LINKS OF ME

Saturday, January 2, 2016

Selamat Tahun (dan Resolusi) Baru

Selamat tahun baru. Kalian menghabiskan malam tahun baru dimana? Saya menghabiskan waktu di sebuah tempat biasa, tak istimewa, tapi dengan orang-orang yang istimewa.

Tapi dalam perjalanan ke tempat itu, saya melewati jalanan yang padat. Cukup waktu untuk saya bisa menyisir pemandangan di sekitar saya. Perkotaan padat dengan pusat perbelanjaan yang menjulang dimana-mana. Di depan pagarnya lewat seorang ibu berbaju lusuh menarik gerobaknya dengan lemah. Bocah kecil berdiri di dalam gerobak. Wajahnya bahagia melihat banyaknya lampu dan kembang api di sekitarnya. Tapi apa ibunya tahu bahwa ini adalah malam tahun baru? Kenapa dia tidak sebahagia anaknya?

Beberapa meter setelah mereka, ada seorang lelaki paruh baya berjalan dengan langkah ringan, membawa beberapa kantong belanja dari merk-merk baju ternama. Wajahnya bahagia. Tapi dia sendirian. Saya bertanya-tanya. Oh mungkin dia terpisah dari keluarganya, mungkin sedang tugas di Jakarta, dan memanfaatkan pesta diskon malam tahun baru untuk belanja, sebagai hadiah atau oleh-oleh ke anak-istrinya. Dia bahagia walaupun sendirian. Iya, kan?

Sebegitu beragamnya orang-orang melewatkan malam tahun barunya. Tapi saya sendiri juga bertanya, mengapa tahun baru harus dirayakan? Apa bedanya dengan ganti bulan? Atau ganti hari? Mengapa bumi yang kembali ke titik orbit yang sama harus dirayakan? Yang lebih lucu lagi, mengapa resolusi harus dibuat menjelang tahun yang baru?

Ah sudahlah, toh saya pun membuat resolusi untuk 2016. Tapi saat menulis ini, saya bukan memikirkan strategi untuk mencapai resolusi 2016 saya. Saya justru menyesalinya. Mengapa saya harus membuat resolusi itu? Mengapa menggapai sesuatu harus menunggu tahun yang baru? Dan mengapa menjadi orang yang lebih baik harus di tahun ini? Mengapa tidak di hari yang kemarin-kemarin?

Biarlah pertanyaan-pertanyaan ini tidak terjawab. Sama seperti pertanyaan saya tentang ibu-ibu tadi. Kan mungkin saja ibu tadi tidak bahagia karena resolusi 2015-nya belum tercapai. Atau mungkin karena dia sedih tidak bisa menghabiskan malam tahun barunya dengan cara seperti kita-kita ini. Siapa yang tahu? Bapak-bapak yang sendiri itu juga belum tentu belanja untuk keluarganya. Bisa saja untuk selingkuhannya mumpung dia sedang berada jauh dari keluarganya. Atau mungkin juga dia belanja untuk dirinya sendiri, menyenangkan dirinya sendiri di malam tahun baru karena dia belum berkeluarga.

Semuanya masih kemungkinan. Maka sekarang tugas kita hanya menjawab pertanyaan, mungkinkah resolusi 2016 kita tercapai? Kapan? Kita sendiri yang menentukan. Rasa penyesalan saya tadi cukup menyemangati untuk membuat strategi. Selamat menjawab!