LINKS OF ME

Wednesday, July 11, 2018

[REVIEW] BENTON ALOE BHA SKIN TONER

It claims…

Dari website bentoncosmetics.com, klaimnya sih ini untuk:
Skin Trouble Care / Moisture Supply / Dead Skin Cell and Blackhead Care 
Skin Texture Control / Pores Care / Improves Skin Barrier / Prevention on Skin Damage
Anti-acne : FDA OTC (Salicylic Acid 0.5%)

                      

Lumayan menjanjikan buat aku, karena aku punya kulit yang kering, tapi gampang jerawatan. Selain itu, di website-nya juga menjelaskan hal ini:

ALOE BHA SKIN TONER is tested under dermatological control. This toner contains Aloe Barbadensis Leaf Water,  Aloe Barbadensis Leaf  Extract, and Aloe Barbadensis Leaf  Juice, BHA (0.5%), Snail Secretion Filtrate, Hyaluronic Acid and Beta-Glucan are used with natural preservatives. This slightly acidic toner is designed for daily use. Aloe BHA Skin Toner is registered as OTC drug in FDA, for Anti-Acne function.  


- Beneficial skin types : For all skin types
- Volume : 200ml / 6.76 fl. oz.
- Bottle type : Plastic pump
- pH : Slightly Acidic pH
- Viscosity : Liquid type
- Scent : Unscented (Free of Chemical Fragrance)
- Color : Transparent (Free of Chemical Coloring)
- Expiration Date : 24 months from manufacture date
- PAO (Period After Opening) : 6 months

It contains…

Komposisi utamanya jelas tertulis kalau ini mengandung aloe vera, hyaluronic acid, snail secretion filtrate, dan salicylic acid sebagai BHA-nya. Tapi, ini selengkapnya:
Aloe Barbadensis Leaf Water(80%), Aqua (Water), Butylene Glycol, Glycerin, 1,2-Hexanediol, Sodium Hyaluronate, Snail Secretion Filtrate, Beta-Glucan, Polyglutamic Acid, Aspalathus Linearis Extract, Portulaca Oleracea Extract, Psidium Guajava Fruit Extract, Salicylic Acid(0.5%), Althaea Rosea Root Extract, Aloe Barbadensis Leaf Extract(200mg), Aloe Barbadensis Leaf Juice(200mg), Arginine, Pentylene Glycol, Zanthoxylum Piperitum Fruit Extract, Pulsatilla Koreana Extract, Usnea Barbata (Lichen) Extract, Polysorbate 20, Acrylates/C10-30 Alkyl Acrylate Crosspolymer, Xanthan Gum

Setelah aku cek di skincarisma.com, ternyata banyak ingredient yang masih unknown. Tapi ga ada satupun yang high risk atau unsafe, jadi di awal ya merasa aman untuk coba ini.

How to Use…

Di botol dan website-nya memang disarankan untuk dituang langsung ke telapak tangan sebanyak 1-2 pump, lalu langsung diratakan ke seluruh wajah. Tapi banyak juga yang dituang ke kapas dulu. Aku pribadi sih udah pernah coba dua-duanya, jauh lebih enak kalau pakai kapas karena rasanya ga terlalu tebal dan kelamaan nunggu keringnya untuk move ke step selanjutnya. Mungkin juga kapasnya membantu exfoliating, karena setiap setelah pakai ini, kapasnya masih kelihatan agak kotor, padahal sebelumnya sudah double cleansing.



My Experience…

Ini exfoliating toner yang pertama aku coba, jadi tadinya wajahku baik-baik aja dengan skincare yang itu-itu aja. Teksturnya cair tapi agak kental, ga secair air biasa tapi juga ga sekental essence, just right lah. Aku pakai di pagi dan malam hari, dilanjutkan dengan moisturizer dan sunscreen. Sehari, dua hari, ga ada masalah. Sampai setelah seminggu lebih, di wajahku muncul bruntusan kecil-kecil banget dang ada matanya. Tekstur kulit juga aneh, kering, dan warna kulit agak ga rata. Ga ada glowingnya sama sekali. Aku sempat mikir ini purging, tapi dipikir lagi, ah enggak deh kayaknya. Aku stop pemakaiannya, balik lagi ke skincare routine biasanya. Setelah hampir seminggu stop pakai ini, kulitku balik lagi seperti biasa. Baiklah, mungkin memang karena toner ini.

Mencoba meneluri history skincare, oh iya ternyata aku memang pernah ga cocok sama SEMUA range produk Benton yang contains snail secretion filtrate yang warna coklat itu. Untungnya waktu itu belinya ukuran kecil-kecil, jadi ga sedih-sedih banget.


Sebenarnya Aloe BHA Skin Toner ini pun sebelumnya aku beli ukuran kecilnya, tapi karena cuma cukup dipakai beberapa hari, waktu itu aku merasa ini oke-oke aja. Ternyata kalau lebih lama, aku ga cocok. Jadilah sekarang sisa banyak dari full size-nya, aku pakai buat siku, lutut, dan kaki aja biar ga terbuang sia-sia.


The Goods:
+ Packagingnya bagus dan botol pump gitu, jadi higienis dan ga repot tuang-tuang
+ Harganya cukup terjangkau dibanding exfoliating toner merk lainnya
+ Huge amount of products, 200ml!
+ Doesn’t contains alcohol

The Bads:
- Ga cocok aja di kulitku
- Hanya bertahan 6 bulan setelah dibuka (jadi hati-hati kalau ada yang jual share in smaller bottle)

Repurchase?
Sadly, NO.

