LINKS OF ME

Saturday, August 27, 2016

Mencari Bapak (Saya)

Saya menulis ini di H-5 perjalanan mencari bapak. Jadi, saya mau cerita sedikit tentang bapak yang hilang ini..
Pertama, mengapa harus dicari? Karena saya mau kawin (dan nikah). Yang mana dalam agama saya, Islam, jika seorang anak perempuan akan menikah, maka yang menikahkan adalah ayah kandungnya (saya menyebut ayah saya dengan panggilan bapak, jadi selanjutnya akan kita bahas dengan kata bapak). Boleh diwakilkan, tapi atas perintah bapak, atau kalau bapaknya sudah meninggal. Nah kalau bapaknya hilang? Dicari dulu, kalau tidak ketemu baru boleh diwakilkan.
Kedua, bapaknya hilang ke mana? Kalau tahu ke mana, namanya tidak hilang. Jadi, bapak dan ibu saya itu pisah sejak saya SMP. Ternyata bapak saya menikah lagi, dan tinggal di Yogyakarta karena pekerjaan terakhirnya sebelum pensiun pun di Kantor Pos Besar Yogyakarta.
Terakhir kali saya menemui bapak itu tahun 2010, saat saya ke Yogyakarta dengan dua teman saya, Dio (yang beberapa tahun kemudian jadi calon suami saya) dan Ridho. Saya bertemu dengan beliau di depan salah satu hotel di Malioboro. Obrolan singkat bertukar kabar dengan canggungnya. Tak lebih dari 30 menit. Setelah itu, tak pernah ada pertemuan atau pesan singkat lagi. Tapi saya tahu nomornya masih aktif dari last seen WhatsApp-nya. Sampai awal tahun ini.
Ketika saya dan Dio memutuskan untuk jalan ke arah pernikahan, saya cek last seen WhatsApp-nya 28 Januari 2016. Ditelpon pun sudah tidak pernah aktif. Maka saya pun memutuskan untuk mencari bapak demi sahnya pernikahan kami.
Ketiga, bagaimana mencarinya? Kamis nanti saya kebetulan akan berangkat ke Yogyakarta. Langkah pertama, saya akan menanyakan alamat rumah bapak ke Kantor Pos Besar Yogyakarta. Semoga saja database mereka rapi. Setelah tahu alamatnya, saya akan ke rumahnya. Jika akhirnya saya bertemu bapak saya, saya hanya akan bilang, "Pak, anakmu akan menikah. Minta nomor handphone dong, aku kabari tanggalnya nanti," Tapi jika akhirnya saya tidak menemukan bapak saya, ya saya akan pulang dan dinikahkan oleh kakak laki-laki saya atau penghulu.
Segampang itu?
Mungkin iya, menurut kalian. Tapi menurut saya, ini pertentangan batin. Seandainya saya menemukan rumahnya, berarti saya juga akan bertemu dengan istri barunya dan anak-anak barunya. Butuh kesiapan untuk itu. Bapak sudah membuang saya dan ibu saya demi mereka, dan saya harus menginjak rumah mereka untuk meminta bapak menikahkan saya. Lalu nanti bapak akan menikahkan saya? Berarti akan bertemu dengan ibu saya? Siapkah ibu?
Tapi seandainya saya tidak menemukan bapak, lalu di mana bapak? Masih hidupkah?
Seandainya juga yang saya temui adalah kabar bahwa bapak telah tiada, menyesalkah saya karena tidak menjalin hubungan baik dengan bapak di sisa masa hidupnya?
Ini bukan hanya tentang perjalanan mencari bapak, tapi juga tentang penggalian masa lalu. Saya tidak tahu, penggalian ini dapat membantu saya membangun masa depan atau justru untuk mengubur saya dalam-dalam dalam kelam.