LINKS OF ME

Sunday, October 15, 2017

Cemburu

Kata ibu, aku pencemburu dari lahir. Saat masih Balita, ayahku menggendong anak orang lain, aku cemburu tapi tak menangis. Aku cubit kaki anak itu sampai dia menangis kencang dan kembali ke orang tuanya.

Kata ibu, aku tak pernah rela apa yang aku punya, dirasakan oleh orang lain, sekecil atau sesederhana apapun hal itu. Mulai dari sebatang pensil, hingga seorang ayah.

Aku tak pernah inginkan apa yang orang lain punya. Aku hanya tak ingin, apa yang menjadi punyaku diinginkan oleh orang lain.

Hanya satu hal yang aku miliki tapi aku rela berbagi dengan orang lain, yaitu Allah-ku.

--

Beranjak dewasa, tak hanya ibuku yang bilang aku pencemburu. Pacar-pacarku, mengiyakan. Sampai akhirnya pacar terakhirku, berselingkuh dengan janda satu anak karena katanya aku pencemburu. Entah di mana logikanya, hanya dia yang tahu.

Setelah dia, aku berjanji untuk tidak cemburu lagi, dalam percintaanku dengan lelaki selanjutnya, tentunya. Aku dipilih oleh sahabatku sendiri. Aku tepati janjiku. Aku tak cemburu.

Lelaki yang satu ini gila kerja sampai pagi buta, aku tak cemburu. Gila belajar, sampai harus melanjutkan pendidikannya meski sudah bertanya "Will you marry me?", aku pun tak cemburu dengan buku dan laptopnya. Aku menunggu dengan tenang. Tak pernah ada percik amarah tentang wanita lain di hidup kami. Kemudian aku sadar, aku tak cemburu bukan karena aku tak cemburu. Tapi memang karena dia sadar dia punyaku dan tak inginkan wanita lain.

Ternyata aku bukan pencemburu dari lahir. Aku hanya bertemu orang-orang yang tak merasa dimiliki olehku, seumur hidupku sebelum aku dipilihnya.

Siapa yang memang mudah disentuh orang lain selain pemiliknya, memang semurah itulah harga dirinya. Semurah itulah mereka, semurah itulah ayahku.