LINKS OF ME

Friday, August 18, 2017

Menemukan Bapak Saya

Hampir setahun yang lalu saya pergi ke Jogja, mencari bapak saya (cerita sebelum berangkat di sini). Tapi hasilnya belum pernah saya posting. Bahkan saya belum posting apapun sejak itu.

Singkat cerita, setibanya saya di Jogja, sekitar pukul 8 pagi, saya langsung menuju ke Kantor Pos Besar Yogyakarta yang terletak di Kilometer 0 Malioboro, sambil menunggu jam check-in hotel.

Berbekal wajah yang 100% mirip dengan bapak saya, saya percaya diri masuk ke Kantor Pos itu. Sesuai cerita sebelumnya, tahun 2010 itu, bapak saya belum pensiun dan jabatan terakhirnya di tempat itu adalah jabatan tertinggi. Seandainya belum banyak pegawai yang dimutasi, pasti masih ada yang mengenali bapak saya, di wajah saya.

Saya bertanya ke loket, "Boleh ke bagian SDM?" Di kantor bapak saya, bagian HRD memang disebut sebagai SDM, Sumber Daya Manusia. Petugas di loket agak bingung dan tanya balik, "Ada perlu apa, Mbak?" Saya pun menjelaskan maksud dan tujuan saya. Petugas itu mengarahkan saya untuk lewat pintu belakang dan menemui petugas di belakang untuk diarahkan ke Ruang SDM.

Setibanya saya di pintu belakang Kantor Pos, ada parkiran yang sedang digunakan untuk pembagian dana pensiun (sepertinya). Saya pun menanyakan hal yang sama ke petugas jaga di situ. Wanita itu menanyakan pertanyaan yang sama dengan petugas di depan. Lagi-lagi, saya menjelaskan. Kali ini wajahnya kaget. Ekspresinya beda dengan petugas di depan. Dia memanggil seorang lelaki usia 30-an awal yang lewat di belakang saya dan petugas wanita itu langsung berkata, "Ini anaknya Pak Rosyad!"

Setelah menjelaskan (lagi) maksud saya ke orang yang baru dipanggil itu, dia mengangguk-angguk kemudian bercerita, "Saya sering ke rumah bapak di Wates. Biasanya dipanggil kalau mobilnya rusak. Kalau mau ke sana, bisa kok. Langsung saja ke Kantor Pos Wates, ada istrinya kerja di sana, nanti pasti diantarkan ke rumahnya."

Kalian tahu rasanya mendengar kata 'istrinya'?

Saya diam beberapa saat, dan mulai bicara dengan nada yang tertahan, "Kalau boleh, saya minta nomornya aja, Mas. Nomor bapak yang saya punya sudah tidak aktif entah sejak kapan. Untuk ketemunya, biar saya atur sendiri."

Laki-laki usia 30-an itu pun mencoba mencari kontak di ponselnya. Dia memberi saya beberapa nomor. Sembari saya mencatat nomor yang disebutnya, petugas wanita tadi bisik-bisik dengan petugas lain. Sedikit saya dengar, "Anaknya Pak Rosyad, dari istrinya yang lama, ternyata lama tidak dihubungi, mirip ya sama bapaknya."

Saya cuek, pura-pura tak mendengar demi hati saya sendiri. Lagipula, saya sudah dengan sadar akan mengambil resiko ini sejak saya memutuskan untuk datang ke kantor ini.

Kembali ke lelaki tadi, dia seperti agak ragu memberikan nomor telepon bapak ke saya. Keraguan itu diperjelas dengan petugas wanita tadi tiba-tiba menelepon (katanya) adiknya yang bekerja di Kantor Pos Wates. Setelah telepon, dia bicara ke saya, "Kalau mau ke sana sekarang bisa kok, nanti hubungi adik saya saja, ini saya kasih nomornya. Ibu juga ada di sana kok."

Ibu?! Ibunya siapa?! Saya memaki dalam hati. Istri baru bapak seumuran dia, tak jauh beda dari kakak pertama saya, dan memang masih bekerja di Kantor Pos Wates, sementara bapak saya sudah pensiun dini dan tinggal di rumah dengan dua anak dari istri barunya. Sementara 'adat' di kantor bapak saya memang selalu menyebut istri atasan dengan panggilan 'ibu', tak peduli usianya yang masih terbilang muda. Tapi saya agak sensitif dan ingin teriak, "Ibu saya di Surabaya!"

Saya pikir, semakin lama saya di tempat itu, hati saya semakin hancur. Saya pamit pergi dan berterima kasih. Berjalan pelan membelakangi mereka, saya bangga pada diri saya sendiri karena tak ada setetespun air mata dari mata saya, dan juga tak ada satu mulut pun yang saya tampar di sana.

Sampai sore, saya tak mencoba menghubungi bapak. Tapi nomor baru bapak yang saya simpan itu beberapa kali menelepon saya, saya abaikan. Kemudian kakak saya dari Surabaya menelepon. Saya angkat.

"Heh, kamu ke Jogja?! Cari bapak? Sudah ketemu? Bapak telepon aku, katanya kamu ke Kantor Pos Jogja cari nomor Bapak? Ini aku sudah punya nomor barunya, aku kirim ya."

Saya tak memikirkan polosnya kakak saya, tapi ada hal yang lebih aneh. Kalau selama ini bapak simpan nomor saya dan kakak saya, kenapa dia tak pernah menghubungi kami setelah ganti nomor? Jawaban kita pasti sama. Dia memang tak ingin dihubungi.

Saya ternyata tak cukup kuat untuk melangkah ke Wates. Tak cukup kuat dengan segala kemungkinan yang terjadi, yang sudah saya perkirakan di postingan sebelum ini. Akhirnya saya SMS bapak dengan kalimat "Aku akan hubungi Bapak kalau sudah dekat tanggal pernikahan, tolong kabari kalau ganti nomor." Bapak berhenti telepon saya setelah SMS itu.

Sejak hari itu, tak ada komunikasi lagi hingga hari ini, hanya beberapa hari sebelum lamaran, dan beberapa bulan sebelum pernikahan saya dan Dio.

Saya mungkin belum bertemu bapak, tapi saya sudah menemukan bapak. Saya memang tak sekuat yang saya bayangkan. Sejak setahun yang lalu saya punya nomor bapak, yang saya lakukan hampir tiap malam sebelum tidur hanya membuka kontak bapak di WhatsApp dan melihat fotonya. Raganya menua, kurus, tak terawat. Sementara ibu saya selalu sehat di masa tuanya, sering liburan, dan bahagia dengan dua cucu dari dua kakak saya. Karma itu ada.