LINKS OF ME

Monday, March 19, 2018

Bertemu dan Berpisah dengan Bapak

Long story short, since this post, I found my dad, yes. But I haven't literally met him. Saya akhirnya lamaran tanggal 3 September 2017. Beberapa minggu kemudian, ketika saya dan Dio berkutat dengan urusan kelurahan dan KUA, saya akhirnya hubungi bapak lagi. Meminta bapak datang untuk rapak (semacam meeting) di KUA dengan orang tua pihak wanita dan laki-laki, lengkap. Langsunglah fokus membayangkan bagaimana bapak akan bertemu ibu untuk pertama kalinya sejak entah kapan.

Could it be worse?

Saya atur jadwal se-ciamik mungkin. Rapak H-7 pernikahan, supaya saya dan Dio tidak perlu bolak-balik lagi Surabaya-Jakarta. Bapak agak kesulitan ekonomi karena harga tiket kereta PP Yogyakarta-Surabaya setiap weekend selalu melambung. Saya belikan dia tiket kereta eksekutif dengan bangga. Ini lho, anakmu yang kamu sia-siakan bisa beli tiket kereta eksekutif seharga tiket pesawat dengan uangnya sendiri.

Bapak berangkat H-1 dan menginap di keluarganya. Saya berangkat di pagi harinya dari Jakarta, karena memang berencana langsung ke KUA dari Bandara Juanda. Berarti sudah bisa dipastikan orang tua kami akan tiba lebih dulu di KUA sebelum kedua calon mempelai ini.

Turun dari taksi, abi (ayahnya Dio) membantu kami memindahkan barang ke mobil. Tapi pandanganku langsung tertuju ke sosok lelaki tua yang duduk di sebelah umi (ibunya Dio). Itukah? Tapi sepertinya terlalu tua.

Dan ternyata memang itu. Bapak terlihat jauh lebih tua dari umurnya. Tapi perasaan yang ada saat itu benar-benar aneh. Tidak ada dendam, pun kasihan. Hanya seperti ketika kamu melihat seseorang yang tidak kamu kenali, tapi dia akan menikahkan kamu, jadi kamu harus menyapanya.

Ibu datang terlambat, dengan baju dan senyum terbaiknya. Menunjukkan hasil ketegarannya selama ini. Saya pun menggandengnya bangga. Bapak, inilah dua wanita yang kamu pinggirkan dulu. Dan sekarang kamu yang terpinggirkan dengan sendirinya.

Terlepas dari semuanya, saya sangat menghargai kedua orang tua Dio yang mampu menjaga perasaan saya. Luar biasa. Saya tak menerima saran atau nasihat sedikitpun untuk saya memohon maaf atau bersikap baik ke bapak. Seolah mereka merasa apa yang saya alami selama bertahun-tahun.

Pertemuan itu berakhir di KUA pagi itu juga. Bapak pamit pulang kembali ke Wates, Yogyakarta, dan berjanji akan datang seminggu kemudian untuk menikahkan anak perempuan satu-satunya ini. Bapak sempat memberikan satu dus buah kelapa ke keluarga Dio sebagai oleh-oleh, yang kemudian akhirnya semua bingung, itu untuk apa.

Sebelum pulang, ibu masih sempat menyapa bapak dengan pertanyaan tanpa jawaban, "Kamu kok kurus?" yang lebih seperti rangkuman dari kalimat, "Kamu ga ada ngerawat ya kok kurus begini? Waktu sama aku kamu ga semenyedihkan ini. Memangnya istri sama anak-anakmu mana?"

Hahaha. Respon ibu bertemu bapak ternyata tak seburuk atau sedrama yang saya bayangkan sebelumnya. Tak ada makian atau pelukan. Ternyata kehidupan sudah berjalan terlalu jauh.

Bapak kembali seminggu kemudian untuk menyerahkan kehidupanku ke Dio. Tapi sejak pagi, saya tak bertemu bapak. Saya bertemu bapak di meja akad nikah. Setelah dia menyelesaikan tugasnya menjadi ayahku. Tugas terakhirnya untuk kehidupannya yang lama ini. Tugas satu-satunya karena dua anaknya dari istrinya yang baru semuanya laki-laki.

Hanya di momen itu saya melihat wajah bapak. Tanpa bersalaman. Sampai akhirnya saya larut dalam kebahagiaan hari itu. Tak ada kehadiran bapak lagi di hari itu karena pernikahan adat Jawa diwakili oleh kakak saya, termasuk acara sungkeman. Sampai acara selesai, baru saya ingat lagi. Ternyata bapak sudah pulang. Maka itu berarti saya tidak akan bertemu bapak lagi. Atau lebih tepatnya, tidak akan ada alasan lagi untuk bertemu bapak. Saat itu juga saya lepaskan semua dendam, kasihan, beban, sedih, marah, dan rindu untuk bapak.

Karena bapak sudah pulang. Walau sebentar.