadi saya yang hanya duduk di atas pipa merah, menulis ini, dan sebentar lagi akan kembali ke ruangan, bekerja demi menerima upah bulanan yang tak begitu berarti untuk dibagi ke yang membutuhkan. Kemudian beralasan terlalu sibuk untuk menjadi relawan pendidik anak-anak tidak mampu. Semoga saya tidak betah dengan keadaan ini dan segera berbuat sesuatu. Setidaknya, punya rencana matang.