Where to Buy? How Much?
Mei 2018, aku beli di Shopee, nama tokonya “onniebeauty” dengan harga Rp145.000,-

*UPDATE: Ternyata aku ga cocok sama produk ini bukan hanya karena ga cocok sama snail formulanya, tapi juga ternyata aku alergi aloe vera. Baru ketahuan setelah coba beberapa produk yang mengandung aloe vera dan semua berakhir sama kayak gini efeknya di kulitku.


Monday, March 19, 2018

Bertemu dan Berpisah dengan Bapak

Long story short, since this post, I found my dad, yes. But I haven't literally met him. Saya akhirnya lamaran tanggal 3 September 2017. Beberapa minggu kemudian, ketika saya dan Dio berkutat dengan urusan kelurahan dan KUA, saya akhirnya hubungi bapak lagi. Meminta bapak datang untuk rapak (semacam meeting) di KUA dengan orang tua pihak wanita dan laki-laki, lengkap. Langsunglah fokus membayangkan bagaimana bapak akan bertemu ibu untuk pertama kalinya sejak entah kapan.

Could it be worse?

Saya atur jadwal se-ciamik mungkin. Rapak H-7 pernikahan, supaya saya dan Dio tidak perlu bolak-balik lagi Surabaya-Jakarta. Bapak agak kesulitan ekonomi karena harga tiket kereta PP Yogyakarta-Surabaya setiap weekend selalu melambung. Saya belikan dia tiket kereta eksekutif dengan bangga. Ini lho, anakmu yang kamu sia-siakan bisa beli tiket kereta eksekutif seharga tiket pesawat dengan uangnya sendiri.

Bapak berangkat H-1 dan menginap di keluarganya. Saya berangkat di pagi harinya dari Jakarta, karena memang berencana langsung ke KUA dari Bandara Juanda. Berarti sudah bisa dipastikan orang tua kami akan tiba lebih dulu di KUA sebelum kedua calon mempelai ini.

Turun dari taksi, abi (ayahnya Dio) membantu kami memindahkan barang ke mobil. Tapi pandanganku langsung tertuju ke sosok lelaki tua yang duduk di sebelah umi (ibunya Dio). Itukah? Tapi sepertinya terlalu tua.

Dan ternyata memang itu. Bapak terlihat jauh lebih tua dari umurnya. Tapi perasaan yang ada saat itu benar-benar aneh. Tidak ada dendam, pun kasihan. Hanya seperti ketika kamu melihat seseorang yang tidak kamu kenali, tapi dia akan menikahkan kamu, jadi kamu harus menyapanya.

Ibu datang terlambat, dengan baju dan senyum terbaiknya. Menunjukkan hasil ketegarannya selama ini. Saya pun menggandengnya bangga. Bapak, inilah dua wanita yang kamu pinggirkan dulu. Dan sekarang kamu yang terpinggirkan dengan sendirinya.

Terlepas dari semuanya, saya sangat menghargai kedua orang tua Dio yang mampu menjaga perasaan saya. Luar biasa. Saya tak menerima saran atau nasihat sedikitpun untuk saya memohon maaf atau bersikap baik ke bapak. Seolah mereka merasa apa yang saya alami selama bertahun-tahun.

Pertemuan itu berakhir di KUA pagi itu juga. Bapak pamit pulang kembali ke Wates, Yogyakarta, dan berjanji akan datang seminggu kemudian untuk menikahkan anak perempuan satu-satunya ini. Bapak sempat memberikan satu dus buah kelapa ke keluarga Dio sebagai oleh-oleh, yang kemudian akhirnya semua bingung, itu untuk apa.

Sebelum pulang, ibu masih sempat menyapa bapak dengan pertanyaan tanpa jawaban, "Kamu kok kurus?" yang lebih seperti rangkuman dari kalimat, "Kamu ga ada ngerawat ya kok kurus begini? Waktu sama aku kamu ga semenyedihkan ini. Memangnya istri sama anak-anakmu mana?"

Hahaha. Respon ibu bertemu bapak ternyata tak seburuk atau sedrama yang saya bayangkan sebelumnya. Tak ada makian atau pelukan. Ternyata kehidupan sudah berjalan terlalu jauh.

Bapak kembali seminggu kemudian untuk menyerahkan kehidupanku ke Dio. Tapi sejak pagi, saya tak bertemu bapak. Saya bertemu bapak di meja akad nikah. Setelah dia menyelesaikan tugasnya menjadi ayahku. Tugas terakhirnya untuk kehidupannya yang lama ini. Tugas satu-satunya karena dua anaknya dari istrinya yang baru semuanya laki-laki.

Hanya di momen itu saya melihat wajah bapak. Tanpa bersalaman. Sampai akhirnya saya larut dalam kebahagiaan hari itu. Tak ada kehadiran bapak lagi di hari itu karena pernikahan adat Jawa diwakili oleh kakak saya, termasuk acara sungkeman. Sampai acara selesai, baru saya ingat lagi. Ternyata bapak sudah pulang. Maka itu berarti saya tidak akan bertemu bapak lagi. Atau lebih tepatnya, tidak akan ada alasan lagi untuk bertemu bapak. Saat itu juga saya lepaskan semua dendam, kasihan, beban, sedih, marah, dan rindu untuk bapak.

Karena bapak sudah pulang. Walau sebentar.